Firman Hidup
Berlangganan gratis

Tentang Kelahiran Kristus dan Natal (Bagian I) (PDF) Versi PDF



Tentang Kelahiran Kristus dan Natal (Bagian I)



1. Lukas 1:26-38: Pemberitahuan tentang kelahiran

Untuk memulai survei tentang hal-hal yang Alkitab katakan mengenai kelahiran Yesus Kristus, kita akan mulai dengan melihat kitab Lukas pasal yang pertama. Dalam ayat ke-5 sampai 25 diceritakan tentang pemberitahuan mengenai kelahiran Yohanes Pembaptis kepada Zakharia ayahnya, dan Elizabet ibunya tidak menampakkan diri selama lima bulan sejak pemberitahuan tersebut. Kemudian, ayat-ayat selanjutnya menceritakan apa yang terjadi pada bulan keenam Yohanes berada dalam kandungan ibunya:

Lukas 1:26-33
“Dalam bulan yang keenam [Yohanes berada dalam kandungan ibunya] Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi [atau Anak Allah]. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan."

Menurut ayat-ayat di atas, Gabriel, salah seorang dari dua penghulu malaikat yang melayani Allah (yang satunya bernama Mikhael), diutus ke Nazaret untuk memberitahukan kepada Maria bahwa ia akan menjadi ibu Yesus. Selain pesan itu, malaikat juga mengatakan beberapa hal mengenai Yesus. Ia berkata bahwa Yesus akan menjadi besar dan Ia akan disebut “Anak Allah Yang Mahatinggi,” atau dengan kata lain: Anak Allah. Ia juga mengatakan bahwa Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya. Pernyataan yang terakhir menyatakan dengan jelas dua hal: pertama bahwa Yesus adalah keturunan Daud dan kedua bahwa Ia memiliki hak yang sah atas takhta Daud karena Ia adalah keturunan yang resmi secara hukum dari Raja Daud. Realitas dari semua pernyataan ini semakin diperjelas melalui dua silsilah Yesus yang diberikan dalam Matius 1:1-17 dan Lukas 3:23-38. Silsilah yang pertama mengacu kepada Yusuf, ayah duniawi dari Yesus, yang disebutkan sebagai keturunan dari Raja Daud. Oleh karena itu, dari sudut pandang hukum Yesus punya hak hukum atas takhta Daud. Selain dari keabsahan secara hukum, juga karena Yesus sebenarnya bukan anak Yusuf, maka Dia pun membutuhkan keabsahan secara fisik sebagai keturunan Daud. Ini dimiliki-Nya melalui Maria, ibunya. Silsilah Maria yang diberikan dalam Lukas 3:23-38 menunjukkan bahwa ia adalah seorang keturunan Daud. Demikianlah, baik secara hukum maupun secara fisik, Yesus adalah keturunan Daud dan memiliki hak langsung atas takhta Daud .

Semua ini tentu bukan kebetulan. Sebaliknya, semua ini harus digenapi dalam diri Sang Mesias karena melalui Perjanjian Lama telah dinubuatkan bahwa Mesias yang dijanjikan akan berasal dari keturunan Abraham (lihat Kejadian 21:12 dan Galatia 3:16) dan berasal dari keturunan Daud (lihat Mazmur 132:11 dan Kisah Para Rasul 2:29-30). Jadi, karena Yesus adalah Mesias, tidak bisa tidak, Ia haruslah merupakan keturunan Abraham dan Daud. Dan memang Ia adalah keturunan mereka. Matius 1:1 mengekspresikan kebenaran ini dengan jelas sekali:

Matius 1:1
".......Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham"

Jadi, silsilah Yesus Kristus bukan sebuah enumerasi sejarah melainkan sebuah bukti bahwa Yesus adalah Mesias, Kristus, Yang Dijanjikan. Melalui-Nya, Allah menggenapi bukan hanya janji-Nya kepada Abraham dan Daud (Kejadian 21:12, Mazmur 132:11) tetapi juga janji-Nya kepada seluruh umat manusia (Kejadian 3:15) yang setelah kejatuhannya, menanti-nantikan Dia yang sanggup memulihkan keadaan: yaitu Kristus.

