Firman Hidup
Berlangganan gratis

Kekhawatiran, Doa dan Percaya (PDF) Versi PDF



Kekhawatiran, Doa dan Percaya



Stres tentunya merupakan salah satu masalah utama pada zaman kita sekarang ini. Media dan para dokter sangat sering membicarakan tentang hal ini, bahkan semua kategori profesional (psikoanalis, psikolog, terapis, dll) telah dikembangkan sedemikian rupa untuk membantu orang mengatasinya. Namun, “solusi” yang mereka tawarkan biasanya hanya berupa nasihat, atau yang lebih parah lagi, berupa tablet atau pil yang mungkin hanya sedikit berbeda dari obat-obatan biasa – yang tidak mampu memberi jawaban yang nyata, dan semua ini disebabkan oleh karena mereka mengabaikan apa yang Firman Allah katakan tentang hal itu. Oleh karenanya, janganlah kita menjadi sebodoh itu, sebaliknya kita perlu melihat pada apa yang Firman Allah katakan dan inilah yang akan kita lakukan pada hari ini.

1. Filipi 4:4-7 – “Janganlah kamu khawatir tentang apa pun juga, tetapi…”

Meskipun banyak bagian dari Firman Allah berbicara tentang masalah kekhawatiran, sesungguhnya Filipi 4:4-7 saja telah cukup memperlihatkan kepada kita apa yang Allah pikirkan tentang kekhawatiran. Di sana kita membaca:

Filipi 4:4-7
Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat! Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”

Ayat ke-4 menasihatkan agar kita bersukacita di dalam Tuhan, bahkan bersukacita di dalam Tuhan senantiasa. Seperti dikatakan ayat tersebut bahwa “Tuhan sudah dekat”, artinya ia sangat dekat dengan kita. Itulah sebabnya kita seharusnya jangan “khawatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginan kita kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Kata “tetapi” dalam ayat tersebut menciptakan sebuah kontras antara apa yang tidak boleh kita lakukan, yaitu jangan khawatir, dan apa yang harus kita lakukan, yaitu “menyatakan dalam segala hal keinginan kita kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” Kontras lainnya adalah antara perkataan “apa pun” dan “segala hal”. Kita dinasihatkan untuk tidak khawatir tentang APA PUN juga tetapi kita harus menyatakan dalam SEGALA HAL keinginan kita kepada Allah. Apabila kita turuti arahan Firman Tuhan ini, sebagaimana yang ayat 7 katakan, janji yang akan kita terima adalah “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”

Jadi, solusi yang Allah tawarkan untuk mengatasi masalah kekhawatiran sangatlah sederhana: solusinya terdiri dari sebuah “larangan”: yakni “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga” dan sebuah “anjuran”: yakni “nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur”, dan hasilnya adalah damai, bahkan “damai sejahtera Allah [damai sejati satu-satunya], yang melampaui segala akal.”

2. 1 Petrus 5:7 – “Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya”

Filipi 4 di atas bukan satu-satunya perikop yang berbicara tentang masalah kekhawatiran. 1 Petrus 5:7 juga berbicara tentang masalah yang sama. Di sana kita membaca:

1 Petrus 5:6-7
“Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.”

Mengambil sesuatu dari diri kita dan menyerahkannya kepada orang lain membutuhkan sebuah tindakan. Itulah yang Allah minta untuk kita lakukan dengan kekhawatiran kita1: daripada menanggungnya, Dia meminta kita untuk mengambil tindakan, tetapi bukan dengan cara memelihara kekhawatiran itu, melainkan dengan menyerahkan kekhawatiran itu KEPADA-NYA. Dan ini bukan hanya kekhawatiran tertentu yang mungkin kita pikir lebih penting dari yang lain, tetapi SEGALA KEKHAWATIRANMU.Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” kata Firman Tuhan. Terlebih lagi, dikatakan di bagian Alkitab lainnya:

Mazmur 55:23
Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.”

Oleh karena itu, jelaslah bahwa pertanyaannya bukan apakah Allah akan memelihara kita atau apakah Dia mau menjadi penanggung segala kekhawatiran kita, melainkan apakah kita memiliki kerendahan hati (“rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat…..serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya”) untuk menyerahkan segala kekhawatiran kita KEPADA-NYA, karena itulah panggilan-Nya kepada kita.

