Firman Hidup
Berlangganan gratis

Yusuf: Seorang yang Tekun (PDF) Versi PDF



Yusuf: Seorang yang Tekun



Dalam Yakobus 5:10-11 kita membaca:

Yakobus 5:10-11
“Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan. Sesungguhnya kami menyebut mereka berbahagia, yaitu mereka yang telah bertekun; kamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan.”

Ketekunan atau kesabaran adalah sesuatu yang kita butuhkan, terutama ketika kita berada dalam kesesakan. Firman Allah berkata, “Sabarlah dalam kesesakan” (Roma 12:12). Hari ini, saya akan membahas topik tentang ketekunan, dengan mengambil contoh dari kehidupan Yusuf, anak Yakub.

1. Yusuf: di tanah Kanaan

Dalam Kejadian 37:3-11 kita membaca:

Kejadian 37:3-11
“Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain, sebab Yusuf itulah anaknya yang lahir pada masa tuanya; dan ia menyuruh membuat jubah yang maha indah bagi dia. Setelah dilihat oleh saudara-saudaranya, bahwa ayahnya lebih mengasihi Yusuf dari semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepadanya dan tidak mau menyapanya dengan ramah. Pada suatu kali bermimpilah Yusuf, lalu mimpinya itu diceritakannya kepada saudara-saudaranya; sebab itulah mereka lebih benci lagi kepadanya. Karena katanya kepada mereka: "Coba dengarkan mimpi yang kumimpikan ini: Tampak kita sedang di ladang mengikat berkas-berkas gandum, lalu bangkitlah berkasku dan tegak berdiri; kemudian datanglah berkas-berkas kamu sekalian mengelilingi dan sujud menyembah kepada berkasku itu." Lalu saudara-saudaranya berkata kepadanya: "Apakah engkau ingin menjadi raja atas kami? Apakah engkau ingin berkuasa atas kami?" Jadi makin bencilah mereka kepadanya karena mimpinya dan karena perkataannya itu. Lalu ia memimpikan pula mimpi yang lain, yang diceritakannya kepada saudara-saudaranya. Katanya: "Aku bermimpi pula: Tampak matahari, bulan dan sebelas bintang sujud menyembah kepadaku." Setelah hal ini diceritakannya kepada ayah dan saudara-saudaranya, maka ia ditegor oleh ayahnya: "Mimpi apa mimpimu itu? Masakan aku dan ibumu serta saudara-saudaramu sujud menyembah kepadamu sampai ke tanah?" Maka iri hatilah saudara-saudaranya kepadanya, tetapi ayahnya menyimpan hal itu dalam hatinya.

Yakub lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain. Sikap Yakub ini menimbulkan iri hati dalam hati saudara-saudara Yusuf. Seakan-akan itu belum cukup, Yusuf pun kemudian mendapat dua mimpi, yang di dalamnya ia digambarkan akan berkuasa atas keluarganya, dan tentu saja ini hanya menambah kebencian mereka terhadap Yusuf. Seperti yang akan kita lihat nanti, kebencian mereka akhirnya mengakibatkan Yusuf mendapat banyak masalah.