Kembali pada pemberitahuan yang disampaikan oleh malaikat, Maria punya sebuah pertanyaan:

Lukas 1:34
“Tetapi saya masih perawan,” kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu bisa terjadi?" (IBID)

Frasa “tetapi saya masih perawan” menunjukkan bahwa Maria belum pernah berhubungan seksual. Alasannya adalah karena pada saat itu, ia masih bertunangan dengan Yusuf dan hubungan seksual hanya dapat dilakukan setelah mereka menikah. Namun, kehamilan ini tidak membutuhkan kontribusi manusia lain selain daripada Maria. Seperti yang dijelaskan oleh malaikat di bawah ini, Allahlah yang melakukan selebihnya.

Lukas 1:35-37
“Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil [dalam bahasa Yunani tertulis: “Sebab bagi Allah semua yang difirmankan pasti terjadi]”

Menurut penjelasan malaikat, anak yang akan dilahirkan itu adalah hasil dari pekerjaan ajaib dari Yang Maha Tinggi, yaitu Allah. Itulah sebabnya, Ia akan disebut Anak Allah atau Anak dari Allah Yang Maha Tinggi.

Setelah mendengar penjelasan itu, Maria menerima apa yang malaikat katakan kepadanya:

Lukas 1:38-39
“Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.”

Disertai ketaatan Maria atas rencana Allah itu, malaikat itu pun kemudian pergi meninggalkannya .

2. Matius 1:18-25: Reaksi Yusuf

Bertunangan dengan Yusuf dan mengandung seorang anak yang bukan berasal dari Yusuf membuat situasi Maria sangat sulit, dan reaksi Yusuf sangatlah penting. Bagaimana reaksi Yusuf mengenai hal ini diberikan dalam Matius 1:18-25, di mana mulai dari ayat ke-18 kita membaca:

Matius 1:18
“Beginilah kisah tentang kelahiran Yesus Kristus. Ibu-Nya yaitu Maria, bertunangan dengan Yusuf. Tetapi sebelum mereka menikah, ternyata Maria sudah mengandung. Yusuf tidak tahu bahwa Maria mengandung karena kuasa Roh Allah.” (IBIS)

Kata “beginilah” di awal ayat adalah sebuah konjungsi (kata penghubung) “de” dalam bahasa Yunani, yang dipergunakan:

i) untuk menunjukkan pergerakan dari satu topik ke topik lainnya. Dalam hal ini, kata tersebut seharusnya diterjemahkan “dan” atau “adapun”

ii) untuk menyatakan sebuah kontras antara pernyataan sebelum dan pernyataan sesudah kata penghubung tersebut. Untuk kasus ini, kata tersebut seharusnya diterjemahkan “tetapi.” Dari 2.870 kali kemunculan konjungsi ini, Alkitab Versi King James menerjemahkannya “tetapi” sebanyak 1.237 kali, “dan” sebanyak 934 kali, “adapun” sebanyak 166 kali dan tidak diterjemahkan sama sekali sebanyak 300 kali. Untuk menerjemahkannya sebagai kata penghubung “tetapi”, “dan”, atau “adapun”, kita harus melihat dari konteksnya. Dalam ayat di atas, kata itu seharusnya diterjemahkan “tetapi” dan alasannya adalah karena kata itu mengontraskan antara bagaimana cara Yesus Kristus dikandung dengan cara orang-orang dalam silsilah yang diberikan dalam ayat-ayat sebelumnya (Matius 1:1-17) dikandung. Jadi, meskipun di dalam silsilah kita membaca: “Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub…..” tetapi Yesus Kristus tidak diperanakkan oleh manusia. Sebagai kontras dari semua orang yang disebutkan dalam silsilah: bapa dari Yesus adalah Allah, dan penggunaan kata penghubung di sini adalah untuk memperjelas kontras tersebut.

