Firman Hidup
Berlangganan gratis

“Ujilah Dirimu Sendiri, Apakah Kamu Tegak Di Dalam Iman” (PDF) Versi PDF



“Ujilah Dirimu Sendiri, Apakah Kamu Tegak Di Dalam Iman”



Baru-baru ini saya merenungkan tentang gambaran yang diberikan dalam 1 Timotius 1:18. Di sana, kita mendapati Paulus memberikan arahannya kepada Timotius:

I Timotius 1:18-20
“Tugas ini kuberikan kepadamu, Timotius anakku, sesuai dengan apa yang telah dinubuatkan tentang dirimu, supaya dikuatkan oleh nubuat itu engkau memperjuangkan perjuangan yang baik dengan iman dan hati nurani yang murni. Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka, di antaranya Himeneus dan Aleksander, yang telah kuserahkan kepada Iblis, supaya jera mereka menghujat.”

Beberapa orang, di antaranya Himeneus dan Aleksander, telah kandas imannya. Orang-orang ini bukan orang tak percaya. Mengalami iman yang kandas berarti mereka sebelumnya pernah memiliki iman. Sebagaimana Paulus katakan kembali, masih mengenai Himeneus dan Filetus:

2 Timotius 2:17-18
“Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker. Di antara mereka termasuk Himeneus dan Filetus, yang telah menyimpang dari kebenaran dengan mengajarkan bahwa kebangkitan kita telah berlangsung dan dengan demikian merusak iman sebagian orang.”

Seseorang dikatakan menyimpang ketika ia tadinya ada di jalan tetapi kemudian menyimpang dari jalan itu. Hal ini juga terjadi pada Himeneus, Aleksander and Filetus: mereka menyimpang dari kebenaran; iman mereka kandas. Dan, sayangnya bukan hanya mereka yang mengalaminya. Kasus yang mereka alami, sekalipun merupakan contoh yang harus kita hindari, dapat mengajarkan banyak hal kepada kita.

Apakah memelihara iman adalah sesuatu yang dijamin terjadi?

 

Ketika pertama kali mengenal Tuhan, saya percaya bahwa jawabannya adalah ya, memelihara iman adalah sesuatu yang diberikan atau dianugerahkan, dan tidak mungkin hilang. Namun, selama beberapa tahun, saya melihat bahwa pemikiran ini tidak benar. Memelihara iman BUKANLAH sesuatu yang diberikan. Karena jika demikian, tentu tidak akan ada berbagai peringatan di dalam Firman Tuhan yang kita baca sekarang, juga Firman Tuhan tidak akan berbicara tentang orang-orang yang imannya kandas. Saya percaya bahwa kehidupan kristiani dan iman bukanlah sesuatu yang langsung selesai begitu dilakukannya pengakuan iman Roma 10:9 (“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan”). Sebaliknya, memelihara iman adalah sesuatu yang mengandung unsur durasi, sebuah perjalanan yang harus kita jalani selama kita hidup. Tentu saja, dimulainya adalah ketika kita melakukan pengakuan iman Roma 10:9, namun tidak berakhir di sana.

A. 2 Timotius 4:6-9

Dalam 2 Timotius, di masa terakhir hidupnya, Paulus memberi Timotius beberapa nasihat. Di dalam ayat 6-9, ia memberikan catatan singkat tentang hidupnya:

2 Timotius 4:6-9
“Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.”

Jika iman adalah sesuatu yang dimulai dan diakhiri pada hari Paulus percaya, ia tidak akan berkata: “AKU TELAH MEMELIHARA IMAN”. Iman memang merupakan sesuatu yang perlu untuk DIPELIHARA. Sementara Paulus memelihara iman, Himeneus dan Aleksander kandas imannya.

Perhatikan juga bahwa dalam catatan mengenai kehidupannya, Paulus tidak berkata: “Aku telah mendirikan banyak jemaat, aku telah menulis banyak buku, aku telah berkhotbah kepada banyak orang, aku telah memimpin ribuan orang menjadi orang percaya”. Di akhir hidupnya, catatan Paulus tentang kehidupannya sangatlah sederhana: Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.

Kehidupan kristiani adalah sebuah perjuangan, sebuah perlombaan, sebuah jalan yang kita harus dijalani. Garis startnya adalah pada hari kita percaya kepada Tuhan, namun perjuangan itu tidak berakhir di garis start. Hanya pada akhir hidupnya, dan setelah ia terlebih dahulu mengatakan bahwa “darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan”, hanya setelah itulah, Paulus berbicara tentang iman dan perlombaan dengan menggunakan bentuk kata kerja lampau. Hanya setelah itu, dan tidak lama sebelum kehidupannya di dunia berakhir, Paulus menuliskan kesimpulan tentang hidup imannya.