Mengenai siapa penggagas mimpi-mimpi tersebut, seperti yang akan kita lihat nanti, fakta bahwa Allahlah yang membuat mimpi itu menjadi kenyataan, sekalipun penggenapannya terjadi bertahun-tahun kemudian (Kejadian 42:9), maka jelas bahwa Allah jugalah yang memberikan mimpi-mimpi tersebut kepada Yusuf. Mungkin setelah melihat bagaimana mimpi-mimpi tersebut menimbulkan masalah begitu besar bagi Yusuf, kita jadi bertanya-tanya, mengapa? Mengapa Allah memberi Yusuf mimpi profetik yang baru akan digenapi bertahun-tahun kemudian? Tidakkah Ia tahu bahwa mimpi-mimpi semcam itu hanya akan menyulut kebencian kakak-kakaknya, hingga mereka bahkan tega menjualnya sebagai budak ke Mesir? Tentu saja Dia tahu. Tidak ada hal apa pun yang tidak diketahui oleh Allah. Tidak ada apa pun, tidak ada seorang pun yang dapat mengejutkan Allah. Dia mengetahui segala sesuatu dan Dia dapat melihat jauh ke depan dari apa yang mampu kita lihat. Hal-hal yang Yusuf derita ada tujuannya, sekalipun pada saat penderitaan itu terjadi, sangat sulit bagi Yusuf untuk melihat apa tujuannya. Fakta bahwa kita mungkin mengalami penderitaan dan ketidaknyamanan, tidak selalu berarti kita sedang berjalan di luar rencana dan kehendak Allah. Apa yang berlaku bagi Yusuf, berlaku juga bagi kita, setiap kesukaran pasti ada tujuannya dan saya percaya hal ini berlaku juga dalam segala sesuatu yang Allah izinkan terjadi dalam hidup kita. Firman Allah berkata, “Allah turut bekerja dalam SEGALA SESUATU untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” (Roma 8:28). Bila Anda mengasihi Allah, maka Allah turut bekerja dalam SEGALA SESUATU, untuk mendatangkan kebaikan. Bahkan dalam kesukaran, ya, bahkan dalam penderitaan. Untuk dapat bergerak maju, Anda tidak selalu perlu mengetahui jawaban atas pertanyaan “mengapa” Anda — karena seperti yang kita lihat, pertanyaan Yusuf pun baru terjawab bertahun-tahun kemudian, sementara itu mungkin berbagai pertanyaan lain sudah bertambah di benak Yusuf. Sesungguhnya, yang benar-benar kita butuhkan adalah iman — memercayai rencana Allah, sekalipun pada saat itu kita belum bisa melihat rencana Allah itu digenapi. Sebagaimana 1 Petrus 4:19 katakan kepada kita: “Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia.” Ada saat-saat di mana kita mungkin mengalami penderitaan dan ini terjadi “karena kehendak Allah”. Marilah kita menyerahkan jiwa kita kepada Dia, Pencipta yang setia. Dia benar-benar tahu apa yang Ia lakukan.

2.Dari Kanaan ke Mesir

Kembali ke Yusuf, yang seandainya tidak segera bertanya-tanya apa alasan Allah memberinya mimpi-mimpi itu, ia mungkin akan melakukan hal ini setelah apa yang terjadi berikut ini. Ayahnya mengutusnya untuk menjumpai saudara-saudaranya di tempat di mana mereka biasa memberi makan ternak. Namun mereka…..

Kejadian 37:18-28
“Dari jauh ia telah kelihatan kepada mereka. Tetapi sebelum ia dekat pada mereka, mereka telah bermufakat mencari daya upaya untuk membunuhnya. Kata mereka seorang kepada yang lain: "Lihat, tukang mimpi kita itu datang! Sekarang, marilah kita bunuh dia dan kita lemparkan ke dalam salah satu sumur ini, lalu kita katakan: seekor binatang buas telah menerkamnya. Dan kita akan lihat nanti, bagaimana jadinya mimpinya itu!" Ketika Ruben mendengar hal ini, ia ingin melepaskan Yusuf dari tangan mereka, sebab itu katanya: "Janganlah kita bunuh dia!" Lagi kata Ruben kepada mereka: "Janganlah tumpahkan darah, lemparkanlah dia ke dalam sumur yang ada di padang gurun ini, tetapi janganlah apa-apakan dia" --maksudnya hendak melepaskan Yusuf dari tangan mereka dan membawanya kembali kepada ayahnya. Baru saja Yusuf sampai kepada saudara-saudaranya, merekapun menanggalkan jubah Yusuf, jubah maha indah yang dipakainya itu. Dan mereka membawa dia dan melemparkan dia ke dalam sumur. Sumur itu kosong, tidak berair. Kemudian duduklah mereka untuk makan. Ketika mereka mengangkat muka, kelihatanlah kepada mereka suatu kafilah orang Ismael datang dari Gilead dengan untanya yang membawa damar, balsam dan damar ladan, dalam perjalanannya mengangkut barang-barang itu ke Mesir. Lalu kata Yehuda kepada saudara-saudaranya itu: "Apakah untungnya kalau kita membunuh adik kita itu dan menyembunyikan darahnya? Marilah kita jual dia kepada orang Ismael ini, tetapi janganlah kita apa-apakan dia, karena ia saudara kita, darah daging kita." Dan saudara-saudaranya mendengarkan perkataannya itu. Ketika ada saudagar-saudagar Midian lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak. Lalu Yusuf dibawa mereka ke Mesir.”