3. Matius 6:25-34 – “Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum”

Selain kedua ayat di atas tentang masalah kekhawatiran, Matius 6:25-34 juga berbicara tentang hal yang sama. Di sana kita membaca:

Matius 6:25-34
“Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir [Yunani: “merimno”, kata yang sama yang digunakan dalam Filipi 4:6 dan 1 Petrus 5:7] akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."

Makanan, air dan pakaian adalah beberapa dari kebutuhan dasar kita. Namun, bukan kita saja yang mengetahui hal ini. ALLAH pun mengetahuinya!!! Itulah sebabnya melalui Tuhan Yesus Kristus, Ia menasihatkan kita untuk tidak mengkhawatirkan, “Apa yang akan kita makan” atau “Apa yang akan kita minum” atau “Apa yang akan kita pakai”…… karena Bapa yang di sorga tahu, bahwa kita memerlukan semuanya itu2". Jadi, apabila orang bertanya apa harus mereka lakukan agar tidak khawatir, ayat 33 menasihatkan: “carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Carilah DAHULU kerajaan Allah, dan kebenaran-Nya maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Juga dikatakan dalam Matius 7:7-11:

Matius 7:7-11
“MINTALAH, maka akan diberikan kepadamu; CARILAH, maka kamu akan mendapat; KETOKLAH, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan. Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."

Siapakah orang yang mendapat? Siapakah orang yang baginya pintu dibukakan? Kepada siapakah Allah memberi yang baik? Kepada mereka yang meminta kepada-Nya, kepada mereka yang mengetok pintu-Nya. Oleh karena itu, sekali lagi, sebagaimana dikatakan dalam 1 Petrus 5:7, masalahnya di sini bukan apakah Allah mau mengambil tindakan dan memenuhi semua kebutuhan kita, melainkan apakah kita mau mengambil tindakan, yaitu untuk tidak khawatir dan untuk berdoa menyerahkan segala kekhawatiran kita kepada-Nya (itulah tindakan kita, ditambah hal lain yang mungkin Allah perintahkan untuk kita lakukan). Setelah itu, tugas Dialah untuk bertindak, yaitu menjawab doa kita, bahkan melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan (Efesus 3:20), hanya tentu saja JIKA apa yang kita doakan itu sesuai dengan kehendak-Nya. Dan tentang hal ini, kita akan maju ke poin berikutnya.

4. 1 Yohanes 5:14-15

Tentang keselarasan antara apa yang kita doakan dengan kehendak-Nya, 1 Yohanes 5: 14-15 mengatakan:

1 Yohanes 5:14-15
“Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya. Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepada-Nya.”

Ayat ini tidak mengatakan, “Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya”, tetapi, “Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya MENURUT KEHENDAK-NYA.” Jadi, agar doa kita didengar, kita harus berdoa menurut kehendak-Nya, yang dalam Roma 12:2 dikatakan sebagai “apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Jadi, kita perlu mengetahui apa kehendak Allah agar kita tahu apa yang dapat kita harapkan dari-Nya. Untuk dapat mengetahui kehendak seseorang, orang itu harus terlebih dahulu memberitahukan kehendaknya kepada kita. Demikian pula untuk mengetahui kehendak Allah, Allah harus terlebih dahulu memberitahukan apa kehendak-Nya kepada kita, baik melalui Alkitab, Firman-Nya yang tertulis, ataupun melalui Roh Kudus yang telah Dia karuniakan kepada kita ketika kita dilahirkan kembali. Mengenai yang pertama, sebagai contoh, ketika Firman Allah berkata agar kita tidak khawatir tentang apa yang kita makan, minum dan pakai tetapi kita harus mencari terlebih dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, Firman Allah tersebut memberitahukan kepada kita apa kehendak Allah tentang kekhawatiran dan prioritas, yaitu: carilah dahulu kerajaan Allah, jangan khawatir tentang apa pun juga, nyatakan dalam segala hal keinginan kita kepada Allah, “maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Hal yang serupa berlaku bagi banyak hal lain dengan aplikasi yang berlaku umum untuk semua orang, seperti tentang keselamatan, manifestasi roh, kesembuhan, dll. Untuk hal-hal ini dan hal lain yang telah dinyatakan dengan jelas di dalam Firman Allah sebagai kehendak-Nya, kita tidak perlu menantikan Tuhan untuk datang dan memberitahukan kepada kita kehendak-Nya secara pribadi, karena Dia telah menyatakan kehendak-Nya ini di dalam Firman-Nya.