Bertolak belakang dengan Paulus, banyak orang kristiani percaya bahwa perlombaan iman berakhir pada hari mereka percaya, dan bahwa iman mereka tidak pernah berada dalam bahaya. Paulus jelas tidak setuju dengan mereka. Mungkin ini juga yang menjadi penyebab mengapa banyak dari antara kita tidak dapat memahaminya ketika dalam Filipi 3:12-14 ia berkata:

Filipi 3:12-14, 17
“Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena akupun telah ditangkap oleh Kristus Yesus. Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus……..Saudara-saudara, ikutilah teladanku”.

Bertolak belakang dengan Paulus, banyak saudara yang menganggap diri mereka telah memperoleh hadiah. Beberapa dari kita berpikir, “Karena aku sudah percaya dan diselamatkan, aku dapat hidup semauku. Aku toh telah mendapatkan hadiahku”. Bagi Paulus, kehidupan kristiani sama sekali bukan seperti ini. Kehidupan kristiani bukan sesuatu yang statis, bukan “sebuah tombol stop di mana kita berhenti sejenak untuk memperoleh keselamatan, lalu setelah itu melanjutkan hidup seperti biasa”. Sebaliknya, kehidupan kristiani adalah sesuatu yang dinamis, sebuah perlombaan, sebuah pertandingan yang wajib kita lakukan. Sebagaimana ia katakan kembali dalam Ibrani 12: 1-2:

Ibrani 12:1-2
marilah kita….berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.”

Kehidupan kristiani memang merupakan sebuah perlombaan, sebuah gelanggang pertandingan di mana kita turut berlari dengan mata yang tertuju kepada Yesus. Iman adalah sesuatu yang perlu kita pelihara. “Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman”, kata Paulus dalam 2 Korintus 13:5. Apakah kita tetap tegak di dalam iman kita, ataukah kita menghidupi iman kita berdasarkan cara pandang yang menyimpang yang membenarkan dosa…oleh karena kita sekarang berada di bawah “kasih karunia”? Mari kita menguji diri kita sendiri! Sebagaimana Paulus katakan kembali:

I Korintus 9:24-27
“Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu LARILAH begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.”

B. Perumpamaan tentang penabur

Perumpamaan ini sangat terkenal bagi kebanyakan orang. Di sana Yesus berbicara tentang 4 kategori manusia dan efek dari benih Firman Tuhan bagi keempat kategori tersebut. Dalam Lukas 8:11-15 kita membaca:

Lukas 8:11-15
“Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah Firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil Firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang, yang setelah mendengar Firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang yang telah mendengar Firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekuatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar Firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan."

Kategori kedua dan ketiga dalam perumpamaan ini pernah menjadi pertanyaan bagi saya. Kedua kategori ini tidak menolak Firman, setidaknya mereka tidak menolaknya secara langsung. Sebaliknya, benih itu tumbuh, namun tidak menghasilkan buah. Sebagaimana dikatakan dengan jelas oleh Tuhan, bahwa kategori kedua: “percaya” tetapi hanya “sebentar saja”. Meskipun benih Firman bertumbuh pada ketiga kategori, hanya kategori terakhir yang mampu menghasilkan buah. Kedua kategori lainnya, sekalipun mereka pernah memiliki iman, iman itu luntur di tengah perjalanan. Dengan kata lain: fakta bahwa seseorang pernah melakukan sebuah pengakuan iman di dalam Yesus Kristus, tidak secara otomatis membuat orang itu termasuk dalam kategori yang keempat. Termasuk kategori manakah kita, sangat tergantung pada apa yang akan terjadi selama perjalanan hidup kita, setelah kita percaya. Hari, ketika kita melakukan pengakuan iman kita, merupakan hari benih itu bertunas. Namun, bagaimana cara benih ini bertumbuh bukan sesuatu yang dapat diketahui oleh seseorang pada saat ia memulainya. Satu-satunya pertanggungjawaban yang benar adalah pada akhir hidup seseorang. Hanya pada akhir hidupnya, orang dapat berbicara seperti yang Paulus katakan, dengan menggunakan bentuk waktu lampau.

Beberapa perangkap yang dapat menguji iman kita, dan yang terhadapnya kita tidak boleh menyerah, tercatat dalam Lukas 8 di atas dan kita akan membahasnya secara lebih mendalam.

I. Pencobaan

Yakobus 1:14-15 berkata:
“Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.”