Setelah ini jelas bagi kita, mari kita lanjutkan dengan menyelidiki ayat yang sama, di mana kita membaca bahwa sebelum Yusuf dan Maria menikah atau sebelum mereka bersetubuh, ternyata Maria sudah mengandung. Dalam keadaan seperti itu, posisi Maria benar-benar sangat sulit dan apa yang akan terjadi kepadanya akan sangat bergantung kepada bagaimana reaksi Yusuf. Karena apabila Yusuf yang dikarenakan kejadian ini, memutuskan untuk secara umum “membusukkan nama” Maria (Bilangan 22:14) maka sesuai dengan Hukum Taurat, hukuman bagi Maria adalah hukuman mati (Bilangan 22:13-21). Sebaliknya, bila ia memutuskan untuk menangani hal ini secara diam-diam, maka ia akan menulis surat cerai kemudian mengusir Maria (Bilangan 24:1). Namun, seandainya pun pilihan yang kedualah yang Yusuf ambil, posisi Maria tetap saja sangat sulit karena masyarakat tidak akan menerima seorang wanita yang punya anak tanpa bersuami. Ayat 19 mengatakan kepada kita, pilihan mana di antara kedua pilihan itu yang dipertimbangkan oleh Yusuf:

Matius 1:19
“Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama isterinya di muka umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam.”

Yusuf digambarkan sebagai seorang yang tulus hati, atau dengan kata lain ia adalah seorang yang taat kepada hukum. Dari kedua pilihan yang sesuai dengan Hukum Taurat tersebut, ia memutuskan untuk mengambil pilihan yang kedua yaitu menyuruh Maria pergi dengan memberinya selembar surat cerai dan melakukannya secara diam-diam. Namun di saat yang sangat kritis ini Allah campur tangan untuk melindungi Maria dan pada saat yang sama melindungi Yesus:

Matius 1:20-21
“Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: "Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”

Allah dalam campur tangan-Nya memberitahukan kepada Yusuf bahwa anak yang dikandung Maria adalah dari Roh Kudus dan mendorong Yusuf untuk tidak melakukan maksud yang sedang dipertimbangkannya itu. Allah juga memberitahukan nama yang harus diberikan Yusuf kepada anak itu. Inilah kali kedua nama bayi disebutkan . Namun, kali ini Firman Allah juga memberitahukan mengapa anak yang dikandung Maria akan dinamai Yesus. Ini karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka. Mengenai nama, dapat dikatakan bahwa apa yang unik bukan nama itu sendiri karena nama ini bukan untuk pertama kalinya digunakan. Sebenarnya nama ‘Yosua’ bin Nun (Yosua 1:1) adalah sama dengan nama ‘Yesus’ sekalipun bahasa Indonesia menerjemahkan keduanya sebagai dua nama yang berbeda . Hal yang sama juga terjadi dengan seseorang yang bernama Jose (KJV, NKJV) atau Joshua (NIV) atau Yesua (TB) dalam Lukas 3:29. Nama orang ini dalam teks bahasa Yunani adalah "Iesous" yang sama dengan nama Yesus. Oleh karena itu, yang signifikan dari nama ini bukan apakah nama ini dipergunakan untuk pertama kalinya atau tidak, sebab itu bukan untuk yang pertama kalinya. Jadi, yang signifikan dari nama itu adalah artinya, yang dalam bahasa Ibrani adalah: “Allah (Yehuwa) keselamatan kita”. Sesungguhnya, Yesus Kristuslah satu-satunya yang melalui-Nya, Allah, Yehuwa, mendatangkan keselamatan kepada manusia dan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka. Inilah sesungguhnya kepentingan teramat agung dari nama ini.

Kembali ke Yusuf dan reaksinya, ayat 24 dan 25 memberitahukan apakah campur tangan Allah mengubah pikirannya atau tidak:

Matius 1:24
“Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya”

Setelah campur tangan Allah, Yusuf memutuskan untuk tidak menyuruh Maria pergi. Betapa indahnya cara Allah melindungi Maria dan anaknya dalam keadaan yang sangat kritis ini. Juga, betapa luar biasanya Ia mengatur segala sesuatu sehingga Maria dapat melahirkan seorang anak yang bukan berasal dari suaminya, di tengah masyarakat yang menganggap sesuatu seperti ini sangatlah tidak dapat diterima. Tentu saja, dalam semua ini peran Maria dan Yusuf pun sangat besar. Kesediaan mereka untuk percaya pada apa yang Allah katakan sungguh merupakan sebuah teladan. Sekalipun dilihat dari sudut pandang persilsilahan, mereka adalah pasangan yang sempurna untuk menjadi keluarga Mesias, hal ini tidak akan terjadi apabila keduanya atau salah satu dari mereka tidak mau memercayai Allah dan bekerja sama dengan-Nya.

