Firman Hidup
Berlangganan gratis

Kasihilah Allahmu dengan Segenap Hatimu: Apa Artinya? (PDF) Versi PDF



Kasihilah Allahmu dengan Segenap Hatimu: Apa Artinya?



Orang Farisi dan ahli Taurat mencoba beberapa kali untuk mencobai Yesus dengan mengajukan beragam pertanyaan. Namun, ada beberapa dari antara mereka yang bertanya karena benar-benar ingin mendapatkan jawaban. Ada satu pertanyaan yang ditanyakan 2 kali oleh 2 orang yang berbeda, yang satu ingin belajar dan yang lain ingin mencobai. Pertanyaan mereka adalah tentang hukum yang terutama. Mari kita baca ayat-ayatnya:

Matius 22:35-38
“Dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: "Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" Jawab Yesus kepadanya: "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.”

Markus 12:28-30
“Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: "Hukum manakah yang paling utama?" Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.

1. Mengasihi Allah: apa artinya

Seperti yang kita baca, mengasihi Allah dengan segenap hati adalah perintah yang paling utama. Tetapi, apa maksud sesungguhnya dari perintah tersebut? Sayangnya kita hidup di zaman di mana makna dari kata kasih hanyalah merujuk pada perasaan. Mengasihi seseorang disalahartikan menjadi “merasakan yang baik tentang mereka”. Namun, “merasakan yang baik tentang” seseorang itu tidak sepenuhnya sama dengan arti mengasihi yang dimaksud dalam Alkitab. Karena arti mengasihi secara alkitabiah berhubungan erat dengan tindakan, dan arti spesifik dari mengasihi Allah adalah melakukan apa yang Allah inginkan, yaitu perintah-perintah-Nya dan kehendak-Nya. Yesus menjelaskannya secara gamblang dengan berkata:

Yohanes 14:15
Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.

Dan Yohanes 14:21-24
Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya." Yudas, yang bukan Iskariot, berkata kepada-Nya: "Tuhan, apakah sebabnya maka Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?" Jawab Yesus: "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku;

Juga dalam Ulangan 5:8-10 (lihat juga Keluaran 20:5-6) kita membaca:
“Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.”

Mengasihi Allah dan berpegang pada perintah-perintah-Nya, yakni Firman Allah, adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Yesus telah mengatakannya dengan jelas sekali. Orang yang mengasihi Dia adalah orang yang melakukan Firman-Nya dan orang yang tidak melakukan Firman-Nya tidak mengasihi Dia! Jadi arti dari mengasihi Allah, atau melakukan hukum yang utama, bukanlah duduk dengan hati gembira di bangku gereja setiap Minggu pagi. Arti sesungguhnya dari mengasihi Allah adalah berusaha melakukan apa yang berkenan kepada-Nya, apa yang menyenangkan hati-Nya. Dan ini adalah sesuatu yang dapat kita lakukan setiap hari.

1 Yohanes mencantumkan lebih banyak ayat yang menegaskan arti sesungguhnya dari mengasihi Allah.

1 Yohanes 4:19-21
“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita. Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.”

1 Yohanes 5:2-3
“Inilah tandanya, bahwa kita mengasihi anak-anak Allah, yaitu apabila kita mengasihi Allah serta melakukan perintah-perintah-Nya. Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat.”

1 Yohanes 3:22-23
“dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya. Dan inilah perintah-Nya itu: supaya kita percaya akan nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan supaya kita saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita.”

Ada beberapa kekeliruan yang terjadi dalam dunia Kekristenan pada zaman sekarang. Salah satu yang paling serius adalah gagasan bahwa Allah tidak peduli apakah kita mau melakukan perintah-perintah-Nya atau tidak, apakah kita mau melakukan kehendak-Nya atau tidak. Menurut ajaran yang keliru ini, yang terpenting bagi Allah adalah satu momen ketika kita memulai dalam “iman”. “Iman” dan “mengasihi Allah” telah dipisahkan dari hal-hal praktis dan hanya dianggap sebagai gagasan teoritis atau perasaan yang dapat hadir terpisah dari bagaimana seseorang menjalani hidupnya. Namun sesungguhnya, beriman itu artinya kita setia. Kita harus MENJADI sesuatu jika kita mempunyai iman. Kita harus menjadi orang yang setia! Dan orang yang setia ingin menyenangkan hati orang yang kepadanya ia setia, ingin melakukan kehendak-Nya, ingin melakukan perintah-perintah-Nya.

Hal lain yang menjadi jelas dari pembahasan di atas adalah bahwa kebaikan dan kasih Allah tidaklah benar-benar tanpa syarat, seperti yang seringkali diajarkan oleh beberapa orang. Ini dapat kita lihat juga dari ayat-ayat di atas. Dalam Yohanes 14:23 kita membaca:

“Jawab Yesus: "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.”