Setiap kita seharusnya tidak menyerah ketika pencobaan datang. Namun akan ada saat-saat di mana kita harus memutuskan antara Allah dan “keinginan kita sendiri”. Akan muncul persimpangan jalan, saat-saat di mana kita harus memilih apakah kita mau mengikuti jalan Tuhan atau jalan kita sendiri. Pada saat seperti itu, orang-orang kategori kedua, meninggalkan Tuhan demi memuaskan hawa nafsu mereka. Jika mereka tidak bertobat dan kembali, akibatnya sangat mengerikan.

II. Penindasan / Penganiayaan karena Firman

Penyebab ini diberikan untuk kategori yang sama dalam perumpamaan tentang penabur yang dicatat dalam Injil Markus (Markus 4:17). Nasihat Paulus untuk orang-orang yang mengalaminya adalah: “Jangan ada orang yang goyang imannya karena kesusahan-kesusahan ini” (1 Tesalonika 3:3). Kesusahan dan penindasan telah menggoyang iman orang-orang kategori kedua. Meskipun pada awalnya mereka percaya, mereka tidak teguh ketika mengalami pencobaan dan penindasan. Begitu kesusahan-kesusahan ini muncul, mereka pun memilih untuk mengubah cara hidup mereka dan kembali ke cara hidup mereka yang lama.

III. Cinta uang, keserakahan, tipu daya kekayaan

Mengenai perangkap ini, Paulus berkata:

I Timotius 6:9-10
“Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”

Alkitab memuat referensi tentang beberapa abdi Allah yang sangat kaya, seperti Abraham (Kejadian 13:2, 24:35) dan Ayub (Ayub 1:3). Namun, mereka tidak serakah; mereka bukan orang yang cinta uang. Ketika pada suatu saat dalam hidupnya Ayub kehilangan segalanya, reaksi Ayub sangat sederhana:

Ayub 1:21
"Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!"

Masalahnya bukan terletak pada uang itu sendiri tetapi pada kecintaan seseorang akan uang. Masalah Bileam, sang nabi, bukan karena ia tidak bertanya kepada Allah, tetapi karena ia “suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat” ( 2 Petrus 2:15), saking sukanya sampai ia mengejarnya.

IV. Kekhawatiran/ Kepentingan-kepentingan duniawi

Rintangan lain bagi pertumbuhan benih Firman Tuhan adalah kekhawatiran. Kristus memperingatkan:

Lukas 21:34
"Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat.

Kekhawatiran membuat hati seorang percaya menjadi berat dan hal itu dapat menelan benih Firman yang telah ditaburkan. Allah ditempatkan bukan lagi pada posisi pertama, melainkan pada posisi kedua atau posisi yang lebih rendah. Dalam beberapa hal, Ia dianggap tidak terlalu relevan dalam pemenuhan kebutuhan kita. Pemenuhan kebutuhan serta berbagai kekhawatiran hidup telah menjadi tanggung jawab pribadi kita dan bukan tanggung jawab Allah, padahal Ia mengundang kita untuk:

I Petrus 5:7
“Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.”

Ketika kita menganggap Allah tidak lagi relevan untuk menolong kita dalam mengatasi kekhawatiran, hasilnya, kita pun tidak akan berbuah di dalam Firman Tuhan. Sekalipun pada suatu hari kita pernah mendengar Firman dan memercayainya, kita membiarkan benih itu ditelan oleh kekhawatiran dan ketidakpercayaan kita untuk menyerahkan segala kekhawatiran itu kepada Allah. Tuhan juga menyatakan dengan jelas bahwa pesta pora dan kemabukan dapat memiliki efek yang sama berbahayanya terhadap hati dan iman kita.

V. Kenikmatan hidup

Tuhan berbicara tentang akibat dari perangkap ini dalam Injil Lukas yang telah kami berikan sebelumnya. Contoh yang sangat jelas tentang efek perangkap ini dialami oleh seorang abdi Allah yang sangat terkenal: Salomo.

Raja Israel terkaya, orang yang kepadanya Allah telah mengaruniakan begitu banyak hikmat sehingga raja bangsa-bangsa lain pun datang untuk mendengarkan hikmatnya, pada masa tuanya ia “mencondongkan hatinya” kepada allah lain dan tidak kepada Allah dan Firman-Nya. Sebagaimana dikatakan dalam 1 Raja-raja:

