Firman Hidup
Berlangganan gratis

Yunus (PDF) Versi PDF



Yunus



Di antara kitab Obaja dan Mikha, yang disebut sebagai “nabi-nabi kecil” dalam Perjanjian Lama, terdapat sebuah kitab yang sangat pendek, namun dipenuhi oleh pengajaran, yaitu kitab Yunus. Dalam artikel ini saya akan membahas tentang kitab ini.

1. “Datanglah firman Tuhan kepada Yunus…..”

Yunus 1:1-3
“Datanglah firman TUHAN kepada Yunus bin Amitai, demikian: "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku." Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN.

Tuhan memanggil Yunus dan memberinya sebuah misi yang spesifik, yaitu pergi ke Niniwe dan berseru terhadap orang-orang Niniwe. Namun, begitu mendengar panggilan itu, ia pergi ke arah sebaliknya, yaitu ke Tarsis. Di dalam pasal 4 kita akan mendapati Yunus berusaha membenarkan perilakunya tersebut dengan mengatakan hal berikut:

Yunus 4:2
“Dan berdoalah ia kepada TUHAN [setelah melihat bahwa pada akhirnya Tuhan tidak menghancurkan kota Niniwe], katanya: "Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya.”

Meskipun Yunus mengetahui kehendak Allah, ia tidak melakukannya. Karena ia tidak percaya bahwa Allah akan menghancurkan Niniwe, ia pun pergi ke arah yang lain. Sebagaimana Yunus, kita pun seringkali melakukan hal yang sama: ketika kehendak Tuhan tidak sesuai dengan logika, pikiran dan rencana-rencana kita, kita pun menolak untuk melakukannya. Bahkan kita kemudian melemparkan tanggung jawab kepada Tuhan dengan berkata: ‘Semuanya akan baik-baik saja, jika Tuhan memberi saya ini, atau jika Dia melakukan itu, atau jika Dia tidak menolak pilihan saya.” Pada dasarnya, kita ingin mengatakan kepada-Nya, “Ini salah Tuhan dan bukan salah saya”.

Jadi, Yunus pun pergi. Ia pergi ke Yafo dan di sana ia menemukan sebuah kapal yang membawanya ke Tarsis. Hal yang sama seringkali kita lakukan: ketika kita merasa tidak senang dengan apa yang Allah katakan, kita pun mengajukan rencana-rencana alternatif kita. Kita berpikir kapal yang kita tumpangi akan membawa kita ke tanah yang menjanjikan. Tetapi…..

2. “Tetapi Tuhan…..”

Demikianlah Yunus berada di tengah samudra yang akan membawanya ke Tarsis. Namun tak lama kemudian:

Yunus 1:4-6
Tetapi TUHAN menurunkan angin ribut ke laut, lalu terjadilah badai besar, sehingga kapal itu hampir-hampir terpukul hancur. Awak kapal menjadi takut, masing-masing berteriak-teriak kepada allahnya, dan mereka membuang ke dalam laut segala muatan kapal itu untuk meringankannya. Tetapi Yunus telah turun ke dalam ruang kapal yang paling bawah dan berbaring di situ, lalu tertidur dengan nyenyak. Datanglah nakhoda mendapatkannya sambil berkata: "Bagaimana mungkin engkau tidur begitu nyenyak? Bangunlah, berserulah kepada Allahmu, barangkali Allah itu akan mengindahkan kita, sehingga kita tidak binasa.”

Tuhanlah yang menimbulkan badai yang besar itu. Jika Anda sedang melarikan diri ke Tarsis, ingatlah: badai besar mungkin akan datang. Sebagaimana yang akan kita lihat, Tuhan tidak menurunkan badai itu untuk menghukum Yunus, tetapi untuk membuatnya kembali. Tuhan tidak bersikap acuh tak acuh ketika kita mengambil jalan yang salah. Dia mengoreksi kita, sekalipun koreksi-Nya itu dapat berarti badai dan rasa sakit. Sebagaimana Ibrani 12:11 katakan kepada kita:

“Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.”