Setelah belajar semua ini, mari kita sekarang menuju ke ayat 25:

Matius 1:25
“tetapi [Yusuf] tidak bersetubuh dengan dia [Maria] sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.”

Meskipun ayat ini tidak mengatakan banyak hal tentang Yesus sendiri, ayat ini mengatakan banyak hal tentang Maria. Meskipun berjuta orang menganggap Maria tetaplah seorang perawan seumur hidupnya, Firman Allah mengatakan bahwa Yusuf tidak bersetubuh dengan Maria sampai ia melahirkan Yesus. Dari pernyataan ini, jelaslah bahwa Yusuf “bersetubuh” dengan Maria, setelah Yesus dilahirkan. Tentu saja tidak ada yang tidak normal di sini: Yusuf dan Maria adalah pasangan yang telah menikah dan menurut Firman Allah, persetubuhan adalah bagian dari pernikahan (1 Korintus 7:1-5), dan pernikahan diperuntukkan sebagai tempat yang sah di mana hubungan seksual dapat dilakukan.

Dari pernyataan ini, bukti lain yang menunjukkan bahwa Maria tidaklah perawan seumur hidupnya adalah dari penyebutan Yesus sebagai anak sulungnya (firstborn – dari Alkitab Versi King James). Bila Yesus adalah satu-satunya anak Maria, apakah ia akan disebut sebagai anak sulung? Tentu tidak, karena penyebutan seperti ini hanya berarti bahwa ada beberapa anak dalam keluarga mereka, dan di antara mereka hanya ada satu anak yang bisa disebut sebagai anak sulung. Setelah melahirkan Yesus, Maria memang melahirkan anak-anak yang lain, sebagai buah dari pernikahannya dengan Yusuf. Sesungguhnya, bukan hanya mengatakan hal ini, Alkitab pun memberi kita nama dari anak-anak itu. Nama mereka tercatat dalam Matius 13:

Matius 13:54-56
“Setibanya di tempat asal-Nya, Yesus mengajar orang-orang di situ di rumah ibadat mereka. Maka takjublah mereka dan berkata: "Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu dan kuasa untuk mengadakan mujizat-mujizat itu? Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? ……”

Firman Allah menyebut nama 4 orang saudara laki-laki Yesus dan bahwa Ia memiliki sejumlah saudara perempuan yang seibu dengan-Nya. Dari ayat di atas, jelaslah bahwa tradisi yang menganggap Maria tetap perawan seumur hidupnya adalah tidak alkitabiah dan karenanya harus ditolak.

3. Lukas 2:1-20: Pada malam kelahiran-Nya

Setelah mempelajari tentang pemberitahuan malaikat kepada Maria mengenai kelahiran Yesus juga bagaimana reaksi Yusuf suaminya, berikutnya kita akan melihat apa yang terjadi pada malam kelahiran-Nya. Untuk memulainya, kita akan melihat pasal kedua dari kitab Lukas, di mana ayat ke-1-3 mengatakan:

Lukas 2:1-3
Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh dunia. Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria. Maka pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di kotanya sendiri”

