Firman Hidup
Berlangganan gratis

Lahir dari Allah (PDF) Versi PDF



Lahir dari Allah



Relasi yang kita miliki dengan Allah adalah jenis relasi yang paling penting yang harus dipahami oleh kita sebagai orang-orang kristiani. Artikel ini membahas tentang topik ini secara lebih mendetail.

1. Jenis relasi antara kita dengan Allah

Hal pertama yang akan kita bahas dalam artikel ini adalah jenis relasi dengan Allah yang dapat kita miliki, sedang di bagian selanjutnya, kita akan belajar tentang bagaimana dan kapan relasi ini menjadi kenyataan. Kita akan memulainya dari Yohanes 1:12-13:

Yohanes 1:12-13
“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi ANAK-ANAK ALLAH, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang DIPERANAKKAN bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan DARI ALLAH.

Seperti yang kami katakan sebelumnya, ada beragam jenis relasi yang dapat dimiliki oleh seseorang. Salah satunya, dan yang paling penting, adalah relasi yang menghubungkan kita dengan mereka yang melahirkan kita. Namun, selain mereka yang melahirkan kita secara jasmani (orang tua manusia), ada yang lain yang darinya seseorang dapat dilahirkan. Dari siapakah? Jawabannya adalah dari Allah. Sebagaimana ayat di atas katakan, mereka yang percaya dalam nama-Nya, yaitu dalam nama Yesus Kristus, adalah ANAK-ANAK ALLAH dan mereka LAHIR DARI ALLAH. Dengan kata lain, ada dua jenis kelahiran yang dapat dialami oleh seseorang. Yang satu adalah kelahiran dari orang tua manusia dan yang lain adalah kelahiran dari Allah.

Fakta bahwa ada dua jenis kelahiran ditegaskan melalui ayat-ayat lain, misalnya dalam Yohanes 3:1-8, di mana mulai dari ayat 1-3 kita membaca:

Yohanes 3:1-3
“Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya." Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya JIKA SEORANG TIDAK DILAHIRKAN KEMBALI, IA TIDAK DAPAT MELIHAT KERAJAAN ALLAH.”

Seperti yang kita baca dari ayat-ayat ini, untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah, kita harus “dilahirkan kembali”. Frasa “dilahirkan kembali” adalah terjemahan dari frasa Yunani “gennetheanothen” yang artinya “dilahirkan dari atas2", di mana kata “atas” merujuk kepada Allah yang ada “di atas”. Dengan kata lain, “dilahirkan dari atas” sama artinya dengan “dilahirkan dari Allah”, yang di atas3. Oleh karenanya, ayat-ayat ini, seperti juga Yohanes 1:12-13, berbicara tentang kelahiran kedua yang dapat dialami oleh manusia, yaitu kelahiran yang dari Allah, yang oleh Yesus dijelaskan sebagai sebuah prasyarat untuk seseorang dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Fakta tentang dua jenis kelahiran ini, diterangkan bahkan lebih jelas lagi dalam ayat 4-5 dari pasal yang sama, di mana kita membaca:

Yohanes 3:4-5
“Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?" Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak DILAHIRKAN DARI AIR DAN ROH, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.

Seperti yang kita baca, kembali ayat-ayat ini mengatakan kepada kita bahwa ada dua jenis kelahiran yang harus dialami oleh seseorang untuk dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Satu adalah kelahiran dari air, di mana kata “air” merujuk pada kelahiran yang pertama – seperti yang akan kita lihat nanti, disebut juga sebagai kelahiran dari daging4. Ini adalah kelahiran yang dialami oleh semua orang, kelahiran dari manusia yaitu orang tua kita. Namun, selain dari kelahiran ini, ayat di atas berbicara juga tentang kelahiran kedua, yaitu kelahiran dari Roh. Mengenai kata “roh5", meskipun kata itu banyak dipergunakan, kata tersebut paling banyak dipergunakan untuk merujuk kepada i) Allah yang adalah Roh (Yohanes 4:24) atau kepada (ii) apa yang diberikan oleh Allah, yaitu roh. Apa kegunaan kata ini dalam perikop spesifik tertentu, adalah sesuatu yang harus dilihat dari konteks masing-masing perikop. Dalam kasus kita, jelas sekali bahwa kata ini digunakan untuk penggunaan yang pertama, karena kata itu berbicara tentang sang pemberi, tentang orang tua dari kelahiran yang kedua, yakni Allah. Ini juga sesuai dengan konteks dari perikop tersebut (lihat ayat 1-3) yaitu tentang kelahiran dari atas yang sama artinya dengan kelahiran yang dari Allah6.