Kembali ke Yunus, meskipun badai sedang mengganas, teman kita ini malah turun ke dalam ruang kapal yang paling bawah, lalu tertidur dengan nyenyak, pertama tertidur secara rohani, kemudian tertidur secara jasmani. Para awak kapal berteriak-teriak kepada allah mereka, tetapi Yunus, seorang nabi dari Allah yang sejati, malahan tertidur nyenyak! Nakhoda kapal benar-benar tidak bisa menolerir perilakunya. “Bangun! Semua orang di kapal ini sedang berdoa, bagaimana mungkin engkau tidur begitu nyenyak? Bangunlah, berserulah kepada Allahmu juga!” Tetapi, sekalipun semua orang sudah berdoa, badai itu tidak juga mereda. Kemudian:

Yunus 1:7
“Lalu berkatalah mereka satu sama lain: "Marilah kita buang undi, supaya kita mengetahui, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini." Mereka membuang undi dan Yunuslah yang kena undi.”

Apa yang berawal dari sebuah perjalanan biasa, akan segera berakhir menjadi malapetaka besar bagi Yunus. Pertama badai, dan sekarang undian. Tuhan membuat undian itu jatuh kepada Yunus. Kita tidak akan memperoleh perjalanan yang damai dan menyenangkan apabila kita pergi ke arah yang berlawanan dengan kehendak Allah. Kita tidak dapat tidur dengan damai di ruang terbawah dari kapal kita, apabila kita melarikan diri ke arah sebaliknya dari yang Allah inginkan. Badai akan muncul dan dunia ini – para awak kapal – akan datang untuk membangunkan kita. “Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman tidak menimpa kita. Tetapi kalau kita menerima hukuman dari Tuhan, kita dididik, supaya kita tidak akan dihukum bersama-sama dengan dunia” dikatakan oleh Firman Allah dalam 1 Korintus 11:31-32.

Lalu, undian itu pun jatuh kepada Yunus, dan para awak malang yang sangat menderita itu kemudian menanyai Yunus:

Yunus 1:8-12
“Berkatalah mereka kepadanya: "Beritahukan kepada kami, karena siapa kita ditimpa oleh malapetaka ini. Apa pekerjaanmu dan dari mana engkau datang, apa negerimu dan dari bangsa manakah engkau?" Sahutnya kepada mereka: "Aku seorang Ibrani; aku takut akan TUHAN, Allah yang empunya langit, yang telah menjadikan lautan dan daratan." Orang-orang itu menjadi sangat takut, lalu berkata kepadanya: "Apa yang telah kauperbuat?" --sebab orang-orang itu mengetahui, bahwa ia melarikan diri, jauh dari hadapan TUHAN. Hal itu telah diberitahukannya kepada mereka. Bertanyalah mereka: "Akan kami apakan engkau, supaya laut menjadi reda dan tidak menyerang kami lagi, sebab laut semakin bergelora." Sahutnya kepada mereka: "Angkatlah aku, campakkanlah aku ke dalam laut, maka laut akan menjadi reda dan tidak menyerang kamu lagi. Sebab aku tahu, bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu."