Ada banyak informasi sejarah yang diberikan dalam ayat-ayat ini yang dapat menolong kita untuk memperkirakan tahun dan musim ketika Yesus dilahirkan. Informasi pertama adalah tentang pendaftaran “semua orang di seluruh dunia” atau di seluruh bagian dunia yang berada di bawah pendudukan Romawi. Menurut sumber-sumber sejarah, pendaftaran ini terjadi sekitar tahun ke-3 Sebelum Masehi. Alasan Firman Allah menyebut sensus ini sebagai yang “PERTAMA KALI DIADAKAN” adalah untuk menolong kita membedakannya dengan sensus lain yang diadakan kemudian, yaitu sekitar tahun 6/7 Sesudah Masehi. Perkiraan Yesus Kristus lahir sebelum tahun ini diindikasikan dari Matius 2:1 yang menyatakan bahwa Yesus dilahirkan ketika Herodes menjadi raja di Yudea. Sekali lagi, menurut sumber sejarah, raja ini meninggal antara tahun 5 Sebelum Masehi dan tahun 1 Sebelum Masehi. Jadi, jelaslah bila sumber ini benar, maka Yesus tentu dilahirkan sebelum tahun 1 Sebelum Masehi dan bila perkiraan tahun pendaftaran juga benar, maka Ia dilahirkan sekitar tahun 3 Sebelum Masehi.

Mengenai musim ketika Yesus dilahirkan, tidaklah mungkin Ia dilahirkan pada tanggal 25 Desember. Hal ini jelas dari fakta bahwa sebuah sensus tidak pernah dilakukan di tengah musim dingin karena keadaan cuaca membuat transportasi orang-orang menuju ke kota asalnya akan menjadi sangat sulit. Bahkan di zaman modern dengan kecanggihan sarana transportasi sekarang ini, sensus tidak pernah dilakukan pada musim di mana cuaca dapat menjadi halangan. Tentunya itu pun yang berlaku pada zaman itu. Oleh sebab itu, perkiraan bahwa Kristus lahir pada tanggal 25 Desember dan pendaftaran penduduk di seluruh dunia diadakan pada tanggal ini tidaklah benar. Selain itu, ayat 8 yang menceritakan tentang gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka, membuktikan pula bahwa kelahiran Kristus tentu bukan tanggal 25 Desember sehubungan dengan masalah cuaca. Ternak tidak mungkin dibiarkan berada di padang pada musim itu. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Adam Clark:

"Karena para gembala belum membawa ternak mereka pulang, dapat ditarik kesimpulan bahwa saat itu belum bulan Oktober, sehingga Tuhan kita tidak mungkin dilahirkan pada tanggal 25 Desember, karena selama bulan itu tidak mungkin ternak dibiarkan berada di padang… Berdasarkan itu saja, menganggap kelahiran Kristus terjadi di bulan Desember adalah tidak benar” (Kutipan ini diambil dari R. E. Woodrow: "Babylon Mystery Religion", Ralph Woodrow Evangelistic Association Inc., 1966, this printing 1992 p.141)

Berdasarkan kutipan di atas, jelaslah bahwa tidak mungkin Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Desember. Lalu, mengapa kelahiran-Nya dirayakan pada tanggal tersebut? Alasannya tidak lain karena tradisi bangsa kafir yang diperkenalkan oleh orang-orang kafir yang telah bertobat kepada Kekristenan. Sebagaimana yang dikatakan oleh J. Frazer:

"Kultus keagamaan terbesar yang merayakan hari besarnya pada tanggal 25 Desember di seluruh wilayah Romawi dan Yunani adalah kaum Mithraisme – para penyembah dewa matahari…. Festival musim dingin ini dinamakan “Hari Kelahiran” – “Hari Kelahiran Dewa Matahari” (Lihat J. Frazer: "The Golden Bough", New York, Macmillan Co., 1935 p.471. Kutipan diambil dari R. Woodrow op.cit. p. 143)

Bahkan sumber yang konservatif sekalipun, seperti "The Catholic Encyclopaedia” mengakui bahwa festival orang kafir inilah yang menghasilkan dirayakannya kelahiran Kristus pada tanggal 25 Desember.

"Perayaan dewa matahari terkenal yang bernama NatalisInvicti [Kelahiran Sang Matahari yang Takterkalahkan] yang dirayakan tanggal 25 Desember diklaim kuat sebagai penyebab orang merayakan kelahiran Kristus pada tanggal yang sama” (Lihat: "The Catholic Encyclopaedia", New York, Robert Appleton Co., 1911, p.725. Kutipan ini diambil dari R. Woodrow, op. cit. p.143)

Dari pembahasan di atas, jelaslah bahwa tanggal 25 Desember bukanlah hari kelahiran Kristus tetapi hari kelahiran dewa matahari yang dirayakan oleh bangsa kafir. Ketika bangsa kafir ini menjadi orang-orang kristiani, mereka tetap memegang tradisi kafir mereka. Dan gereja, alih-alih berdiri teguh dan menentang praktik-pratik tersebut, justru memilih untuk mengkristenkannya. Jadi “perayaan hari lahir dewa matahari” pun diubah menjadi “perayaan hari lahir Anak Allah”. Sayangnya, itu hanyalah salah satu dari banyak praktik dan tradisi kafir yang masih diikuti oleh sejumlah besar orang kristiani.

