Firman Hidup
Berlangganan gratis

Perumpamaan tentang Orang yang Berhutang Sepuluh Ribu Talenta (Matius 18:15-22) (PDF) Versi PDF



Perumpamaan tentang Orang yang Berhutang Sepuluh Ribu Talenta (Matius 18:15-22)

Baru-baru ini saya bersilang pendapat dengan seseorang. Bukan untuk pertama kalinya hal ini terjadi sampai saya bertanya-tanya dalam hati: “Ya ampun, setiap kali bertemu orang ini, perilaku yang sama ia munculkan!” Saya merasa kesal dan saat berwaktu teduh di pagi hari saya pun berkata kepada Tuhan: “Ini terjadi lagi dan lagi. Rasanya saya tidak tahan lagi”. Lalu secara mengejutkan jawaban berikut muncul di pikiran saya: “Engkau melakukan dosa yang sama lagi dan lagi dan Aku mengampunimu”. Kita tahu bahwa kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26). Jika kita terluka tatkala saudara kita berbuat dosa terhadap kita, Allah juga terluka tatkala kita berbuat dosa terhadap Dia (juga tatkala kita berbuat dosa terhadap saudara kita). Tidak masalah apakah perilaku kita itu memengaruhi seseorang atau tidak. Terlepas apakah dosa yang kita lakukan itu melukai sesama kita atau tidak, dosa itu akan selalu melukai hati Allah. Dan, Dia selalu mengampuni kita!

Pengampunan Tanpa Batas

Di kemudian hari, ketika memikirkan kembali insiden ini, Allah mengingatkan saya akan perumpamaan tentang orang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Namun, sebelum membaca perumpamaan ini, mari kita melihat konteksnya. Dalam Matius 18:15-22 kita membaca:

Matius 18:15-22
"[Tuhan berkata] Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?" Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Perikop yang mengikuti jawaban Tuhan atas pertanyaan Petrus adalah perumpamaan tentang orang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi, seperti yang kita lihat, di sini konteksnya adalah tentang pengampunan. Yesus menjelaskan apa yang harus kita lakukan ketika seorang saudara berdosa terhadap kita. Lalu, Petrus mengajukan pertanyaan tentang berapa kali ia harus mengampuni saudaranya. Petrus tentu memikirkannya seperti ini─mungkin seperti cara saya dan banyak dari antara kita memikirkannya─: “Baiklah Tuhan… jika saudara ini berdosa terhadap saya untuk pertama kalinya, saya masih bisa memaafkannya, bahkan kalau dua kali atau tiga kali…. Saya masih bisa memberinya kesempatan. Tetapi, kalau sudah beberapa kali, cukuplah! Maksud saya, saya telah memberinya banyak kesempatan tetapi ia terus menerus melakukan kesalahan yang sama. Saya tidak dapat menanggungnya lagi. Saya sudah memberinya cukup kesempatan untuk berubah”. Bagi Petrus, 7 kali sudah cukup. Jika kesalahan yang sama diulangi lebih dari tujuh kali, ia mungkin tidak akan memberinya kesempatan lagi. Kesempatan yang diberikan sudah cukup. Coba bayangkan bagaimana seandainya Allah menggunakan prinsip yang sama terhadap kita! Bayangkan Dia menetapkan sebuah batasan di mana setelah batas tersebut Dia akan berkata: “Sudah cukup bagi-Ku. Aku sudah tidak tahan lagi terhadap kamu dan sifatmu. Aku sudah memberimu cukup kesempatan dan tadi itu adalah kesempatanmu yang terakhir. Sekarang keluar dari sini!” Untunglah bukan itu yang Allah lakukan! Allah kita adalah Allah yang pengampun. Hanya ada satu dosa yang tidak dapat diampuni, tetapi selain itu tidak ada, dan juga tidak ada batasan waktu untuk dosa dapat diampuni. Dalam 1 Yohanes 1:6-10, 2:1-2 Firman Tuhan berkata:

1 Yohanes 1:6-10, 2:1-2
“Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran. Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa. Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita. Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.”

Firman Allah mengatakan hal-hal ini supaya kita jangan berbuat dosa. Tetapi, jika kita berbuat berdosa dan mengakui dosa-dosa itu kepada Allah, maka Ia adalah setia dan adil sehingga Ia akan mengampuni kita! Di dalam Dia ada pengampunan tanpa batas! Bukan “hingga 7 kali dan setelah itu cukup!” Bukan “Aku sudah tidak dapat lagi mengampuni dosa-dosamu!” Bukan pula “Aku sudah cukup sabar menghadapi kamu dan dosa-dosamu!” Di dalam Allah ada pengampunan tanpa akhir. Saya percaya ini adalah kabar paling baik di dalam iman kristiani! Itulah mengapa Tuhan berkata kepada Petrus “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali”, yang artinya, “Tidak ada batasnya, Petrus; seperti Bapa mengampunimu, demikian pula kamu harus mengampuni saudaramu.” Sebagaimana pengampunan tanpa batas dari Bapa terhadap dosa-dosa kita, kita pun harus memberikan pengampunan tak terbatas kepada saudara-saudara kita yang telah berdosa terhadap kita. Ketika Anda berpikir bahwa Anda tidak dapat lagi mengampuni saudara Anda, pikirkanlah tentang ribuan kali Allah telah mengampuni Anda dan akan terus mengampuni Anda. Saya percaya Anda pun akan berubah pikiran.