“Sebab aku tahu, bahwa karena akulah badai besar ini menyerang kamu”. Akhirnya, Yunus mengaku, dan mau memikul tanggung jawab atas apa yang terjadi. “Akulah yang bertanggung jawab atas terjadinya masalah ini.” Ini adalah langkah pertama yang sangat penting. Ketika kita berlari menjauhi kehendak Allah, lalu badai menyerang, tundukkanlah kepala kita dan pikullah tanggung jawab kita. Bukan Allah atau kehendak-Nya yang jadi masalah. Bukan cuaca atau kelemahan kita. Satu-satunya yang bertanggung jawab adalah ketidaktaatan kita. Yunus mengakuinya. “Saya minta maaf. Sayalah yang bertanggung jawab. Lemparkanlah saya ke laut, dan laut pun akan tenang.” Dia tidak lagi bersembunyi di ruang kapal yang paling bawah. Sebaliknya, ia melakukan apa yang seharusnya ia lakukan dari sejak awal, yakni memikul tanggung jawabnya. Ketidaktaatan Yunus memengaruhi banyak orang: semua awak kapal menjadi korban ketidaktaatannya. Ketidaktaatan kita pun dapat memengaruhi banyak orang di sekitar kita. Orang-orang di sekitar kita harus turut melawan ombak besar yang timbul akibat ketidaktaatan kita. Marilah kita meminta maaf kepada mereka. Biarlah kita mau memikul tanggung jawab atas tindakan-tindakan kita.

Jadi teman kita ini mau mengakui kesalahannya. Para awak kapal tidak langsung melemparkan dia ke laut. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk membawa kapal kembali ke darat tetapi tidak berhasil. Lalu, setelah berdoa kepada Tuhan, mereka akhirnya melemparkan Yunus ke laut.

Yunus 1:13-16
“Lalu berdayunglah orang-orang itu dengan sekuat tenaga untuk membawa kapal itu kembali ke darat, tetapi mereka tidak sanggup, sebab laut semakin bergelora menyerang mereka. Lalu berserulah mereka kepada TUHAN, katanya: "Ya TUHAN, janganlah kiranya Engkau biarkan kami binasa karena nyawa orang ini dan janganlah Engkau tanggungkan kepada kami darah orang yang tidak bersalah, sebab Engkau, TUHAN, telah berbuat seperti yang Kaukehendaki." Kemudian mereka mengangkat Yunus, lalu mencampakkannya ke dalam laut, dan laut berhenti mengamuk. Orang-orang itu menjadi sangat takut kepada TUHAN, lalu mempersembahkan korban sembelihan bagi TUHAN serta mengikrarkan nazar.”

Siapa yang menyangka? Matahari mungkin bersinar cerah ketika Yunus memulai perjalanannya ke Yafo. Seharusnya perjalanan ke Tarsis menyenangkan, atau setidaknya dapat membuat Yunus menjauhi Niniwe. Siapa menyangka perjalanan itu berakhir bagi Yunus dengan terombang-ambingnya dirinya di tengah samudra? Namun, begitu Yunus dicampakkan ke laut, Tuhan segera menenangkan badai dan memulai rencana penyelamatan-Nya atas Yunus. Badai yang timbul karena ketidaktaatan kita mungkin sangat ganas. Namun kita harus meninggalkan kapal yang membawa kita berlayar menjauhi Tuhan. Untuk melakukan hal ini Anda perlu bertobat. Dan, sekalipun kita berada di tengah lautan. Allah akan menyelamatkan kita. Dia akan memerintahkan agar badai itu reda dan Ia akan menyelamatkan kita. Tujuan badai bukan untuk membinasakan kita tetapi untuk membuat kita kembali dan bertobat. Dalam kasus Yunus, inilah yang Tuhan lakukan:

Yunus 2:1-6
“Berdoalah Yunus kepada TUHAN, Allahnya, dari dalam perut ikan itu, katanya: "Dalam kesusahanku aku berseru kepada TUHAN, dan Ia menjawab aku, dari tengah-tengah dunia orang mati aku berteriak, dan Kaudengarkan suaraku. Telah Kaulemparkan aku ke tempat yang dalam, ke pusat lautan, lalu aku terangkum oleh arus air; segala gelora dan gelombang-Mu melingkupi aku. Dan aku berkata: telah terusir aku dari hadapan mata-Mu. Mungkinkah aku memandang lagi bait-Mu yang kudus? Segala air telah mengepung aku, mengancam nyawaku; samudera raya merangkum aku; lumut lautan membelit kepalaku di dasar gunung-gunung. Aku tenggelam ke dasar bumi; pintunya terpalang di belakangku untuk selama-lamanya. Ketika itulah Engkau naikkan nyawaku dari dalam liang kubur, ya TUHAN, Allahku.”