Setelah sedikit keluar dari pembahasan mengenai hari kelahiran Kristus ini, mari kita lanjutkan kembali Lukas pasal ke-2. Setelah ayat 1-3 memberi kita informasi sejarah tentang pendaftaran penduduk, ayat 4-7 menceritakan apa yang Yusuf dan Maria lakukan:

Lukas 2:4-7
“Demikian juga Yusuf pergi dari kota Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama Betlehem, --karena ia berasal dari keluarga dan keturunan Daud supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria, tunangannya, yang sedang mengandung. Ketika mereka di situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.”

Sekali lagi, kelahiran Yesus Kristus di Betlehem bukan sebuah kebetulan. Perjanjian Lama (Mikha 5:2) menubuatkan bahwa Mesias akan lahir di Betlehem. Sungguh mengagumkan cara Allah mengatur segala sesuatu untuk menggenapi nubuat ini. Yusuf dan Maria tidak tinggal di Betlehem. Bahkan, Betlehem letaknya sangat jauh dari Nazaret dan mungkin hanya kewajiban mendaftarkan diri saja yang dapat memaksa mereka pergi dalam keadaan seperti itu (Maria sedang mengandung). Ketika hampir tiba waktunya melahirkan, kewajiban ini mengharuskan Yusuf dan Maria untuk pergi ke sana. Dan di sana Yesus pun dilahirkan dan nubuat Mikha digenapi. Tetapi, mari kita lanjutkan:

Lukas 2:8-14
“Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka [Yunani: “ephistemi”, yang artinya “berdiri di dekat mereka”] dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan." Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."

Orang pertama yang diberitahukan Allah tentang kelahiran Anak-Nya adalah para gembala yang sederhana. Dan, tahukah Anda mengapa Allah memberitahukan kabar itu kepada mereka dan bukan kepada Herodes atau orang Farisi atau kepada otoritas lain pada zaman itu? Karena gembala-gembala itu percaya kepada-Nya. Mereka percaya bahwa bayi ini adalah Kristus, Sang Mesias sebagaimana yang diberitahukan oleh malaikat kepada mereka. Ayat 20 mengatakan bahwa “kembalilah gembala-gembala itu [dari palungan] sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat.” Mereka percaya pada apa yang Allah katakan kepada mereka melalui malaikat tentang anak ini dan kepercayaan inilah yang menghasilkan sukacita. Herodes dan orang-orang beragama pada zaman itu tidak memercayai hal itu. Sebaliknya, mereka berusaha membunuh anak ini. Itu sebabnya Allah tidak memberitahukan kelahiran Yesus kepada mereka. Bahkan pada zaman sekarang: Allah siap menyingkapkan tentang Anak-Nya kepada setiap orang yang memiliki hati yang mau percaya kepada-Nya, bahkan sesungguhnya setiap jiwa yang lapar dan haus akan Firman Allah akan dipuaskan-Nya. Mari kita lanjutkan kembali:

Lukas 2:15-20
”Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: "Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita." Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.

Para gembala percaya pada apa yang dikatakan malaikat dan mereka pun pergi serta menemukan Yesus terbungkus kain lampin dan dibaringkan di dalam palungan, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh malaikat kepada mereka. Pada titik inilah, muncul tradisi yang menyimpulkan bahwa yang datang menjumpai Yesus adalah “orang-orang majus,” yang diasumsikan berjumlah tiga orang. Apakah tradisi ini benar atau salah, kita akan melihatnya di bagian ke-2 dari pembahasan ini.

Anastasios Kioulachoglou