Namun, selain dari hal-hal yang memiliki aplikasi umum serta telah sepenuhnya dinyatakan di dalam Alkitab - Firman Allah yang tertulis - ada juga hal lain, hal-hal khusus, yang oleh karena sifatnya yang khusus, tidak dinyatakan secara langsung di dalam Alkitab. Misalnya, selain dari beberapa petunjuk umum tentang apa yang dapat kita harapkan3, Alkitab tidak memberitahukan bahwa pekerjaan x, misalnya, adalah untuk saya atau besok saya harus pergi ke tempat ini atau itu untuk melakukan perbuatan ini atau itu. Jadi, bagaimana saya dapat mengetahui apa kehendak Allah untuk hal-hal lain atau hal-hal semacam itu? Jawabannya adalah melalui Roh Kudus yang Allah karuniakan kepada kita untuk berkomunikasi dengan kita. Allah bukan hanya berada di dalam Firman-Nya yang tertulis, seperti yang banyak orang kristiani pikirkan. Dia pun berada di dalam kita, melalui Roh Kudus yang dikaruniakan-Nya kepada kita yang dimanifestasikan melalui sembilan manifestasi yang digambarkan dalam 1 Korintus 12:8-10, yakni: kata-kata hikmat, kata-kata pengetahuan, iman, karunia untuk menyembuhkan, kuasa untuk mengadakan mukjizat, bernubuat, membedakan bermacam-macam roh, berbahasa roh, menafsirkan bahasa roh. Dari kesembilan manifestasi tersebut, kata-kata hikmat dan kata-kata pengetahuan diberikan secara khusus kepada kita agar kita dapat memiliki pengetahuan dan hikmat untuk situasi tertentu yang tidak mungkin diperoleh hanya melalui kelima panca indra kita. Jadi, bila saya ingin tahu apakah pekerjaan ini atau pekerjaan itu adalah kehendak Allah, saya harus datang kepada Bapa, mendiskusikannya dengan Dia, dan Dia akan memberitahukan kepada saya apakah baik dan bijaksana untuk saya mempertimbangkan pilihan itu. Sebagaimana Yakobus 1:5 katakan:

Yakobus 1:5
“Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, --yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit--,maka hal itu akan diberikan kepadanya”

Allah sungguh ingin agar kita (dan ini adalah KEHENDAK-NYA) datang kepada-Nya untuk menerima hikmat yang berkelimpahan, yang diberikan tanpa membangkit-bangkit.

Jadi kesimpulannya: Allah tidak mengatakan bahwa semua kehendak-Nya adalah apa yang tercatat dalam Firman tertulis-Nya, seperti pendapat banyak orang. Sebagian besar kehendak-Nya yang memiliki aplikasi umum untuk semua orang dan yang kita semua butuhkan ada di sana. Namun ada hal-hal khusus yang tidak dapat tercakup dalam Firman tertulis-Nya. Ini meliputi sebagian besar dari keputusan sehari-hari yang harus kita ambil dan tentu saja Allah pun mempunyai kehendak-Nya atas semua itu. Sesungguhnya, Dia mempunyai kehendak-Nya atas segala sesuatu yang kita lakukan, dan agar kita dapat mengetahui apa kehendak-Nya, yang tidak dinyatakan secara jelas di dalam Alkitab, kita harus meminta agar Dia menunjukkannya kepada kita, menyatakannya kepada kita, melalui Roh Kudus-Nya.

Kembali ke 1 Yohanes 5:14-15, kita harus tahu dengan pasti, baik melalui Firman-Nya yang tertulis dan/atau terucap, apakah yang menjadi kehendak Allah tentang hal-hal yang kita minta kepada-Nya. Apabila yang kita minta dan doakan sesuai dengan kehendak-Nya, Ia pasti akan mengabulkan doa kita jikalau kita percaya kepada-Nya. Sebaliknya, apabila permintaan atau doa kita tidak sesuai dengan kehendak-Nya, sebagaimana dijelaskan dalam 1 Yohanes 5:14-15 …. doa kita tentu tidak akan dikabulkan-Nya.

5. "Meminta dalam iman"

Kita telah belajar dari Yakobus 1:5 yang menasihatkan kita untuk meminta hikmat kepada Allah. Kita membaca lanjutan dari ayat yang sama:

Yakobus 1:5-8
“Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, --yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit--,maka hal itu akan diberikan kepadanya. Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. Sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya.”