Iri hati membuat saudara-saudara Yusuf tega menjual Yusuf ke Mesir sebagai budak. Mari kita berhenti sejenak dan membayangkan diri kita di posisi Yusuf pada saat itu: bayangkan pertanyaan-pertanyaan apa yang mungkin berkecamuk di benaknya. Hanya dalam beberapa saat, hidupnya berubah drastis. Beberapa jam sebelumnya ia berada di rumah bersama dengan ayah yang sangat mengasihinya, dan sekarang ia akan dijual ke Mesir sebagai budak oleh saudara-saudaranya sendiri! Menurut Anda apakah pada saat itu Yusuf mengerti mengapa semua ini terjadi? Saya rasa tidak.

Seperti Yusuf, kita pun mungkin tidak mengerti alasan di balik beberapa hal yang terjadi. Kita mungkin merasa bingung atau sama seperti Ayub merasa berduka. Namun, saya ingin ulangi sekali lagi bahwa “bahwa Allah turut bekerja dalam SEGALA SESUATU untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.” (Roma 8:28). Kita memiliki pandangan — dan pandangan kita sangat terbatas — hanya sebatas masa kini dan masa lampau. Sementara Allah, Ia memiliki pandangan penuh atas segala sesuatu: baik masa lampau, masa kini, maupun masa depan. Pandangan kita terbatas dan tidak sempurna. Pandangan Allah penuh dan lengkap. Kaitan antara pandangan kita dan pandangan Allah adalah iman. Melalui iman, kita menyerahkan pandangan kita yang tidak sempurna kepada pandangan-Nya yang sempurna, dan menolak untuk mengikuti serta bertindak berdasarkan apa yang dikatakan oleh pandangan kita yang tidak sempurna. Sebaliknya, kita harus memercayai pandangan seseorang yang kita percayai, yakni Allah. Iman kita diuji tatkala kita ditantang untuk beralih dari memercayai Allah kepada memercayai apa yang indra kita rasakan. Janganlah mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tak terjawab yang kita punyai yang hanya berdasarkan pada apa yang mata kita lihat. Kesimpulan kita tidak akan benar. Sebaliknya, marilah kita menyerahkan jiwa kita “kepada Pencipta yang setia” (1 Petrus 4:19). Ia selalu tahu apa yang Ia lakukan, meskipun ada banyak hal yang tidak bisa kita mengerti pada saat itu.

3. Yusuf: Di rumah Potifar, kemudian di dalam penjara

Kembali ke Yusuf, ayat 1-6 dari Pasal 39 menceritakan apa yang terjadi selanjutnya:

Kejadian 39:1-6
“Adapun Yusuf telah dibawa ke Mesir; dan Potifar, seorang Mesir, pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja, membeli dia dari tangan orang Ismael yang telah membawa dia ke situ. Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu. Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya, maka Yusuf mendapat kasih tuannya, dan ia boleh melayani dia; kepada Yusuf diberikannya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf. Sejak ia memberikan kuasa dalam rumahnya dan atas segala miliknya kepada Yusuf, TUHAN memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf, sehingga berkat TUHAN ada atas segala miliknya, baik yang di rumah maupun yang di ladang. Segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf, dan dengan bantuan Yusuf ia tidak usah lagi mengatur apa-apa pun selain dari makanannya sendiri.”