I Raja-raja 11:1-9
“Adapun raja Salomo mencintai banyak perempuan asing. Di samping anak Firaun ia mencintai perempuan-perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het, padahal tentang bangsa-bangsa itu TUHAN telah berfirman kepada orang Israel: "Janganlah kamu bergaul dengan mereka dan merekapun janganlah bergaul dengan kamu, sebab sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada allah-allah mereka." Hati Salomo telah terpaut kepada mereka dengan cinta. Ia mempunyai tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; isteri-isterinya itu menarik hatinya dari pada TUHAN. Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya. Demikianlah Salomo mengikuti Asytoret, dewi orang Sidon, dan mengikuti Milkom, dewa kejijikan sembahan orang Amon, dan Salomo melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, dan ia tidak dengan SEPENUH HATI mengikuti TUHAN, seperti Daud, ayahnya……. Sebab itu TUHAN menunjukkan murka-Nya kepada Salomo, sebab hatinya telah menyimpang dari pada TUHAN, Allah Israel, yang telah dua kali menampakkan diri kepadanya

Dan Nehemia 13:26
“Bukankah Salomo, raja Israel, telah berbuat dosa karena hal semacam itu? Walaupun di antara begitu banyak bangsa tidak ada seorang raja seperti dia, yang dikasihi Allahnya dan diangkat oleh Allah itu menjadi raja seluruh Israel, namun diapun terbawa ke dalam dosa oleh perempuan-perempuan asing itu.”

Ketika Salomo lahir, Allah mengirimkan nabi Natan kepadanya untuk menamainya Yedija yang artinya “Yang dikasihi oleh Allah” (2 Samuel 12:24-25). Allah memberinya begitu banyak hikmat sehingga raja bangsa-bangsa lain datang untuk mendengarkan hikmatnya (1 Raja-raja 10). Namun, semua ini tidak berarti bahwa Salomo mengalami akhir hidup yang baik. Penyebabnya adalah karena hatinya menjauh dari Tuhan dan “ia tidak dengan sepenuh hati mengikuti TUHAN”. Pada akhirnya, ia jatuh ke dalam perangkap yang ia sendiri ajarkan kepada orang lain untuk menghindarinya (Amsal 2:16-19, 5:20, 6:24): istananya menjadi tempat Salomo mengoleksi berbagai wanita asing, tentu saja sekaligus dengan konsekuensinya, yakni “isteri-isterinya itu menarik hatinya dari pada TUHAN” (1 Raja-raja 11:3). Sekeras apa pun manusia lama membujuk kita, dengan mengatakan bahwa tidak masalah sedikit berkompromi dengan dosa, … toh kita tidak akan melukai siapa pun….Janganlah kita terbujuk olehnya. Firman Tuhan berkata, “…Sedikit ragi mengkhamiri seluruh adonan (1 Korintus 5:6).Tidak ada kompromi dengan dosa yang tidak berbahaya bagi orang yang ingin berbuah. Dosa, kekhawatiran, keserakahan, dan perangkap-perangkap lainnya membuat hati menjadi berat, lemah lesu, dan suam-suam kuku. Siapa menyangka seorang yang begitu bersungguh-sungguh mengajarkan agar orang-orang menjauhi wanita-wanita asing (contohnya dalam Amsal 5), justru pada masa tuanya memelihara banyak sekali wanita seperti itu? Sekalipun Allah kemudian menegur Salomo (1 Raja-raja 11), ia tidak mau berubah. Hatinya telah menjadi begitu keras sehingga ia tidak dapat lagi melihat kesalahannya sendiri, sehingga ia bersikap acuh tak acuh tentang hal itu.

VI. Pengetahuan yang salah/ Ajaran sesat

Penyebab ini diberikan dalam I Timotius 6:20-21, di mana Paulus berkata kepada Timotius:

I Timotius 6:20
“Hai Timotius, peliharalah apa yang telah dipercayakan kepadamu. Hindarilah omongan yang kosong dan yang tidak suci dan pertentangan-pertentangan yang berasal dari apa yang disebut pengetahuan, karena ada beberapa orang yang mengajarkannya dan dengan demikian telah menyimpang dari iman

Selain itu, seperti yang telah kita baca sebelumnya tentang Himeneus dan Filetus:

2 Timotius 2:17
“Perkataan mereka menjalar seperti penyakit kanker. Di antara mereka termasuk Himeneus dan Filetus, Mereka sudah menyeleweng dari ajaran yang benar, dan mengacaukan kepercayaan sebagian orang. Mereka berkata bahwa kebangkitan dari kematian sudah terjadi.”