Tatkala berada di dalam kapal, sementara para penyembah berhala berdoa kepada allah mereka, Yunus tidur. Tetapi Yunus tidak melakukannya sekarang. Sekarang, ia berdoa dengan sungguh-sungguh, memastikan bahwa Tuhan mendengar doanya. Sekarang, ia tahu bahwa Allahlah yang memegang kendali. Lalu, dalam doanya Yunus berkata:

Yunus 2:7-9
“Ketika jiwaku letih lesu di dalam aku, teringatlah aku kepada TUHAN, dan sampailah doaku kepada-Mu, ke dalam bait-Mu yang kudus. Mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia. Tetapi aku, dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu; apa yang kunazarkan akan kubayar. Keselamatan adalah dari TUHAN!"

Yunus berada di perut ikan selama tiga hari tiga malam, jangka waktu yang sama ketika Yesus “tinggal di dalam rahim bumi” (Matius 12:40). Sama seperti Tuhan yang “daging-Nya tidak mengalami kebinasaan” (Kisah Para Rasul 2:31), demikian pula Yunus, nyawanya dinaikkan “dari dalam liang kubur” (Yunus 2:6). Sama seperti Tuhan yang mati dan bangkit dari kematian setelah tiga hari tiga malam, saya percaya demikian pula yang terjadi dengan Yunus: ia mati dan setelah 3 hari 3 malam ia hidup kembali – nyawanya dinaikkan “dari dalam liang kubur” (Yunus 2:6), “dari tengah-tengah dunia orang mati” (Yunus 2:2) – dan itu menjadi sebuah tanda (“tanda nabi Yunus” (Matius 12:39)) mengenai apa yang akan terjadi dengan Kristus.

Yunus 2:10
“Lalu berfirmanlah TUHAN kepada ikan itu, dan ikan itupun memuntahkan Yunus ke darat.”

Akhirnya Yunus kembali ke tempat ia memulai. Ketidaktaatannya menyebabkan ia harus mengalami badai yang sangat ganas. Ketidaktaatan kita pun mungkin akan menyebabkan timbulnya badai. Namun, ketika kita bertobat, kita akan belajar pelajaran yang baik, seperti halnya Yunus: untuk kedua kalinya Allah memerintahkan kepadanya untuk pergi ke Niniwe, ia tidak lagi berubah arah. Badai yang mungkin kita alami tidak terjadi tanpa mendatangkan kebaikan. Ketika terjadi pertobatan dari ketidaktaatan kita, hasil dari badai adalah kita akan menjadi orang-orang yang berbeda: kita tidak lagi ingin pergi ke Tarsis. Kita tidak mau lagi memberontak terhadap Tuhan karena tidak senang dengan kehendak-Nya atau karena kehendaknya itu tidak sesuai dengan harapan kita. Sebaliknya kita akan menundukkan kepala dan berkata, “Ya Tuhan, Kehendak-Mulah yang jadi. Engkau adalah Tuhanku.”

Lalu, ikan itu memuntahkan Yunus ke darat. Bayangkan betapa lelahnya Yunus. Biasanya setelah mengalami badai seperti itu, kita akan merasa: kelelahan, kepayahan, dan tidak sanggup melakukan apa pun lagi. Tetapi, meskipun terdengar aneh, saya percaya bahwa sesungguhnya inilah poin di mana kita seharusnya berada – meskipun bukan poin di mana kita tetap tinggal. Manusia lama kita telah dihancurkan. Kita tidak dapat lagi berkata: “Ini yang saya pikirkan, ini yang saya inginkan…..Ini keputusan saya. Saya akan pergi ke Tarsis”. Yunus yang lama telah hancur. Kesombongan dan keegoisan yang menguasainya telah dihancurkan. Dan pada tahap inilah Tuhan mendapati Yunus untuk kedua kalinya: setelah melewati badai, setelah rencana ketidaktaatannya hancur, dan Yunus pun siap memenuhi rencana Tuhan.