Perbedaan antara kedua jenis kelahiran, juga apa yang dilahirkan dari keduanya, diterangkan secara lebih jelas lagi dalam ayat ke 6-8 pada pasal yang sama, di mana kita membaca:

Yohanes 3:6-8
APA YANG DILAHIRKAN DARI DAGING, ADALAH DAGING DAN APA YANG DILAHIRKAN DARI ROH ADALAH ROH. Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali [Yunani: lahir dari atas]. Angin7 breathes bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh."

Sebagaimana dalam kelahiran yang pertama, yakni kelahiran dari orang tua manusia kita, apa yang dilahirkan dari mereka sebagai daging adalah daging, demikian pula dalam kelahiran yang kedua, apa yang dilahirkan dari atas atau dari Allah adalah roh. Dan sebagaimana pancaindra, daging yang kita warisi dari kelahiran pertama memampukan kita untuk berkomunikasi dengan orang tua manusia kita, demikian pula dengan roh yang kita warisi dari kelahiran yang kedua, roh memampukan kita untuk berkomunikasi dengan ayah rohani kita, yakni Allah.

Jadi kesimpulannya: Allah telah memampukan manusia untuk menjadi anak-anak-Nya melalui kelahiran yang kedua, yang melaluinya Allah memberi kepada anak-anak-Nya apa yang merupakan keberadaan diri-Nya, yakni roh. Tentang bagaimana caranya agar seseorang dapat menjadi anak Allah, akan kita bahas dalam bagian selanjutnya.

2. Relasi kita dengan Allah: “Bagaimana”

2.1. Yohanes 1:12-13

Untuk melihat bagaimana seseorang dapat menjadi anak Allah, kita akan kembali melihat Yohanes 1:12-13, di mana kita membaca:

Yohanes 1:12-13
“Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi ANAK-ANAK ALLAH, YAITU MEREKA YANG PERCAYA DALAM NAMANYA: orang-orang yang DIPERANAKKAN bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan DARI ALLAH.”

Selain mengatakan bahwa seseorang dapat menjadi seorang anak Allah, ayat-ayat ini juga menyatakan bagaimana caranya. Seperti dikatakan di atas, untuk menjadi anak Allah kita harus percaya “dalam nama-Nya”, atau dalam nama yang diberikan oleh Allah untuk kita percayai, yang adalah nama satu-satunya, yakni nama Yesus Kristus. Sebagaimana dinyatakan dengan tegas oleh Petrus tentang nama ini dalam Kisah Para Rasul 4:12:

Kisah Para Rasul 4:12
“Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, SEBAB DI BAWAH KOLONG LANGIT INI TIDAK ADA NAMA LAIN YANG DIBERIKAN KEPADA MANUSIA yang olehnya kita dapat diselamatkan."

Satu-satunya nama yang Allah berikan yang olehnya kita dapat diselamatkan adalah nama Yesus Kristus. Apa tepatnya yang harus seseorang percayai mengenai Yesus Kristus agar ia dapat diselamatkan dan dilahirkan kembali, dinyatakan dalam Roma 10:9:

Roma 10:9
“Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.”

Yang diperlukan agar seseorang dapat diselamatkan dan dilahirkan kembali adalah percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati.

2.2 I Yohanes 5:1

Fakta bahwa satu-satunya cara untuk dilahirkan dari Allah adalah melalui percaya dalam Tuhan Yesus Kristus, ditegaskan juga oleh ayat-ayat lain yang berbicara mengenai topik yang sama. Salah satunya adalah 1 Yohanes 5:1, di sana kita membaca:

1 Yohanes 5:1
SETIAP ORANG YANG PERCAYA, BAHWA YESUS ADALAH KRISTUS, LAHIR DARI ALLAH; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga Dia yang lahir dari pada-Nya.

Selain itu 1 Yohanes 4:15 mengatakan:
“Barangsiapa mengaku, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah.”