Juga dalam 1 Yohanes 3:22
“dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.”

Dan dalam Ulangan 5:9-10
“Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku.

Dalam Yohanes 14:23 terdapat kata “jika” dan kata “dan”. Jika orang mengasihi Yesus, ia akan menuruti firman-Nya, DAN sebagai hasilnya, Bapa akan mengasihi dia dan Bapa beserta dengan Anak-Nya akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. Juga dalam 1 Yohanes, dikatakan bahwa apa saja yang kita minta, kita memperolehnya daripada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya. Juga dalam Ulangan, dikatakan bahwa kasih setia Allah ditunjukkan kepada orang-orang yang mengasihi Dia dan berpegang pada perintah-perintah-Nya. Jadi ada kaitan yang jelas antara kasih dan kebaikan Allah dengan melakukan kehendak-Nya. Dengan kata lain, janganlah kita berpikir bahwa tidak masalah bila kita tidak menaati Allah serta mengabaikan Firman dan perintah-Nya karena toh Allah sangat mengasihi kita. Jangan juga kita berpikir bahwa karena kita mengatakan kita mengasihi Allah, kita benar-benar mengasihi-Nya. Saya pikir, apakah kita sungguh-sungguh mengasihi Allah atau tidak, terlihat dari jawaban kita atas pertanyaan sederhana ini: Apakah kita melakukan Firman-Nya, atau perintah-Nya, atau apa yang menyenangkan hati-Nya? Jika jawabannya ya, maka kita memang mengasihi Allah. Jika jawabannya tidak, maka kita tidak mengasihi Allah. Sesederhana itu.

Yohanes 14:23-24
"Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku …… Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku.

2. “Tetapi saya merasa tidak ingin melakukan kehendak Allah”: Kasus dua orang bersaudara

Area membingungkan lainnya yang berkenaan dengan melakukan kehendak Allah adalah gagasan bahwa kita perlu melakukan kehendak Allah hanya apabila kita merasa ingin melakukannya. Tetapi jika kita merasa tidak ingin, kita boleh untuk tidak melakukannya karena Allah tentu tidak ingin kita melakukan sesuatu yang tidak ingin kita lakukan. Tetapi katakanlah kepada saya: apakah Anda pergi bekerja selalu dikarenakan Anda merasa ingin melakukannya? Apakah Anda bangun di pagi hari dan berpikir apakah Anda merasa ingin pergi bekerja atau tidak, dan tergantung pada perasaan Anda apakah mau bangun atau mau tidur lebih lama? Apakah seperti itu? Saya rasa tidak. Anda tetap MELAKUKAN pekerjaan Anda apa pun perasaan Anda tentang hal itu! Sayangnya dalam hal melakukan kehendak Allah, kita terlalu banyak menekankan pada perasaan kita. Tentu saja, Allah ingin agar kita melakukan kehendak-Nya SAMBIL kita pun merasa ingin melakukannya, tetapi bahkan jika kita merasa tidak ingin melakukannya, jauh lebih baik untuk kita tetap melakukannya daripada tidak melakukannya sama sekali! Sebuah contoh dari ucapan Tuhan Yesus: “Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu….” (Matius 18:9). Dia tidak berkata, “Jika matamu menyesatkan engkau, dan engkau merasa ingin mencungkilnya, maka lakukanlah itu. Tetapi jika engkau merasa tidak ingin melakukannya, ya tidak apa-apa. Engkau boleh membiarkan mata itu tetap di tempatnya dan terus menyesatkan engkau.” Mata yang busuk itu harus dicungkil, entahkan kita merasa ingin melakukannya atau tidak! Demikian halnya dengan kehendak Allah: yang terbaik adalah melakukannya dan merasa ingin untuk melakukannya, namun jika kita merasa tidak ingin melakukannya, tetaplah melakukannya, daripada kita tidak menaati-Nya!

Tetapi, mari kita melihat contoh lain dari kitab Matius. Dalam Matius 21, kembali Yesus ditanyai oleh imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi. Untuk menjawab pertanyaan mereka, Ia memberi mereka perumpamaan berikut:

Matius 21:28-31
"Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?" Jawab mereka: "Yang terakhir."