3. Yunus: kedua kalinya

Yunus 3:1-3
“Datanglah firman TUHAN kepada Yunus untuk kedua kalinya, demikian: “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu." Bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah.”

Ketidaktaatan menimbulkan badai, badai menimbulkan pertobatan, yang kemudian diikuti oleh ketaatan. Akhirnya Yunus pun pergi ke Niniwe dan di sana ia menyampaikan apa yang Tuhan firmankan kepadanya:

Yunus 3:3-10
“Bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah. Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya. Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru: "Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan." Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung. Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu. Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: "Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air. Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya. Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa." Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.”

Tujuan nubuat Yunus bukan sekadar menubuatkan kejatuhan Niniwe. Allah ingin Yunus menyampaikan pesan ini sebagai PERINGATAN bagi orang-orang Niniwe mengenai apa yang akan terjadi apabila mereka tidak bertobat. Jika mereka tidak bertobat, dalam empat puluh hari mereka akan dihancurkan. Setelah mendengar seruan itu, orang-orang Niniwe pun “percaya kepada Allah”. Mereka segera mengumumkan puasa, mereka mengenakan kain kabung, dan berdoa memohon agar Allah mau mengubah keputusan-Nya. “Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.” (Yunus 3:10). Saya membayangkan pasti semua orang merasa senang dengan apa yang terjadi. Orang-orang Niniwe bertobat! Semuanya gembira…….kecuali Yunus:

Yunus 4:1
“Tetapi hal itu [bahwa Allah tidak jadi menghancurkan Niniwe] sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia.”

Alasan Yunus merasa sangat kecewa adalah karena ia tidak melihat nubuat yang diucapkannya digenapi. Seandainya Niniwe jadi dihancurkan tetapi nubuatnya digenapi, ia mungkin tidak akan merasa kecewa! Ia merasa tidak puas karena setelah melakukan apa yang Allah perintahkan, yakni untuk pergi dan berseru kepada Niniwe, ia pun ingin mengambil bagian dalam apa yang akan Allah lakukan setelah pemberitaannya. Kembali kepada kita: apakah kita sudah merasa puas dengan melakukan apa yang Allah perintahkan untuk kita lakukan atau kita menginginkan yang lebih dari itu, kita pun ingin mengambil bagian dalam apa yang Allah kerjakan, ingin ambil bagian dalam apa yang ALLAH akan lakukan setelah kita melakukan tugas kita? Apa yang akan Allah lakukan sama sekali bukan tugas kita. Tugas kita hanyalah melakukan apa yang Allah perintahkan untuk kita lakukan. Bila kita menganggap tugas Allah sebagai tugas kita, maka akan timbul masalah: jika hasilnya tidak sesuai dengan yang KITA rencanakan, kita akan kecewa, bahkan marah kepada Tuhan. “Aku marah kepada-Mu. Aku telah melakukan apa yang Engkau perintahkan tetapi tidak terjadi apa-apa. Aku sudah melakukan begitu banyak bagi-Mu – aku sudah pergi ke Niniwe – tetapi Engkau membuatku kecewa. Lebih baik aku mati saja.” Seperti itulah perilaku Yunus dan seperti itulah juga perilaku kita seringkali.

Yunus 4:2-3
“Dan berdoalah ia kepada TUHAN, katanya: "Ya TUHAN, bukankah telah kukatakan itu, ketika aku masih di negeriku? Itulah sebabnya, maka aku dahulu melarikan diri ke Tarsis, sebab aku tahu, bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya. Jadi sekarang, ya TUHAN, cabutlah kiranya nyawaku, karena lebih baik aku mati dari pada hidup.”