Seperti yang dapat kita lihat, ketika seseorang percaya bahwa Yesus adalah Kristus, atau Mesias, atau yang dipilih Allah, ia lahir dari Allah. Jadi, ayat ini sebagaimana ayat sebelumnya, menyatakan bahwa satu-satunya cara agar lahir dari Allah adalah percaya bahwa Yesus adalah Kristus. Dan, karena hampir semua orang percaya sesuatu tentang Yesus (baik salah atau benar), maka haruslah jelas bahwa yang penting bukan bahwa seseorang percaya, tetapi yang penting adalah APA yang ia percaya, karena hanya dengan percaya pada apa yang Alkitab tetapkan sebagai sesuatu yang harus dipercayai untuk memperoleh keselamatanlah seseorang dapat sungguh-sungguh memperoleh keselamatan. Ini adalah poin yang sangat penting, karena Iblis telah menyesatkan begitu banyak orang sehingga mereka percaya kepada hal-hal “baik” tentang Yesus (misalnya bahwa Ia adalah “seorang yang baik”, Ia adalah “tokoh besar kemanusiaan” dll) namun mereka mengabaikan hal-hal mengenai keselamatan yang sangat mendasar seperti kebangkitan atau bahwa Dia adalah Mesias, Anak Allah.

Jadi, sebagai kesimpulan: Tidak semua dari kita adalah anak-anak Allah sebagaimana pendapat banyak orang, karena menurut mereka, “Kita semua percaya kepada Allah yang sama”. Mereka akan terkejut karena Alkitab tidak berbicara tentang Allah yang sama. Sebaliknya, Alkitab berbicara tentang Allah SATU-SATUNYA YANG BENAR, yakni Bapa dari Tuhan Yesus Kristus, dan selain dari itu adalah allah palsu, si Iblis, yang disebut “ilah zaman ini” dalam 2 Korintus 4:4. Selain itu, Alkitab juga menyatakan bahwa hanya ada SATU-SATUNYA jalan, dan bukan banyak jalan, yang dapat menuntun kepada ALLAH SATU-SATUNYA YANG BENAR. Jalan ini tidak lain adalah Yesus Kristus. Sebagaimana dikatakan oleh Yesus dalam Yohanes 14:6:

Yohanes 14:6
“Kata Yesus kepadanya: "AKULAH JALAN dan kebenaran dan hidup. TIDAK ADA SEORANGPUN YANG DATANG KEPADA BAPA, KALAU TIDAK MELALUI AKU.”

Yesus adalah SATU-SATUNYA jalan menuju kepada Allah. Dengan percaya pada apa yang Alkitab nyatakan untuk kita percayai, kita akan diselamatkan dan dilahirkan dari Allah. Semua percaya lainnya yang dianggap orang dapat memimpin kepada “allah tertentu” adalah jalan yang palsu yang meskipun dapat memimpin kepada seorang allah, jalan-jalan itu tidak akan memimpin kepada Allah dengan huruf “A” besar, Bapa dari Yesus Kristus, melainkan memimpin kepada allah palsu, si Iblis.

2.3 Galatia 3:22-4:7

Meskipun seharusnya sudah sangat jelas dari dua perikop di atas bahwa seseorang dapat lahir dari Allah dengan percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, mari kita belajar satu lagi perikop yang akan semakin menegaskan apa yang telah kita pelajari sejauh ini. Perikop ini diambil dari Galatia 3:22-4:7, dan kita akan memulainya dari ayat ke-22-248:

Galatia 3:22-24
“Tetapi Kitab Suci telah mengurung segala sesuatu di bawah kekuasaan dosa, supaya oleh karena iman dalam Yesus Kristus janji itu diberikan kepada mereka yang percaya. Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan. Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman.”

Banyak orang kristiani percaya bahwa hukum Taurat masih valid sampai sekarang dan mereka terus mengikutinya. Namun sebagaimana ayat-ayat di atas katakan dengan menggunakan bentuk waktu lampau, bahwa “hukum Taurat adalah PENUNTUN bagi kita sampai Kristus datang, SUPAYA KITA DIBENARKAN KARENA IMAN”. Jadi jelas sekali bahwa sekarang hukum Taurat itu sudah bukan lagi penuntun bagi kita. DAHULU ia memang penuntun tetapi sekarang bukan. Fakta bahwa kita tidak lagi berada di bawah hukum Taurat, semakin diperjelas dalam Galatia 3:25, di mana kita membaca:

Galatia 3:25
“Sekarang iman itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan penuntun.”