Himeneus dan Filetus telah menyeleweng dari ajaran yang benar dengan mengatakan bahwa kebangkitan dari kematian telah terjadi. Sebagaimana kita baca dalam Firman Tuhan, para rasul beberapa kali memperingatkan jemaat untuk berhati-hati terhadap ajaran sesat yang berbahaya. Yohanes memperingatkan bahwa setiap roh yang tidak mengaku Yesus, ia adalah seorang antikristus (1 Yohanes 4:3). Para rasul berkumpul di Yerusalem untuk menghadapi ajaran palsu yang beredar yang menginginkan para murid untuk menyunat dan melakukan hukum Taurat (Kisah Para Rasul 15). Sebagaimana Paulus katakan juga dalam 1 Timotius 4:1-3:

I Timotius 4:1-3
“Tetapi Roh dengan tegas mengatakan bahwa di waktu-waktu kemudian, ada orang yang akan murtad lalu mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan oleh tipu daya pendusta-pendusta yang hati nuraninya memakai cap mereka. Mereka itu melarang orang kawin, melarang orang makan makanan yang diciptakan Allah supaya dengan pengucapan syukur dimakan oleh orang yang percaya dan yang telah mengenal kebenaran.”

Marilah kita berhati-hati ke mana kita mengarahkan pendengaran kita. Bukan manusia yang menentukan apakah sesuatu itu benar atau salah, yang menentukan adalah Firman Tuhan. Apakah yang kita dengar sesuai dengan Firman Tuhan? Tidak peduli apakah ajaran itu terdengar baik atau tidak, berbeda atau tidak dengan “tradisi” kita. Hanya kebenaranlah yang dapat membebaskan kita. Semua yang lain, bahkan yang terdengar seperti sebuah kebenaran, atau terdengar baik, atau seakan penuh dengan pengetahuan, semuanya itu hanya akan memperbudak kita. Jika pada hari ini, seseorang merasakan relasinya dengan Tuhan berada dalam posisi yang sulit, saya percaya salah satu penyebabnya adalah karena adanya kepercayaan yang salah tentang Allah dan Alkitab: kita mungkin memiliki gambaran tentang allah yang kita bangun sendiri di pikiran kita dan bukan Allah yang ada di Alkitab. Ujian pun dapat memunculkan hal-hal semacam itu.

Kesimpulan Saya percaya setelah membaca pembahasan di atas, kita seharusnya mengerti dengan jelas bahwa kehidupan kristiani tidaklah berakhir pada waktu kita mengakui Yesus sebagai Tuhan. Ya, dimulainya memang pada saat itu, tetapi tidaklah berakhir pada saat itu juga. Ada perlombaan yang baik yang wajib kita ikuti, ada perjuangan yang baik yang harus kita lakukan. Pengakuan iman yang kita buat ketika pertama kali kita percaya, dibuktikan benar atau tidaknya setiap hari. Apakah Yesus Kristus adalah Tuhan kita pada hari ini? Sebagaimana nasihat Paulus kepada Timotius:

I Timotius 6:20
“Hai Timotius, PELIHARALAH apa yang telah dipercayakan kepadamu…..”

Ketika sebutir benih jatuh ke tanah, benih itu tidak langsung tumbuh. Demikian juga dengan benih Firman Tuhan. Benih itu dinamis. Ia tumbuh dan ia perlu untuk bertumbuh! Benih pada ketiga kasus dalam perumpamaan tentang penabur, semuanya tumbuh, tetapi hanya benih terakhir yang menghasilkan buah.

Mari kita mengikuti teladan Paulus dan daripada membayangkan diri kita telah mencapai garis akhir, dan telah memperoleh hadiah, marilah kita menganggap diri kita sedang berlari-lari untuk memperolehnya. Janganlah menganggap diri kita sudah sempurna, melainkan kita berlari-lari menuju kesempurnaan. Keputusan untuk menyerahkan hidup kita kepada Yesus Kristus memang sesuatu yang harus menjadi keputusan kita setiap hari. Apakah hidup kita adalah milik Yesus pada hari ini? Hidup kita tidak dapat menjadi milik Dia dan sekaligus milik dunia. Namun, banyak orang percaya sebaliknya. Hasilnya adalah kemunafikan dan sikap yang mendua hati. Jikalau Anda berada dalam situasi demikian, ada jalan keluar. Allah SANGGUP menolong Anda. Mendekatlah kepada-Nya. Serahkanlah hidup Anda kepada-Nya DENGAN SEGENAP HATI. Dan inilah yang Yakobus sarankan:

Yakobus 4:7-10
Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu! Mendekatlah kepada Allah, dan IA akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati! Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah; hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratap dan sukacitamu dengan dukacita. Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.”

dan Amsal 22:4
“Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan.”

Kehidupan yang sejati ditemukan dalam kerendahan hati dan takut akan Tuhan.

Dan sebagai penutup, mari kita membaca 2 Korintus 13:5, ayat yang kami pinjam sebagai judul bagi artikel ini:

2 Korintus 13:5
“Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.”

Anastasios Kioulachoglou