Jawaban mereka benar. Anak yang terakhir merasa tidak ingin melakukan kehendak bapanya. Ia mengatakannya dengan jelas: hari ini saya tidak mau pergi dan bekerja di kebun anggur. Tetapi kemudian ia berpikir, menyesal lalu mengubah keputusannya. Kita tidak tahu apa yang menyebabkan perubahan ini. Tebakan saya: perubahan ini disebabkan oleh karena ia mengasihi bapanya. Ia mendengar bapa memanggilnya untuk melakukan kehendaknya, tetapi ia merasa tidak ingin melakukannya. Ia masih ingin tidur, ingin menghirup kopi pelan-pelan, dan mungkin ingin pergi bersama dengan teman-temannya. Jadi reaksi pertamanya, mungkin dalam keadaan kaget sehabis dibangunkan adalah berteriak, “Tidak mau!” Tetapi kemudian, ia memikirkan bapanya, dan karena ia mengasihi bapa, ia pun mengubah pikirannya, bangkit dari tempat tidurnya, lalu pergi dan melakukan apa yang bapanya ingin ia lakukan!

Anak yang pertama berkata kepada bapanya–mungkin setelah dibangunkan dari tidurnya–“Baik Bapa”. Tetapi ia tidak pergi! Mungkin ia tidur lagi, lalu memanggil teman-temannya dan pergi untuk melakukan apa yang ia mau. Mungkin untuk sejenak ia “merasa ingin” melakukan kehendak bapanya, tetapi perasaan cenderung muncul lalu hilang dengan cepat. Dengan demikian “perasaan” ingin melakukan kehendak Allah itu segera digantikan oleh “perasaan” ingin melakukan hal yang lain, dan akhirnya ia pun tidak pergi!

Siapakah dari antara kedua anak yang melakukan kehendak bapanya? Apakah anak yang pada mulanya merasa tidak ingin melakukannya, namun kemudian melakukannya, atau anak yang pada mulanya ingin melakukannya tetapi ternyata tidak melakukannya? Jawabannya jelas. Dari pembahasan di atas, kita telah melihat bahwa mengasihi Bapa berarti melakukan kehendak-Nya. Oleh karena itu, kita juga dapat menanyakan pertanyaan berikut: “Siapakah dari antara kedua anak yang mengasihi Bapanya?” atau “Siapakah dari antara kedua anak yang berkenan kepada Bapanya? Apakah Bapa berkenan kepada anak yang berkata bahwa ia akan melakukan kehendak-Nya, namun ternyata tidak, ataukah Ia berkenan kepada anak yang ternyata melakukan kehendak-Nya? Jawabannya jelas sama: Bapa berkenan pada anak yang melakukan kehendak-Nya! Jadi kesimpulannya: lakukanlah kehendak Allah, entah kita merasa ingin melakukannya atau tidak! Bahkan jikalau respon awal kita adalah “Saya tidak akan melakukannya”, “Saya merasa tidak ingin melakukannya!”, ubahlah pikiran kita, dan lakukanlah kehendak-Nya. Ya, jauh lebih baik untuk kita melakukan kehendak Allah dan merasakan keinginan untuk melakukannya, namun di antara tidak melakukan kehendak Bapa dan melakukannya tanpa keinginan yang kuat, pilihan yang harus diambil adalah: Saya akan melakukan kehendak Bapa, karena saya mengasihi Bapa dan ingin menyenangkan hati-Nya.

3. Malam di Getsemani

Pembahasan di atas bukan bermaksud mengatakan bahwa kita tidak dapat atau tidak boleh berbicara kepada Bapa dan menanyakan kepada-Nya apakah ada pilihan yang lain. Relasi kita dengan Bapa adalah RELASI yang nyata. Tuhan ingin agar saluran komunikasi antara Dia dengan hamba−hamba-Nya, dengan anak-anak-Nya, selalu terbuka. Apa yang terjadi di Getsemani pada malam Yesus diserahkan untuk disalibkan menunjukkan hal ini dengan jelas sekali. Yesus sedang berada di taman bersama dengan murid-murid-Nya dan Yudas sang pengkhianat datang bersama dengan para hamba dari imam-iman kepala dan tua-tua bangsa Yahudi, untuk menangkap dan menyalibkan Dia. Yesus sangat ketakutan. Ia ingin agar cawan itu lalu daripada-Nya. Dan Ia menanyakan tentang hal itu kepada Bapa-Nya:

Lukas 22:41-44
“Kemudian Ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu Ia berlutut dan berdoa, kata-Nya: "Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini dari pada-Ku; tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi." Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya. Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah.”