TUHAN menyertai Yusuf.” Firman Allah tidak mengatakan bahwa Dia meninggalkan Yusuf selama masa sulitnya dan kemudian Ia kembali. Allah selalu menyertai Yusuf dan Ia menyertainya sejak dari awal. Firman Allah berkata “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibrani 13:5). Yusuf, seperti juga kita, hanya punya akses ke masa lampau dan masa kini. Bila Yusuf melihat keadaan melalui mata jasmaninya, ia pasti merasa sangat sedih. Bahkan, ia mungkin ingin mati saja. Namun, ia tidak melakukannya sekalipun hidup yang ia jalani sangat berbeda dari yang ia harapkan. Sebaliknya, ia melayani orang Mesir yang kemudian memberinya kuasa atas segala miliknya. Meskipun Yusuf tidak mendapat jawaban atas semua pertanyaan yang berkecamuk di hatinya, ia menjalani hidupnya dengan berserah penuh ke dalam tangan Dia yang mengetahui semua jawaban.

Mengenai kehidupan Yusuf di rumah Potifar, tampaknya segala sesuatu mulai berjalan lancar bagi Yusuf. Ia punya pekerjaan yang bagus, yakni menjadi pemegang kuasa atas segala milik salah seorang pengawal raja Firaun. Saya rasa ini adalah jabatan yang sangat istimewa bagi banyak orang Mesir, apalagi bagi orang asing seperti Yusuf. Namun, secara tiba-tiba terjadilah perubahan. Kejadian 39:6-20 menceritakan:

Kejadian 39:6-15, 19-20
“Adapun Yusuf itu manis sikapnya dan elok parasnya. Selang beberapa waktu isteri tuannya memandang Yusuf dengan berahi, lalu katanya: "Marilah tidur dengan aku." Tetapi Yusuf menolak dan berkata kepada isteri tuannya itu: "Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku, bahkan di rumah ini ia tidak lebih besar kuasanya dari padaku, dan tiada yang tidak diserahkannya kepadaku selain dari pada engkau, sebab engkau isterinya. Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?" Walaupun dari hari ke hari perempuan itu membujuk Yusuf, Yusuf tidak mendengarkan bujukannya itu untuk tidur di sisinya dan bersetubuh dengan dia. Pada suatu hari masuklah Yusuf ke dalam rumah untuk melakukan pekerjaannya, sedang dari seisi rumah itu seorangpun tidak ada di rumah. Lalu perempuan itu memegang baju Yusuf sambil berkata: "Marilah tidur dengan aku." Tetapi Yusuf meninggalkan bajunya di tangan perempuan itu dan lari ke luar. Ketika dilihat perempuan itu, bahwa Yusuf meninggalkan bajunya dalam tangannya dan telah lari ke luar, dipanggilnyalah seisi rumah itu, lalu katanya kepada mereka: "Lihat, dibawanya ke mari seorang Ibrani, supaya orang ini dapat mempermainkan kita. Orang ini mendekati aku untuk tidur dengan aku, tetapi aku berteriak-teriak dengan suara keras. Dan ketika didengarnya bahwa aku berteriak sekeras-kerasnya, ditinggalkannyalah bajunya padaku, lalu ia lari ke luar." Baru saja didengar oleh tuannya perkataan yang diceritakan isterinya kepadanya: begini begitulah aku diperlakukan oleh hambamu itu, maka bangkitlah amarahnya. Lalu Yusuf ditangkap oleh tuannya dan dimasukkan ke dalam penjara, tempat tahanan-tahanan raja dikurung. Demikianlah Yusuf dipenjarakan di sana.”

