Firman Hidup
Berlangganan gratis

Serahkanlah Kepada Tuhan (PDF) Versi PDF



Serahkanlah Kepada Tuhan



Saya tahu seringkali kita merasakan hati kita dipenuhi oleh beban yang berat. Impian yang hancur, tekanan dari luar, ancaman, atau hal-hal serupa lainnya ─ yang jika tidak kita tangani dengan benar ─ bisa berdampak negatif bagi hidup kita. Bahwa beban dan tekanan memang merupakan realitas dalam kehidupan kristiani terbukti dari fakta bahwa Allah di dalam Firman-Nya telah menyediakan bagi kita cara bagaimana kita menghadapi semua itu. Cara inilah yang kami coba paparkan dalam artikel ini.

1. Allah: Dia yang memelihara

Untuk memulainya, mari kita membuka Mazmur 55:22. Di sana kita membaca:

Mazmur 55:23
Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.

Firman Tuhan mendorong agar kita menyerahkan beban dan kekhawatiran kita kepada Tuhan. Nasihat ini mengatakan dua hal kepada kita. Pertama, hidup ini tidak bebas dari adanya kekhawatiran, bahkan bagi orang-orang kristiani. Kedua, cara yang benar untuk menghadapi beban dan kekhawatiran, baik yang berat maupun yang ringan, adalah dengan menyerahkannya kepada Tuhan. Ini ditegaskan juga dalam 1 Petrus 5:7, di mana kita membaca:

1 Petrus 5:6-7
“Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.”

Allah mendorong kita untuk menyerahkan segala kekhawatiran kita kepada-Nya, karena seperti yang Ia katakan, IA akan memelihara kita. Mungkin bukan suatu kebetulan nasihat ini didahului oleh anjuran untuk kita merendahkan diri. Memang dibutuhkan kerendahan hati untuk menolak berjalan sendiri tanpa kekuatan dari Tuhan, untuk memercayai Dia sepenuhnya dan untuk menyerahkan segala kekhawatiran kita kepada-Nya, karena Dia, sebagaimana dikatakan dalam Roma 8:32:

Roma 8:32
“Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?”

Juga dikatakan dalam Mazmur 37:3-5:
“Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;……Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia”

Dan Amsal 3:5-6
“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”

Ini semua bukan sekadar kata-kata, sekalipun kita mungkin sudah sering membacanya. Sebaliknya, ini adalah perkataan Tuhan sendiri; janji-janji yang menuntut perhatian dan kepercayaan kita. Masalahnya di sini bukan apakah kita memiliki hikmat dan kemampuan untuk menanggung beban kita. Masalahnya adalah apakah kita mau memercayai Dia, yang memiliki hikmat dan kemampuan, Allah yang Maha Kuasa, untuk menanggung beban itu bagi kita.

2. Matius 6

Pengajaran dari Firman Allah lainnya tentang bagaimana cara menangani beban dan kekhawatiran, diberikan oleh Kristus dalam Matius 6. Dimulai dari ayat 25, kita membaca:

Matius 6:25-32
"Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.”

Perhatikan bahwa teks di atas tidak mengatakan bahwa kita tidak boleh mendoakan kebutuhan kita kepada Allah. Sesungguhnya, bagian dari doa yang Allah ajarkan kepada murid-murid-Nya (yang dikenal sebagai “Doa Bapa Kami”) adalah tentang kebutuhan fisik (“Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya”, Matius 6:11). Oleh karena itu, apa yang Yesus ingin katakan kepada kita adalah bukan untuk kita berhenti berdoa agar Tuhan memenuhi kebutuhan kita, tetapi untuk kita berhenti mengkhawatirkan semua itu. Kemudian, Dia mengatakan apa yang seharusnya kita kejar:

Matius 6:33-34
TETAPI carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."

Kata “tetapi” di awal ayat menunjukkan sebuah kontras antara perkataan yang diucapkan sebelum dan sesudah kata tersebut. Jadi, kalimat di atas mengajarkan daripada khawatir, kita seharusnya memfokuskan perhatian kita pada Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Hasilnya adalah, semua hal yang kita butuhkan, akan ditambahkan kepada kita. Sebagaimana jawaban Kristus ketika Iblis mencobai-Nya:

Matius 4:4
"Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah."