Siapakah yang dahulu menjadi penuntun kita? Hukum Taurat. Apakah kita masih berada di bawah pengawasan seorang penuntun? TIDAK. Mengapa? Karena “sekarang iman itu telah datang” dan dengan percaya kepada Yesus Kristus dan menjadikan Dia sebagai Tuhan kita, kita dapat diselamatkan, dan pada saat yang sama kita dilahirkan dari Allah, sehingga kita pun menjadi anak-anak Allah. Sebagaimana ayat 26-28 katakan kepada kita:

Galatia 3:26-28
SEBAB KAMU SEMUA ADALAH ANAK-ANAK ALLAH KARENA IMAN DI DALAM YESUS KRISTUS. Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus. Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus.”

SIAPAKAH kita? Kita adalah anak-anak Allah. BAGAIMANAKAH agar kita dapat menjadi anak-anak Allah? DENGAN PERCAYA KEPADA YESUS KRISTUS. Dalam hal ini, tidak ada orang Yahudi atau orang bukan Yahudi, tidak ada laki-laki atau perempuan, tidak ada hamba atau orang merdeka, karena kita semua yang telah menjadikan Yesus sebagai Tuhan kita dan percaya bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, adalah satu, semuanya adalah anggota keluarga yang sama, keluarga Allah. Selanjutnya ayat 1-7 dari pasal keempat berkata:

Galatia 4:1-7
“Yang dimaksud ialah: selama seorang ahli waris belum akil balig, sedikitpun ia tidak berbeda dengan seorang hamba, sungguhpun ia adalah tuan dari segala sesuatu; tetapi ia berada di bawah perwalian dan pengawasan sampai pada saat yang telah ditentukan oleh bapanya. Demikian pula kita: selama kita belum akil balig, kita takluk juga kepada roh-roh dunia. Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak. Dan karena KAMU ADALAH ANAK, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: "ya Abba, ya Bapa!" JADI KAMU BUKAN LAGI HAMBA, MELAINKAN ANAK; JIKALAU KAMU ANAK, MAKA KAMU JUGA ADALAH AHLI-AHLI WARIS, OLEH ALLAH.”

Siapakah kita? Apa identitas kita? Kita adalah anak, anak laki-laki dan anak perempuannya Allah. Oleh karenanya, apakah kita berhak untuk memanggil Allah Bapa kita? Ya, tentu saja, karena kita adalah anak-anak-Nya. Itulah sebabnya sering sekali sebutan “Bapa” digunakan untuk menyebut Allah di dalam Perjanjian Baru. Karena Allah sesungguhnya adalah Bapa kita, Dia adalah “Abba kita, Bapa kita”, sebagaimana teks di atas katakan, dan sebagaimana Kristus memanggil-Nya dalam Markus 14:36. Di sana, Kristuslah yang memanggil Dia “Ya Abba, ya Bapa”. Sekarang, dengan Roh Kristus di dalam kita, kita juga memanggil-Nya dengan sebutan yang sama. Teks di atas juga menyatakan bahwa sekarang kita bukan lagi hamba melainkan ANAK-ANAK ALLAH, yang berarti kita adalah ahli waris, yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus. Sebagaimana dikatakan dalam Roma 8:17:

Roma 8:17
DAN JIKA KITA ADALAH ANAK, MAKA KITA JUGA ADALAH AHLI WARIS, MAKSUDNYA ORANG-ORANG YANG BERHAK MENERIMA JANJI-JANJI ALLAH, YANG AKAN MENERIMANYA BERSAMA-SAMA DENGAN KRISTUS,”

Bagaimana ini diperoleh? Dengan percaya bahwa Allah telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, dengan menjadikan Dia sebagai Tuhan kita, dan mengakui-Nya demikian. Bukankah ini luar biasa?