Sebagaimana telah kita pelajari sebelumnya, agar dapat menerima dari Allah, ada 2 hal yang diperlukan:

i) meminta kepada-Nya dan

ii) apa yang kita minta haruslah seturut dengan kehendak-Nya.

Selain kedua hal ini, ada syarat yang ketiga, yaitu iman. Ayat di atas mengatakan bahwa apabila seseorang tidak meminta dalam iman, ia tidak akan menerima apa pun dari-Nya. Mengenai arti iman, anak kalimat “Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang” (Yakobus 1:6) mengontraskan iman dan bimbang sebagai sebuah pertentangan. Jadi, tatkala kita memercayai Tuhan kita memiliki iman dan tatkala kita meragukan-Nya kita tidak memiliki iman. Jadi, iman adalah memercayai Allah dan melaluinya kita mengizinkan Dia untuk bertindak dalam hidup kita. Ketiadaan iman sama sekali tidak mengecilkan kuasa Allah untuk menolong kita. Kuasa Allah tetap sama baik kita memiliki iman atau tidak. Namun, apakah kita mau mengizinkan-Nya menggunakan kuasa-Nya itu di dalam hidup kita tergantung pada apakah kita memercayai-Nya. Kita tidak akan membukakan pintu bagi seseorang yang tidak kita percayai. Demikian juga, kita tidak mengizinkan Allah bertindak apabila kita tidak memercayai-Nya.

Sebagaimana Matius 13:58 nyatakan dengan jelas, ketika Kristus berada di daerah asal-Nya, “karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mukjizat diadakan-Nya di situ.” Tentu saja, Kristus sanggup melakukan perbuatan yang sama di sana seperti yang Ia lakukan di tempat-tempat lain. Namun, orang-orang di daerah itu tidak mengizinkan hal itu, oleh karena ketidakpercayaan mereka.

Sekarang mengenai seberapa besarkah iman yang diperlukan untuk kita dapat menerima dari Allah, Matius 17:20 menyatakan dengan jelas bahwa iman yang terkecil pun sudah cukup untuk membuat perkara-perkara besar terjadi. Sebagaimana dikatakan dalam:

Matius 17:20
“Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, --maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.”

Juga dikatakan dalam Markus 11:24:
“Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.”

Menurut Bullinger dan Zodhiates, kata “biji sesawi” “merupakan sebuah ungkapan untuk menggambarkan partikel yang terkecil4." Jadi, menurut Yesus, bahkan iman terkecil pun, yang hanya sebesar biji sesawi, telah cukup untuk memindahkan gunung, dan membuat apa pun yang kita doakan kepada Allah diberikan-Nya kepada kita JIKA (hanya JIKA), sebagaimana 1 Yohanes 5:14-15 katakan, apa yang kita minta itu seturut dengan kehendak Allah. Persyaratan inilah yang seringkali tidak kita perhitungkan, dan kita heran mengapa kita tidak menerima “apa saja yang kita minta dan doakan,” padahal kita telah memintanya dalam doa dan percaya. Memang tidaklah cukup untuk hanya berdoa dan percaya bahwa kita telah menerima apa yang kita doakan. Apa yang kita doakan dan percaya itu haruslah seturut dengan kehendak Allah. Apabila doa kita itu benar-benar sesuai dengan kehendak Allah, bahkan iman yang besarnya hanya sekecil biji sesawi saja telah cukup untuk membuat doa kita dikabulkan. Sebaliknya, apabila doa kita itu tidak sesuai dengan kehendak Allah, bahkan iman terbesar pun tidak akan membuat doa itu dikabulkan, setidaknya dipandang dari pihak Allah. Oleh karena itu, persamaannya di sini bukan “percaya = menerima” tetapi “saya percaya apa yang telah saya ketahui sebagai kehendak Tuhan, dan saya menerimanya.” Karenanya, iman itu bukan sebuah proses di mana saya meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya akan menerima dari Tuhan apa pun gagasan yang muncul di kepala saya. Sebaliknya, iman adalah kepercayaan saya kepada-Nya, yang dinyatakan oleh tindakan saya, yang melaluinya saya melakukan apa yang telah saya ketahui sebagai kehendak-Nya. Oleh karena itu, seandainya pun Allah memberitahukan kepada saya bahwa apa yang saya doakan itu bukan kehendak-Nya dan saya tidak boleh melakukannya, bila saya benar-benar mengikuti arahan-Nya dan saya tidak melakukannya, maka tindakan saya itu menunjukkan saya percaya kepada-Nya. Jadi, pertama-tama kita memiliki atau mengetahui dahulu Firman atau kehendak Allah (ucapan atau tertulis) tentang sesuatu, KEMUDIAN kita memercayainya dan bertindak sesuai dengan apa yang dikatakannya.