Seseorang yang taat sepenuhnya pada kehendak Allah tidak boleh memiliki rencana atau agenda pribadi dalam apa yang menjadi tugas Allah. Ia melakukan apa yang Allah perintahkan dan merasa puas dengan itu. Tetapi, Yunus tidak bersikap demikian. Apa yang Allah lakukan mengenai sikap Yunus ini? Ayat 4-9 memberitahukannya kepada kita:

Yunus 4:4-9
“Tetapi firman TUHAN: "Layakkah engkau marah?" Yunus telah keluar meninggalkan kota itu dan tinggal di sebelah timurnya. Ia mendirikan di situ sebuah pondok dan ia duduk di bawah naungannya menantikan apa yang akan terjadi atas kota itu. Lalu atas penentuan TUHAN Allah tumbuhlah sebatang pohon jarak melampaui kepala Yunus untuk menaunginya, agar ia terhibur dari pada kekesalan hatinya. Yunus sangat bersukacita karena pohon jarak itu. Tetapi keesokan harinya, ketika fajar menyingsing, atas penentuan Allah datanglah seekor ulat, yang menggerek pohon jarak itu, sehingga layu. Segera sesudah matahari terbit, maka atas penentuan Allah bertiuplah angin timur yang panas terik, sehingga sinar matahari menyakiti kepala Yunus, lalu rebahlah ia lesu dan berharap supaya mati, katanya: "Lebih baiklah aku mati dari pada hidup." Tetapi berfirmanlah Allah kepada Yunus: "Layakkah engkau marah karena pohon jarak itu?" Jawabnya: "Selayaknyalah aku marah sampai mati."

Kita melihat tiga kali Allah memerintahkan binatang, tanaman dan angin. Kembali Yunus berada dalam ketidaktaatannya. Jikalau manusia lama kita belum hancur, kita ingin Allah yang meminta maaf kepada kita ketika rencana-rencana kita gagal. Iman kita dan sikap kita ditentukan oleh angin dan…..tanaman. Ketika manusia lama kita masih berdiri, kita pun ingin meninggikan diri kita melawan Allah, dengan mengeluh, atau bahkan marah kepada-Nya. Tetapi Allah tidak meninggalkan Yunus, sebagaimana Ia pun tidak meninggalkan kita.

Yunus 4:10-11
“Lalu Allah berfirman: "Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?"

Kebanyakan yang Yunus pikirkan adalah dirinya sendiri: nubuatanNYA, pohon tempatNYA berteduh, kepalaNYA. Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginannya, ia pun marah. Ketika kita terlalu mementingkan diri sendiri, kita tidak akan mampu memahami rencana Allah dalam totalitasnya, karena kita akan selalu menempatkan diri kita sendiri serta kesenangan kita sebagai fokus utama. Hanya setelah manusia lama kita hancur, kita akan mampu memahami kebesaran Allah serta apa yang sesungguh-Nya Ia lakukan. Bila tidak, kita akan menganggap Allah sebagai pelayan kita, dan bukan kita yang menjadi pelayan-Nya.

Kitab Yunus menunjukkan apa yang Allah lakukan dengan ketidaktaatan nabi ini. Masalah Yunus adalah masalah yang mungkin kita pun memilikinya: ketidaktaatan, keegoisan, kemarahan, dan rencana-rencana pribadi yang berkembang terlepas dari kehendak Allah. Semua ini adalah produk dari manusia lama, yang perlu dihancurkan apabila kita ingin melihat manusia baru kita dilepaskan. Sungguh menghibur mengetahui bahwa Allah masih mau memakai Yunus sekalipun ia memiliki banyak kelemahan. Betapa menghibur karena Dia tidak pernah meninggalkan kita ketika kita berada di dalam jalan-jalan kita sendiri, sebaliknya sebagai Bapa, Ia datang untuk memindahkan kita dari arah kita yang salah, sekalipun untuk itu Ia perlu untuk memerintahkan badai datang dan menerjang kehidupan kita.

Ibrani 12:5-13
“Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak." Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya. Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh.”

Anastasios Kioulachoglou