3. SEKARANG kita adalah anak-anak Allah

Pada bagian di atas kita belajar tentang relasi kita dengan Allah dan bagaimana hal itu dapat menjadi sebuah realitas. Ayat lain yang juga berbicara tentang realitas ini terdapat dalam 1 Yohanes 3:1-3. Di sana kita membaca:

1 Yohanes 3:1-3
“Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia. Saudara-saudaraku yang kekasih, SEKARANG KITA ADALAH ANAK-ANAK ALLAH, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya. Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.

Siapakah kita? Kita adalah anak-anak Allah. Kapan? Sekarang, pada saat ini. Ini adalah realitas yang terjadi SEKARANG, dan dimulai dari hari ketika kita menjadikan Yesus sebagai Tuhan kita dan percaya bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati. Jika kita begitu memikirkan dan memedulikan anak-anak kita, apalagi Allah, Ia akan terlebih lagi memikirkan dan memedulikan anak-anak-Nya sendiri. Sebagaimana Matius 7:11 dan Mazmur 40:5 katakan dengan tegas kepada kita:

Matius 7:11
“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, APALAGI Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."

dan Mazmur 40:6
“Banyaklah yang telah Kaulakukan, ya TUHAN, Allahku, perbuatan-Mu yang ajaib dan maksud-Mu untuk kami. Tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Engkau! Aku mau memberitakan dan mengatakannya, tetapi terlalu besar jumlahnya untuk dihitung.”

Allah memikirkan dan memedulikan kita, anak-anak yang dikasihi-Nya, jauh lebih banyak (maksud-Nya untuk kita terlalu besar jumlahnya untuk dihitung, demikian dikatakan dalam Mazmur 40:5) daripada kita memikirkan dan memedulikan anak-anak kita. Sebagai ayah yang baik (yang terbaik), Allah selalu menyertai kita, melindungi dan menjaga kita. Sebagaimana, Dia Sendiri menegaskannya serta mendorong kita:

Ibrani 13:5-6
"Aku SEKALI-KALI tidak akan membiarkan engkau dan Aku SEKALI-KALI tidak akan meninggalkan engkau." Sebab itu dengan yakin kita dapat berkata: "Tuhan adalah Penolongku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?"

dan Matius 10:30-31
“Dan kamu, rambut kepalamupun terhitung semuanya. SEBAB ITU JANGANLAH KAMU TAKUT…”

Kita punya alasan untuk merasa takut jika kita tidak memiliki Tuhan sebagai penolong kita. Tetapi, itu tidak terjadi sekarang. Sekarang kita adalah anak-anak Allah, kita adalah anak-anak dari Pencipta langit dan bumi, Pencipta segala sesuatu baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Sesungguhnya, apa yang tidak mungkin, bila kita memiliki Bapa yang begitu luar biasa? Adakah hal-hal yang membuat kita takut? “Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan, atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?...dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita” (Roma 8:35-37). Karena sebagaimana Yesus katakan dalam Yohanes 14:12 dan Paulus tegaskan dalam Filipi 4:13:

Yohanes 14:12
“Aku berkata kepadamu: SESUNGGUHNYA BARANGSIAPA PERCAYA KEPADA-KU, IA AKAN MELAKUKAN JUGA PEKERJAAN-PEKERJAAN YANG AKU LAKUKAN, BAHKAN PEKERJAAN-PEKERJAAN YANG LEBIH BESAR DARI PADA ITU. Sebab Aku pergi kepada Bapa;

dan Filipi 4:13
SEGALA PERKARA DAPAT KUTANGGUNG DI DALAM DIA YANG MEMBERI KEKUATAN KEPADAKU.”

Itulah kekuatan yang kita miliki sebagai anak-anak Allah. Itu bukan kekuatan yang berasal dari kelahiran kita yang pertama tetapi dari kelahiran kita yang kedua, kelahiran yang dari Allah. Itu bukan kekuatan yang kita miliki karena “percaya pada kemampuan diri sendiri”, tetapi kekuatan yang kita miliki karena percaya kepada Kristus dan kekuatan yang berasal dari Allah yang Maha Kuasa, yang sekarang sudah menjadi Bapa kita dan yang menyertai kita dalam setiap langkah hidup kita, tatkala kita berjuang untuk melakukan kehendak-Nya, bukan kehendak kita sendiri tetapi kehendak Bapa kita.

Anastasios Kioulachoglou