Perumpamaan tentang Orang yang Berhutang Sepuluh Ribu Talenta

Di dalam konteks pengampunan tak terbatas terhadap satu sama lain inilah Tuhan menyampaikan perumpamaan tentang orang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Perumpamaan ini diberikan segera setelah percakapan-Nya dengan Petrus dan dicatat di ayat 23-35 dari Matius 18:

Matius 18:23-35
“Sebab [kata ini menghubungkan perumpamaan dengan apa yang baru saja Tuhan katakan kepada Petrus tentang pengampunan] hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan. Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."

Kata “sebab” yang membuka perumpamaan menghubungkan perumpamaan dengan apa yang Tuhan katakan dalam ayat 15-22 tentang pengampunan. Allah mengingatkan saya akan perumpamaan ini serta memberikan penjelasan berikut: Raja dalam perumpamaan tersebut adalah Allah, orang yang berhutang sepuluh ribu talenta adalah saya, orang yang berhutang 100 dinar kepada saya adalah saudara saya yang telah berbuat dosa terhadap saya, dan talenta adalah ukuran dosa. Dosa saya terhadap Allah tak terhitung jumlahnya. Banyak sekali, dosa yang sama yang saya lakukan hari demi hari, lagi dan lagi. Saya datang kepada Allah memohon pengampunan dan Dia mengampuni saya. Darah Yesus Kristus menyucikan saya dari segala dosa. Allah telah mengampuni semua hutang dosa saya yang lama dan Ia akan mengampuni ketika saya meminta ampun atas dosa-dosa saya yang baru, sehingga hari demi hari saya dapat hidup “bebas dari hutang”!! Tetapi kemudian datanglah orang ini, saudara saya ini, dan ia berbuat dosa terhadap saya. Dan saya tidak mau berpikir bahwa “Saya juga orang yang berhutang kepada Allah. Dia mengampuni dan menghapuskan hutang saya setiap hari. Saya harus melakukan hal yang sama terhadap saudara saya”. Sebaliknya yang saya katakan adalah: “Tidak. Saya tidak bisa terima semua hutangmu kepada saya. Sudah cukup. Saya tidak mau mengampunimu. Jebloskan saja orang ini, yang meminta pengampunan kepada saya, ke dalam penjara. Lemparkan dia ke sana. Saya tidak mau kenal orang ini lagi (atau cara yang lebih halus “Saya akan menjaga jarak dengan dia”)”. Ketika kita bersikap seperti ini, sesungguhnya kita telah melupakan betapa banyak Allah telah mengampuni kita! Dan bukan hanya itu saja, tetapi dengan “menghakimi” saudara kita, kita juga sedang mengundang penghakiman Allah terjadi dalam hidup kita sendiri. Perhatikan apa yang Tuhan katakan:

Matius 18:32-35
“Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

Ketika kita tidak mau mengampuni, tetapi bertindak sebagai hakim. Ketika kita menghakimi dan menjatuhkan hukuman kepada saudara kita, kita pun mengundang penghakiman Allah atas hidup kita dan dosa-dosa kita! Yesus sangat jelas dalam hal ini: “Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu”! Yang Yesus maksudkan adalah: “Waspadalah. Jika kamu bertindak sebagai hakim bagi dosa-dosa saudaramu terhadap kamu, Allah pun akan mulai bertindak sebagai HAKIM dan akan menjatuhkan hukuman atas dosa-doamu juga. Bukannya menerima pengampunan atas “hutang”, kita justru menerima hukuman! Bukannya mengalami hidup yang “bebas dari hutang”, kita justru akan “dijebloskan ke dalam penjara”. Kita mungkin tidak menyukai ini, tetapi inilah yang Tuhan katakan!

Pengampunan: Referensi Lain

Berikut ini beberapa referensi lain terutama bagi kita yang telah mengalami pengampunan dari Tuhan namun kesulitan untuk mengampuni orang lain:

Matius 6:12-15
Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.) Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."

Markus 11:25-26
“Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu." (Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.)

Lukas 6:36-37
“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." "Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."

Bagaimana seandainya Allah berhenti mengampuni kita? Mengerikan sekali! Bagaimana seandainya Allah menjatuhkan hukuman atas dosa-dosa kita? Mengerikan! Tetapi, itulah yang akan terjadi jikalau kita tidak mau mengampuni sesama kita melainkan menyimpan di dalam hati kita semua dosa dan luka yang telah mereka lakukan terhadap kita, jikalau kita menolak untuk memberikan anugerah pengampunan kita kepada mereka. Jika kita tidak mengampuni, kita pun tidak akan diampuni. Jika kita menghakimi, Allah akan menghakimi kita juga! Siapa yang ingin mengalami kejadian seperti ini? Saya tidak mau!

Efesus 4:32
“Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”

Juga Kolose 3:13
“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”

Jika Anda mencari ukuran pengampunan, inilah ukurannya: “Sama seperti Allah di dalam Kristus mengampuni kamu”, “Sama seperti Kristus mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian”.

Kesimpulan

Pengampunan bukan pilihan. Pengampunan adalah KEHARUSAN. Dosa adalah realitas dan sebagaimana orang lain berbuat dosa terhadap kita, kita pun berbuat dosa terhadap orang lain dan terhadap Allah. Kapan pun kita merasa kesulitan untuk mengampuni dan menghadapi perilaku serta dosa yang dilakukan berulang kali terhadap kita, pikirkanlah tentang pengampunan dari Allah. Pikirkanlah seberapa banyak kali Dia telah mengampuni kita dan akan terus mengampuni kita. Kita semua adalah orang yang berhutang sepuluh ribu talenta dan hutang orang kepada kita hanya beberapa sen saja. Lepaskanlah mereka! Ampunilah mereka!

Anastasios Kioulachoglou