6. Mazmur 66:18

Akhirnya, untuk menutup artikel ini, saya ingin menunjukkan satu lagi penyebab mengapa Allah tidak mau mendengar doa. Ini diberikan dalam Mazmur 66:18:

Mazmur 66:18
“Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar.”

Jelas dinyatakan dalam ayat tersebut, bahwa niat jahat yang ada di dalam hati seseorang membuat Tuhan tidak mau mendengar doa orang itu. Sebagaimana Petrus menegur dengan keras Simon si penyihir:

Kisah Para Rasul 8:21-22
“Tidak ada bagian atau hakmu dalam perkara ini, sebab hatimu tidak lurus di hadapan Allah. Jadi bertobatlah dari kejahatanmu ini.....”

Allah tertarik dengan HATI kita, karena hanya di sanalah Ia tinggal. Bila hati seseorang jahat dan tidak lurus di hadapan-Nya, tentunya hati itu bukan tempat yang memadai bagi-Nya. Sebagaimana Amsal 15:29 katakan:

Amsal 15:29
“TUHAN itu jauh dari pada orang fasik, tetapi doa orang benar didengar-Nya.”

Tentu saja ada orang berhati jahat di luar sana. Dan, alasan saya menambahkan bagian ini adalah karena Anda mungkin saja bertemu dengan orang-orang seperti ini pada suatu hari nanti. Jadi, jika seseorang mengatakan kepada Anda bahwa ia tidak menerima apa pun dari Allah, mungkin penyebabnya (tetapi bukan penyebab satu-satunya) adalah karena ia punya niat jahat dalam hatinya, dan Tuhan tidak mau mendengar doa orang-orang seperti itu.

6. Kesimpulan

Dalam artikel ini, kita telah belajar tentang kekhawatiran, juga apa yang Firman Allah katakan tentang kekhawatiran. Seperti yang telah kita pahami: Allah ingin agar kita tidak khawatir tentang apa pun juga tetapi menyerahkan segala kekhawatiran kita kepada-Nya melalui doa. Selain itu, kita juga telah mengerti bahwa harus ada keselarasan antara apa yang kita minta dan doakan dengan kehendak-Nya yang baik, berkenan dan sempurna. Allah tidak memiliki ataupun memberi sesuatu yang kurang nilainya. Kehendak-Nya adalah sempurna, dan apa yang Ia sediakan bagi kita juga SEMPURNA (Yakobus 1:17).

Sebagai kesimpulan:

Amsal 3:5-8
“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan; itulah yang akan menyembuhkan tubuhmu dan menyegarkan tulang-tulangmu.”

Anastasios Kioulachoglou

 



Catatan kaki

1. Kata “kekuatiran” dalam ayat ini adalah terjemahan dari kata benda bahasa Yunani “merimna”. Bentuk kata kerjanya ["merimnao"] diterjemahkan “kuatir” dalam Filipi 4:4-7.

2. Ayat ini tidak mengatakan “jangan berdoa” melainkan “JANGAN KUATIR karena Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu.” Pengajaran ini melarang kita untuk khawatir dan bukan melarang kita untuk berdoa, karena berdoa justru disarankan untuk melawan kekhawatiran (lihat Filipi 4:4-7, 1 Petrus 5:7 dan Matius 7:7-11).

3. Contohnya Alkitab memberitahukan kepada kita bahwa setiap pemberian Allah itu baik dan sempurna (Yakobus 1:17), dan Allah dapat melakukan lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan (Efesus 3:20), dan bahwa berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya (Amsal 9:22) dll

4. Lihat E.W.Bulliinger: “A Critical Lexicon and concordance to the English and Greek New Testament”, Zondervan Publishing House, 1975, p. 513 dan SpirosZodhiates: “The Complete Word Study Dictionary”, AMG Publishers, 1993 p. 1290.