Tidak ada salahnya bertanya kepada Bapa apakah ada jalan keluar. Tidak ada salahnya bertanya kepada Bapa apakah Anda dapat tinggal di rumah pada hari ini dan tidak pergi ke kebun anggur! Yang salah adalah memutuskan untuk tinggal di rumah tanpa bertanya terlebih dahulu kepada-Nya! Ini adalah satu bentuk ketidaktaatan. Namun, tidaklah salah untuk bertanya kepada-Nya apakah boleh ada pengecualian atau apakah ada cara yang lain. Sesungguhnya, jika tidak ada cara yang lain, Anda mungkin akan mendapatkan dorongan khusus untuk maju terus dan melakukan kehendak-Nya. Yesus mendapatkan dorongan seperti itu: “Maka seorang malaikat dari langit menampakkan diri kepada-Nya untuk memberi kekuatan kepada-Nya”.

Yesus lebih menginginkan agar cawan itu lalu daripada-Nya, TETAPI hanya jika itu adalah kehendak Allah. Dan dalam hal ini, itu bukan kehendak Allah. Dan Yesus mau menerimanya. Sebagaimana Ia katakan kepada Petrus setelah Yudas dan para prajurit itu tiba:

Yohanes 18:11
“Kata Yesus kepada Petrus: "Sarungkan pedangmu itu; bukankah Aku harus minum cawan yang diberikan Bapa kepada-Ku?"

Yesus selalu melakukan apa yang menyenangkan hati Bapa, bahkan sekalipun Ia merasa tidak ingin melakukannya. Dan karena Ia selalu melakukan apa yang menyenangkan hati Bapa, Bapa pun tidak pernah meninggalkan-Nya sendiri. Sebagaimana dikatakan-Nya:

Yohanes 8:29
“Dan Ia, yang telah mengutus Aku, Ia menyertai Aku. Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.”

Dia adalah teladan kita. Sebagaimana rasul Paulus katakan juga dalam Filipi:

Filipi 2:5-11
Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!”

Yesus telah merendahkan diri-Nya. Dia berkata, “Bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi”. Yesus TAAT! Dan kita pun seharusnya memiliki ketaatan yang sama. Semoga pikiran dan perasaan yang sama, yaitu untuk selalu taat kepada Bapa, pikiran dan perasaan yang berkata bukan kehendakku melainkan kehendak-Mulah yang terjadi, ada di dalam jiwa kita juga! Sebagaimana Paulus katakan:

Filipi 2:12-13
“Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.”

“Karena itu saudara-saudaraku yang kekasih”, atau dengan kata lain, kita telah memiliki teladan ketaatan yang agung dari Yesus Kristus Tuhan kita, oleh karena itu marilah kita juga senantiasa taat, mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kita baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya. Sebagaimana dikatakan oleh Yakobus:

Yakobus 4:6-10
“Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu! Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati! Sadarilah kemalanganmu, berdukacita dan merataplah; hendaklah tertawamu kamu ganti dengan ratap dan sukacitamu dengan dukacita. Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu.

Kesimpulan

Mengasihi Allah dengan segenap hati adalah perintah yang paling utama. Tetapi mengasihi Allah bukanlah perasaan, bukan sesuatu yang dilakukan ketika kita “merasa senang” tentang Allah. Mengasihi Allah sama artinya dengan melakukan apa yang Allah kehendaki! Bukan mengasihi Allah jika kita tidak mau menaati-Nya! Bukan beriman, jika kita tidak setia kepada-Nya! Iman bukan perasaan. Iman di dalam Allah dan Firman-Nya sama artinya dengan kita setia kepada Allah dan Firman-Nya. Janganlah kita memercayai ajaran yang keliru yang mencoba untuk memisahkan keduanya. Selain itu, kasih dan kebaikan Allah diberikan kepada mereka yang mengasihi Dia, yaitu mereka yang melakukan kehendak-Nya, yang melakukan apa yang berkenan kepada-Nya. Lebih jauh lagi, kita sudah belajar bahwa lebih baik untuk tetap melakukan kehendak Allah, bahkan ketika kita merasa tidak ingin melakukannya, daripada kita tidak taat kepada-Nya. Tetapi hal ini tidak membuat kita menjadi seperti robot yang tidak punya perasaan. Kita dapat (bahkan sebaiknya) selalu berbicara kepada Tuhan dan bertanya kepada-Nya apakah ada cara yang lain jikalau kita merasa kehendak-Nya itu terlalu sulit untuk kita lakukan dan kita harus menerima apa pun jawaban-Nya. Jikalau ada cara yang lain, Ia tentu akan memberikannya. Dia adalah Allah yang penuh kasih dan Bapa yang sangat baik dan pemurah kepada anak-anak-Nya. Namun, jikalau tidak ada cara yang lain, Dia akan memberi kepada kita kekuatan tatkala kita melakukan apa yang kita anggap terlalu sukar, sama seperti yang Ia lakukan kepada Yesus pada malam hari itu.

Anastasios Kioulachoglou