Seandainya kita memiliki segala sesuatu, kita tetap tidak memiliki kehidupan yang sesungguhnya, jika Firman Allah tidak tinggal di dalam hati kita. Tentu saja bukan berarti kita tidak perlu makan atau minum, bukan berarti kita tidak memiliki kebutuhan lain. Kita telah membaca kalau Allah tahu kita membutuhkan semua ini. Namun, kebutuhan utama kita, yang sesungguhnya merupakan satu-satunya kebutuhan yang kita perlukan (lihat Lukas 10:38-41), adalah kebutuhan akan Firman Allah yang bertakhta di hati kita. Inilah yang harus kita cari terlebih dahulu dan jika kita melakukannya, semua hal lain yang mungkin kita butuhkan, akan ditambahkan kepada kita. Itu telah dijanjikan-Nya!

Beberapa contoh

Agar lebih memahami sisi praktis dari pembahasan di atas, mari kita melihat dua contoh yang diberikan dalam Alkitab (keduanya bukan contoh satu-satunya).

3. Daniel dalam gua singa

Kasus pertama yang akan kita lihat adalah kasus Daniel. Daniel adalah salah seorang di antara orang-orang Yahudi yang dibawa sebagai tawanan ke Babel dan yang akhirnya ditempatkan pada posisi puncak dalam hirarki kerajaan. Bahkan seperti yang kita baca dalam Daniel 6:4 pada zaman pemerintahan Darius orang Media, Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja. Hal ini menimbulkan perasaan iri di hati mereka sehingga mereka pun mencari cara untuk mencelakakan Daniel, dengan membujuk raja agar mengeluarkan perintah, yaitu melarang siapa pun untuk mengajukan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada raja selama 30 hari (Daniel 6:5-9). Hukuman bagi siapa pun yang melanggar perintah ini adalah dilemparkan ke gua singa. Alasan mereka merancangkan bentuk kejahatan ini bukanlah sebuah kebetulan. Sebagaimana dikatakan dalam Daniel 6:6, orang-orang ini tahu bahwa satu-satunya cara untuk mencapai tujuan mereka adalah dengan menemukan sesuatu yang dapat digunakan untuk melawan Daniel, dan satu-satunya yang mereka temukan adalah “dalam hal ibadahnya kepada Allahnya”. Setelah mengetahui betapa dalamnya kasih Daniel kepada Allah, mereka pun menghadapkannya pada sebuah dilema, yakni: ia harus berhenti berdoa kepada Allahnya, sesuai dengan perintah yang dikeluarkan, atau ia menjadikan dirinya santapan singa, seperti yang mereka inginkan. Dengan demikian, melalui rencana jahat ini, orang-orang ini secara terbuka mencoba untuk mengganggu hubungan antara Daniel dengan Allahnya. Daniel dihadapkan pada sebuah pilihan. Apakah ia mau membiarkan tekanan ini, ancaman ini, meracuni hatinya dengan kekhawatiran dan ketakutan ataukah ia mau menyerahkannya kepada Allah sehingga persekutuannya dengan Allah tetap utuh serta memercayakan semua masalah ini kepada DIA. Ayat 10 mengatakan kepada kita pilihan mana yang ia ambil:

Daniel 6:11
“Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.”

Daniel bukan hanya melanjutkan kebiasaannya berdoa kepada Allah, tetapi ia juga melakukannya seperti biasa yaitu sambil: MEMBUKA jendela kamarnya lebar-lebar! Jelas sekali, ia mengabaikan ancaman yang ada, atau ia tidak mencoba menghadapi ancaman itu dengan cara-caranya sendiri, misalnya dengan menutup jendela, atau mencoba untuk tidak terlalu menyolok, berdoa di saat-saat tidak ada seorang pun yang akan melihatnya, berdoa di tempat tertutup, dll. Sebaliknya, ia tetap bersekutu dengan Allah seperti biasa. Di lain pihak, inilah yang diharapkan oleh para musuhnya. Seperti kita ketahui, mereka membuat rencana itu dengan pertimbangan bahwa Daniel tidak akan berhenti berdoa kepada Allah, sehingga dengan demikian ia akan melanggar perintah raja. Ayat 12-17 menceritakan apa yang kemudian dilakukan oleh orang-orang ini:

Daniel 6:12-17
“Lalu orang-orang itu bergegas-gegas masuk dan mendapati Daniel sedang berdoa dan bermohon kepada Allahnya. Kemudian mereka menghadap raja dan menanyakan kepadanya tentang larangan raja: "Bukankah tuanku mengeluarkan suatu larangan, supaya setiap orang yang dalam tiga puluh hari menyampaikan permohonan kepada salah satu dewa atau manusia kecuali kepada tuanku, ya raja, akan dilemparkan ke dalam gua singa?" Jawab raja: "Perkara ini telah pasti menurut undang-undang orang Media dan Persia, yang tidak dapat dicabut kembali." Lalu kata mereka kepada raja: "Daniel, salah seorang buangan dari Yehuda, tidak mengindahkan tuanku, ya raja, dan tidak mengindahkan larangan yang tuanku keluarkan, tetapi tiga kali sehari ia mengucapkan doanya." Setelah raja mendengar hal itu, maka sangat sedihlah ia, dan ia mencari jalan untuk melepaskan Daniel, bahkan sampai matahari masuk, ia masih berusaha untuk menolongnya. Lalu bergegas-gegaslah orang-orang itu menghadap raja serta berkata kepadanya: "Ketahuilah, ya raja, bahwa menurut undang-undang orang Media dan Persia tidak ada larangan atau penetapan yang dikeluarkan raja yang dapat diubah!" Sesudah itu raja memberi perintah, lalu diambillah Daniel dan dilemparkan ke dalam gua singa. Berbicaralah raja kepada Daniel: "Allahmu yang kausembah dengan tekun, Dialah kiranya yang melepaskan engkau!"

Orang-orang ini begitu membenci Daniel, sehingga untuk menjatuhkan Daniel dari kedudukannya, bahkan raja pun mereka tipu. Ketika raja memahami apa yang terjadi, ia merasa sangat sedih tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa, karena perintah itu tidak mungkin diubah. Namun, ia melakukan sesuatu yang lebih penting: ia memercayai Allah. Ayat 18-24 mengatakan apa yang akhirnya terjadi:

Daniel 6:18-24
“Maka dibawalah sebuah batu dan diletakkan pada mulut gua itu, lalu raja mencap itu dengan cincin meterainya dan dengan cincin meterai para pembesarnya, supaya dalam hal Daniel tidak dibuat perubahan apa-apa. Lalu pergilah raja ke istananya dan berpuasalah ia semalam-malaman itu; ia tidak menyuruh datang penghibur-penghibur, dan ia tidak dapat tidur. Pagi-pagi sekali ketika fajar menyingsing, bangunlah raja dan pergi dengan buru-buru ke gua singa; dan ketika ia sampai dekat gua itu, berserulah ia kepada Daniel dengan suara yang sayu. Berkatalah ia kepada Daniel: "Daniel, hamba Allah yang hidup, Allahmu yang kausembah dengan tekun, telah sanggupkah Ia melepaskan engkau dari singa-singa itu?" Lalu kata Daniel kepada raja: "Ya raja, kekallah hidupmu! Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku, karena ternyata aku tak bersalah di hadapan-Nya; tetapi juga terhadap tuanku, ya raja, aku tidak melakukan kejahatan." Lalu sangat sukacitalah raja dan ia memberi perintah, supaya Daniel ditarik dari dalam gua itu. Maka ditariklah Daniel dari dalam gua itu, dan tidak terdapat luka apa-apa padanya KARENA IA PERCAYA KEPADA ALLAHNYA.”

Ayat terakhir mengatakan apa yang terjadi pada Daniel dan alasan mengapa hal itu terjadi. Yang terjadi pada Daniel adalah “tidak terdapat luka apa-apa padanya” dan alasan mengapa hal itu terjadi adalah “karena ia percaya kepada Allahnya”.