Sekalipun Yusuf sangat baik dalam pekerjaannya, tiba-tiba ia menjadi sasaran isteri Potifar, hingga ia pun dijebloskan ke penjara Firaun. Yusuf tidak mau melanggar apa yang ia ketahui sebagai kehendak Allah. Tatkala ia berkata kepada perempuan itu: “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?", terlihat jelas di sini bahwa Allahlah yang Yusuf takuti dan bukan manusia. Sekalipun hasilnya adalah ia harus dijebloskan ke dalam penjara, Yusuf mengerti bahwa di sana pun Allah tetap menyertainya. Ayat ke 20-23 mengatakan kepada kita:

Kejadian 39:20-23
“Demikianlah Yusuf dipenjarakan di sana. Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu. Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya. Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil.”

Tetapi Tuhan menyertai Yusuf…” dan saya percaya bahwa hal yang sama dapat terjadi dengan Anda, yakni bahwa Allah menyertai Anda. Mungkin seperti Yusuf, ada banyak pertanyaan Anda yang belum terjawab. Mungkin Anda bertanya-tanya dalam hati “di manakah Allah dalam semuanya ini?” Jawaban saya singkat, langsung dan sederhana: Ia menyertai Anda.

Kembali ke Yusuf, dari pemegang kuasa atas rumah Potifar, ia sekarang menjadi pemegang kuasa atas seluruh penjara. Setelah beberapa lama, di antara “para tamunya” terdapat dua orang pegawai Firaun: seorang juru minuman dan seorang juru roti. Kejadian 40:5-8 mengatakan:

Kejadian 40:5-8
“Pada suatu kali bermimpilah mereka keduanya--baik juru minuman maupun juru roti raja Mesir, yang ditahan dalam penjara itu--masing-masing ada mimpinya, pada satu malam juga, dan mimpi masing-masing itu ada artinya sendiri. Ketika pada waktu pagi Yusuf datang kepada mereka, segera dilihatnya, bahwa mereka bersusah hati. Lalu ia bertanya kepada pegawai-pegawai istana Firaun yang ditahan bersama-sama dengan dia dalam rumah tuannya itu: "Mengapakah hari ini mukamu semuram itu?" Jawab mereka kepadanya: "Kami bermimpi, tetapi tidak ada orang yang dapat mengartikannya." Lalu kata Yusuf kepada mereka: “Bukankah Allah yang menerangkan arti mimpi? Ceritakanlah kiranya mimpimu itu kepadaku.”

“Bukankah Allah yang menerangkan arti mimpi?” Benar, Allahlah sumber segala penafsiran, penjelasan, atau jawaban. Setelah mendengar dorongan Yusuf, para tahanan itu pun mulai menceritakan mimpinya kepada Yusuf:

Kejadian 40:9-15
“Kemudian juru minuman itu menceritakan mimpinya kepada Yusuf, katanya: "Dalam mimpiku itu tampak ada pohon anggur di depanku. Pohon anggur itu ada tiga carangnya dan baru saja pohon itu bertunas, bunganya sudah keluar dan tandan-tandannya penuh buah anggur yang ranum. Dan di tanganku ada piala Firaun. Buah anggur itu kuambil, lalu kuperas ke dalam piala Firaun, kemudian kusampaikan piala itu ke tangan Firaun." Kata Yusuf kepadanya: "Beginilah arti mimpi itu: ketiga carang itu artinya tiga hari; dalam tiga hari ini Firaun akan meninggikan engkau dan mengembalikan engkau ke dalam pangkatmu yang dahulu dan engkau akan menyampaikan piala ke tangan Firaun seperti dahulu kala, ketika engkau jadi juru minumannya. Tetapi, ingatlah kepadaku, apabila keadaanmu telah baik nanti, tunjukkanlah terima kasihmu kepadaku dengan menceritakan hal ihwalku kepada Firaun dan tolonglah keluarkan aku dari rumah ini. Sebab aku dicuri diculik begitu saja dari negeri orang Ibrani dan di sinipun aku tidak pernah melakukan apa-apa yang menyebabkan aku layak dimasukkan ke dalam liang tutupan ini."