Sangat mudah untuk kita membaca dan melewati hal di atas begitu saja, tetapi mari kita sejenak menempatkan diri kita sendiri di posisi Daniel. Dia dan orang-orang lain dalam Alkitab bukanlah para superman. Mereka adalah orang-orang biasa sama seperti kita, yang dihadapkan pada sebuah pilihan apakah kita mau percaya kepada Allah atau tidak. Apakah masalah kita atau ancaman yang kita hadapi lebih besar dari ancaman yang Daniel hadapi? Ia bisa saja mati dalam hitungan detik. Bila kita berbicara “secara hukum alam atau secara natural”, begitu menginjak dasar gua, Daniel sebenarnya bisa dianggap sudah mati. Namun Daniel tidak memandang situasi yang dia hadapi secara “natural”. Ia memandangnya secara SUPRAnatural. Sebagaimana dikatakan dalam perikop di atas, “ia percaya kepada Allahnya”. Ia memercayai Allah. Ia bisa saja melakukan 1000 hal lain. Ia bisa saja merancangkan 1000 cara untuk menyelamatkan dirinya dari perangkap, misalnya: menutup jendela kamarnya, berkompromi, mengajukan permohonan kepada raja, dll. Namun, bukannya melakukan semua ini, Daniel memilih untuk percaya kepada Allah. Ketika ia dibawa ke gua singa “ia percaya kepada Allahnya”. Ketika mereka melemparkannya ke dalam gua, “ia percaya kepada Allahnya”. Hasilnya? “Tidak terdapat luka apa-apa padanya karena ia percaya kepada Allahnya”.

Pertanyaannya bukan apakah akan muncul waktu-waktu yang sulit, beban yang berat dan berbagai kekhawatiran dalam hidup kita, karena kita tahu semua itu bisa kita alami kapan saja. Pertanyaannya adalah bagaimana cara kita menangani semua itu? Apakah kita akan tetap menaruh semua itu di pundak kita ataukah kita akan menyerahkannya kepada Allah? Akankah kita percaya pada kemampuan dan kuasa Allah ataukah kita percaya pada kemampuan kita sendiri? Apakah kita mencari solusi secara natural (“saya sanggup”, “saya memiliki hikmat saya sendiri”), ataukah secara supranatural (“Allah sanggup”, “Allah akan memberi hikmat-Nya kepada saya”)?

4. Kasus Elia

Contoh lain mengenai bagaimana menangani beban dan kekhawatiran serta kemampuan Allah untuk memelihara kita, diberikan dalam 1 Raja-raja 17. Di ayat pertama, Elia berbicara kepada Ahab, raja Israel:

1 Raja-raja 17:1
“Lalu berkatalah Elia, orang Tisbe, dari Tisbe-Gilead, kepada Ahab: "Demi Tuhan yang hidup, Allah Israel, yang kulayani, sesungguhnya tidak akan ada embun atau hujan pada tahun-tahun ini, kecuali kalau kukatakan."

Oleh karena segala kejahatan yang dilakukan di Israel selama pemerintahan raja Ahab, Allah tidak akan menurunkan hujan selama tiga setengah tahun. Tentu saja, ini sama artinya dengan akan terjadinya kelaparan dahsyat di Israel, di mana Elia juga tinggal. Oleh karena itu, “secara natural” Elia akan segera mengalami kebutuhan mendesak akan makanan dan air, yang tentu saja akan sangat sulit dipenuhinya. Apakah Allah tahu bahwa Elia, abdi-Nya itu perlu makan dan minum, dan apa yang Dia lakukan mengenai hal itu? Ayat 2-6 mengatakan kepada kita:

1 Raja-raja 17:2-6
“Kemudian datanglah firman TUHAN kepadanya: "Pergilah dari sini, berjalanlah ke timur dan bersembunyilah di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan. Engkau dapat minum dari sungai itu, dan burung-burung gagak telah Kuperintahkan untuk memberi makan engkau di sana." Lalu ia pergi dan ia melakukan seperti firman TUHAN; ia pergi dan diam di tepi sungai Kerit di sebelah timur sungai Yordan. Pada waktu pagi dan petang burung-burung gagak membawa roti dan daging kepadanya, dan ia minum dari sungai itu.”

Allah mengetahui kebutuhan kita dan sekalipun beberapa dari kebutuhan itu seakan mustahil terpenuhi menurut hukum alam atau secara natural, Dia tahu bagaimana memenuhinya dengan cara yang lain: yaitu dengan cara SUPRANATURAL. Siapa dapat membayangkan demi memenuhi kebutuhan makan Elia, Allah mengirimkan burung gagak untuk membawakannya makanan yang ia butuhkan? Namun, itulah yang tertulis jelas di depan mata kita. Kita tidak harus selalu mengharapkan solusi yang natural, tetapi kita juga dapat mengharapkan solusi yang datang secara supranatural, yang berasal dari Allah yang sanggup melakukan segala hal, baik yang mungkin maupun tidak mungkin. Kita tidak menaruh harapan kepada Allah hanya ketika tampaknya masih ada solusi, tetapi juga ketika kita tidak melihat ada solusi apa pun. Sebagaimana dengan Elia, dengan kita pun, Allah tahu bagaimana memberikan solusinya dan bagaimana menjawab doa-doa kita melalui cara-cara yang melampaui cara-cara yang natural: Dia tahu CARA yang SUPRANATURAL. Namun, mari kita lanjutkan:

1 Raja-raja 17:7-9
“Tetapi sesudah beberapa waktu, sungai itu menjadi kering, sebab hujan tiada turun di negeri itu. Maka datanglah firman TUHAN kepada Elia: "Bersiaplah, pergi ke Sarfat yang termasuk wilayah Sidon, dan diamlah di sana. Ketahuilah, Aku telah memerintahkan seorang janda untuk memberi engkau makan."

Sungai menjadi kering. Airnya habis. Kehausan mengancam Elia. Apa yang ia lakukan? Tidak ada, sampai Allah memberinya hikmat dengan menunjukkan kepada Elia solusi-NYA sendiri, solusi yang SUPRANATURAL1, yang juga ia turuti:

1 Raja-raja 17:10-16
“Sesudah itu ia bersiap, lalu pergi ke Sarfat. Setelah ia sampai ke pintu gerbang kota itu, tampaklah di sana seorang janda sedang mengumpulkan kayu api. Ia berseru kepada perempuan itu, katanya: "Cobalah ambil bagiku sedikit air dalam kendi, supaya aku minum." Ketika perempuan itu pergi mengambilnya, ia berseru lagi: "Cobalah ambil juga bagiku sepotong roti." Perempuan itu menjawab: "Demi TUHAN, Allahmu, yang hidup, sesungguhnya tidak ada roti padaku sedikitpun, kecuali segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-buli. Dan sekarang aku sedang mengumpulkan dua tiga potong kayu api, kemudian aku mau pulang dan mengolahnya bagiku dan bagi anakku, dan setelah kami memakannya, maka kami akan mati." Tetapi Elia berkata kepadanya: "Janganlah takut, pulanglah, buatlah seperti yang kaukatakan, tetapi buatlah lebih dahulu bagiku sepotong roti bundar kecil dari padanya, dan bawalah kepadaku, kemudian barulah kaubuat bagimu dan bagi anakmu. Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itupun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi." Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya. Tepung dalam tempayan itu tidak habis dan minyak dalam buli-buli itu tidak berkurang seperti firman TUHAN yang diucapkan-Nya dengan perantaraan Elia.”

Berbicara “secara hukum alam atau secara natural”, siapa dapat membayangkan semua peristiwa di atas? Tidak ada seorang pun! Semua itu adalah kejadian yang mustahil terjadi. Namun, semua itu memang mustahil secara “natural”. Namun tidak mustahil secara SUPRAnatural. Sebagaimana Allah katakan: “Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah” (Lukas 18:27). Segala sesuatu mungkin bagi Allah. Sumber kuasa terbesar, yang tidak habis-habisnya di seluruh alam semesta ini adalah Allah kita.

Biarlah kita tidak membatasi cara-cara, yang melaluinya Allah mampu bertindak, dengan apa yang kita lihat di sekeliling kita. Karena kita mungkin tidak akan melihat apa pun di sekitar kita atau bahkan lebih buruk lagi, kita mungkin hanya akan melihat gua penuh singa atau kelaparan dan kehausan. Sebaliknya, marilah kita mengarahkan pandangan kita kepada-Nya, menantikan solusi dan bimbingan dari Dia sendiri, bahkan ketika tampaknya bagi kita sudah tidak ada solusi. Marilah kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan, dan percaya kepada-Nya dan Ia akan bertindak (Mazmur 37:5). Kita tidak tahu kapan Ia akan bertindak tetapi ktia tahu bahwa Ia pasti akan bertindak, dan ini cukup untukmemberi kita ketenangan di dalam Dia bahkan ketika segala hal di sekeliling kita tidak mampu memberi kita ketenangan itu.

Anastasios Kioulachoglou.



Catatan kaki

1. Yang saya maksud solusi “supranatural” adalah solusi yang datang secara supranatural, dari Allah. Solusi yang Allah rancangkan, kebalikan dari solusi yang KITA rancangkan (natural).