Mimpi kedua pegawai Firaun ini (kita melewatkan mimpi si juru roti) berasal dari Allah. Itulah sebabnya Dia pun memberikan penafsirannya. Jabatan juru minuman akan dikembalikan kepadanya. Mengetahui hal ini, Yusuf pun meminta agar juru minuman itu kelak akan mengingatnya serta menceritakan peristiwa yang dialaminya kepada Firaun. Kemudian ayat 20-23 menceritakan:

Kejadian 40:20-23
“Dan terjadilah pada hari ketiga, hari kelahiran Firaun, maka Firaun mengadakan perjamuan untuk semua pegawainya. Ia meninggikan kepala juru minuman dan kepala juru roti itu di tengah-tengah para pegawainya: kepala juru minuman itu dikembalikannya ke dalam jabatannya, sehingga ia menyampaikan pula piala ke tangan Firaun; tetapi kepala juru roti itu digantungnya, seperti yang ditakbirkan Yusuf kepada mereka. Tetapi Yusuf tidaklah diingat oleh kepala juru minuman itu, melainkan dilupakannya.”

Terjadilah tepat seperti yang Allah katakan melalui Yusuf. Namun demikian dan sekalipun telah didengarnya permohonan Yusuf, juru minuman itu melupakan Yusuf. Bayangkan apa yang mungkin Yusuf pikirkan pada saat itu. Mungkin ia menanti-nanti dengan penuh harap agar tiga hari itu segera terjadi, dan mimpi itu terlaksana, dan juru minuman itu mengingat namanya. Tetapi, ia justru melupakannya. Mungkin kita berpikir ini bentuk ketidakpedulian atau sikap yang tidak tahu berterima kasih. Namun, “Siapa berfirman, maka semuanya jadi? Bukankah Tuhan yang memerintahkannya?” (Ratapan 3:37). Bagi orang yang mengikuti Tuhan tidak ada apa pun yang terjadi secara kebetulan. Sebaliknya, “Allah turut bekerja dalam SEGALA SESUATU untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.” Dalam SEGALA SESUATU. Bahkan dalam ketidakpedulian seperti ini? Ya. Bahkan dalam keadaan Yusuf yang harus dipenjara tanpa melakukan kesalahan? Ya. “Bahkan dalam keadaan yang sekarang ini saya alami?” Apabila Anda seorang yang mengasihi Allah, maka jawabannya adalah: ya. Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, dan saya tidak percaya apabila keadaan saya atau Anda tidak termasuk dalam “segala sesuatu” ini.

4.Yusuf: di istana Firaun

Waktu berlalu, dan giliran Firaun yang mendapat mimpi dari Tuhan serta berusaha mencari tahu apa arti mimpinya itu. Pada saat itulah, juru minuman raja teringat orang muda Ibrani yang ditemuinya beberapa tahun silam, yang menerangkan arti mimpinya dan mimpi juru roti. Segera, Firaun pun memanggil Yusuf dan melalui Yusuf, Allah memberitahukan arti mimpi itu: Mesir akan mengalami 7 tahun kelimpahan yang diikuti oleh 7 tahun kelaparan. Oleh karena itu, Firaun harus bertindak dengan bijaksana dan menunjuk seseorang yang dapat memastikan bahwa negeri itu akan mampu mempergunakan sumber daya yang berkelimpahan pada tujuh tahun pertama untuk menutupi kekurangan pada tujuh tahun berikutnya. Maka Firaun pun berkata kepada Yusuf:

Kejadian 41:37-44
“Usul itu dipandang baik oleh Firaun dan oleh semua pegawainya. Lalu berkatalah Firaun kepada para pegawainya: "Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?" Kata Firaun kepada Yusuf: "Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau. Engkaulah menjadi kuasa atas istanaku, dan kepada perintahmu seluruh rakyatku akan taat; hanya takhta inilah kelebihanku dari padamu." Selanjutnya Firaun berkata kepada Yusuf: "Dengan ini aku melantik engkau menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir." Sesudah itu Firaun menanggalkan cincin meterainya dari jarinya dan mengenakannya pada jari Yusuf; dipakaikannyalah kepada Yusuf pakaian dari pada kain halus dan digantungkannya kalung emas pada lehernya. Lalu Firaun menyuruh menaikkan Yusuf dalam keretanya yang kedua, dan berserulah orang di hadapan Yusuf: "Hormat!" Demikianlah Yusuf dilantik oleh Firaun menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir. Berkatalah Firaun kepada Yusuf: "Akulah Firaun, tetapi dengan tidak setahumu, seorangpun tidak boleh bergerak di seluruh tanah Mesir.”

Sebagaimana Yusuf tiba-tiba dikirim ke pembuangan, kemudian dijebloskan ke dalam penjara, tiba tiba pula ia diberi kuasa kedua atas seluruh Mesir! Hanya Firaun yang berkedudukan di atasnya! Di bawah kepemimpinan Yusuf, Mesir mampu mengumpulkan cukup banyak selama tujuh tahun kelimpahan untuk menghadapi tujuh tahun kelaparan berikutnya. Bukan itu saja, begitu mendengar ada makanan di Mesir, maka Yakub, ayah Yusuf, mengirim putra-putranya ke Mesir untuk membeli makanan. Kejadian pasal 52-56 menunjukkan betapa indahnya cara Allah mengatur reuni seluruh keluarga Yusuf di Mesir.

5. Yusuf: alasan

Hal-hal yang kita baca mengenai Yusuf, terutama selama masa kesengsaraannya, bukan hanya berlangsung selama satu atau dua bulan saja. Sesungguhnya, masa itu berlangsung selama kira-kira 13 tahun dari pertama kali ia dijual ke Mesir hingga ia berdiri di hadapan Firaun (lihat Kejadian 37:2 dan Kejadian 41:46). Mazmur 105:17-22 memberi kita ringkasan dari apa yang terjadi pada Yusuf, disertai dengan maknanya.

Mazmur 105:17-19
Diutus-Nya[ALLAH]lah seorang mendahului mereka [orang-orang Israel]: Yusuf, yang dijual menjadi budak. Mereka mengimpit kakinya dengan belenggu, lehernya masuk ke dalam besi, sampai saat firman-Nya sudah genap, dan janji TUHAN membenarkannya. Raja menyuruh melepaskannya, penguasa bangsa-bangsa membebaskannya. Dijadikannya dia tuan atas istananya, dan kuasa atas segala harta kepunyaannya, untuk memberikan petunjuk kepada para pembesarnya sekehendak hatinya dan mengajarkan hikmat kepada para tua-tuanya.”

Allahlah yang mengutus Yusuf ke Mesir. “Diutus-Nyalah”. Tepat seperti apa yang Yusuf katakan kepada saudara-saudaranya setelah reuni mereka.

Kejadian 45:7-8
Maka Allah telah menyuruh aku mendahului kamu untuk menjamin kelanjutan keturunanmu di bumi ini dan untuk memelihara hidupmu, sehingga sebagian besar dari padamu tertolong. Jadi bukanlah kamu yang menyuruh aku ke sini, tetapi Allah

dan juga Kejadian 50:19-20
“Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: "Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.”

Kembali ke Mazmur, Allah telah menetapkan satu waktu, yakni “saat firman-Nya [mengenai Yusuf] sudah genap.” Sebelum itu, “janji Tuhan membenarkannya.” Jadi, semua penderitaan yang Yusuf alami bukan terjadi sebagai akibat “nasib malang” atau keadaan yang buruk, melainkan semua itu adalah bagian dari langkah yang Allah atur sesuai rencana-Nya bagi Yusuf. Semua itu adalah ujian-ujian yang telah Allah rencanakan untuk membangun di dalam diri Yusuf apa yang akan diperlukannya untuk menghadapi langkah selanjutnya. Sebagaimana Roma 5:3-5 katakan mengenai kesengsaraan:

Roma 5:3-5
“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”

dan Yakobus 1:2-4
“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun.”

juga Ibrani 10:36
Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.”

Kita membutuhkan ketekunan untuk melakukan kehendak Allah, sekalipun kita mungkin tidak menyukainya, ketekunan terbentuk melalui ujian. Tidak ada jalan pintas di sini. Yusuf tidak bisa langsung masuk ke langkah ke-3 [menjadi pemegang kekuasaan kedua di Mesir dan menjadi alat untuk menyelamatkan orang Israel] tanpa terlebih dahulu melalui langkah ke-1 [dibenci saudara-saudaranya dan dijual sebagai budak ke Mesir hingga bekerja di rumah Potifar] dan langkah ke-2 [dengan sewenang-wenang dijebloskan ke dalam penjara]. Sebagaimana Mazmur 105 katakan kepada kita, “mereka mengimpit kakinya dengan belenggu, lehernya masuk ke dalam besi, sampai saat firman-Nya sudah genap.” Sejak semula, tujuan Allah bagi Yusuf adalah langkah yang ke-3. Namun Ia tidak menggenapinya sebelum langkah ke-1 dan ke-2 terjadi, atau sebelum ujian diberikan. Banyak dari kita ingin masuk ke langkah ke-3 tanpa melalui langkah ke-1 dan ke-2. Kita menginginkan kebangkitan tanpa penyaliban. Kita ingin menjadi murid tanpa memikul salib. Itu mustahil terjadi. Bila Anak Allah, Tuhan Yesus Kristus, “belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya” (Ibrani 5:8), mungkinkah menurut Anda kita dapat belajar melalui cara yang lain? Bila ya, maka kita sedang menipu diri kita sendiri.

Ujian adalah langkah, yang hanya akan membawa kita lebih tinggi dan ujian itu direncanakan oleh Allah untuk kebaikan kita. Sebagaimana bagi Yusuf, ujian adalah alat yang Allah rencanakan untuk membangun di dalam diri kita apa yang kita perlukan untuk langkah selanjutnya yang Allah ingin agar kita lakukan. Allah punya rencana dan tujuan dalam hidup kita dan Ia ingin agar kita memenuhi tujuan ini. Maukah kita berserah kepada-Nya? Tak seorang pun dapat masuk ke langkah yang ke-3, tanpa terlebih dahulu melalui langkah ke-1 dan ke-2. Tak seorang pun dapat belajar ketaatan tanpa terlebih dahulu mengalami penderitaan. Tak seorang pun dapat menghasilkan ketekunan tanpa mengalami kesengsaraan. Tak seorang pun dapat mencapai tujuan yang Allah tentukan baginya tanpa mengizinkan Allah membangun (dan membuang)—melalui berbagai ujian— apa yang Ia anggap perlu.

6. Kesimpulan

Saya harap pembahasan di atas dapat menjelaskan kepada kita bahwa ujian bukanlah sesuatu yang direncanakan untuk merugikan kita. Sebaliknya, bagi orang-orang yang mengasihi Dia “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan” dan tentu saja, termasuk di dalamnya ujian dan kesengsaraan.

Oleh karena itu, apabila kita mengalami satu masa di mana seakan-akan pertanyaan kita terlalu banyak dan jawaban terlalu sedikit, jangan berputus asa. Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hati. Ia tahu pasti apa yang sedang Ia lakukan dan Ia melakukannya untuk kebaikan dan untuk kemuliaan-Nya.

Anastasios Kioulachoglou