Firman Hidup
Berlangganan gratis

Jalan Bileam (PDF) Versi PDF



"Jalan Bileam"



Kita menemukan catatan mengenai Bileam dalam Bilangan 22-24. Orang Israel, dalam perjalanan menuju ke tanah perjanjian, berkemah “di dataran Moab, di daerah seberang sungai Yordan dekat Yerikho” (Bilangan 22:1). Hal ini membuat Balak, Raja Moab, merasa sangat takut dan ia pun mengirimkan utusan ke Petor – sebuah tempat di Mesopotamia yang jauhnya beberapa kilometer – untuk membawa Bileam dari sana. Tugas yang ia berikan kepada Bileam tercatat dalam Bilangan 22:5-6:

Bilangan 22:5-6
“Ketahuilah, ada suatu bangsa keluar dari Mesir; sungguh, sampai tertutup permukaan bumi olehnya, dan mereka sedang berkemah di depanku. Karena itu, datanglah dan kutuk bangsa itu bagiku, sebab mereka lebih kuat dari padaku; mungkin aku sanggup mengalahkannya dan menghalaunya dari negeri ini, sebab aku tahu: siapa yang kauberkati, dia beroleh berkat, dan siapa yang kaukutuk, dia kena kutuk.”

Kemasyhuran Bileam begitu besar sehingga dikatakan “siapa yang kauberkati, dia beroleh berkat, dan siapa yang kaukutuk, dia kena kutuk” (BIlangan 22:6). Bila kita membaca keseluruhan Bilangan 22-24, kita akan menemukan bahwa pada awalnya Bileam adalah seorang yang memiliki sikap yang saleh. Ketika para utusan Balak sampai kepadanya, ia hanya berjanji akan menanyakan tentang permintaan mereka kepada Allah. Ketika Allah mengatakan kepada Bileam agar ia tidak pergi bersama dengan mereka, ia pun dengan patuh menyuruh mereka pulang. Inilah yang dilakukan oleh seorang yang sedang berjalan di jalan yang benar dan inilah yang dilakukan oleh Bileam. Ia pada saat itu berjalan di jalan yang benar. Namun, Balak tampaknya bersikukuh. Beberapa hari kemudian, pemuka-pemuka yang lebih banyak dan lebih terhormat, diutusnya ke tempat Bileam dan mereka menjanjikannya kehormatan dan kekayaan yang sangat besar apabila ia mau ikut dan mengutuki bangsa Israel. Seorang yang hatinya 100% mengikuti Allah seharusnya tidak ragu: ia seharusnya segera menyuruh para pemuka itu pulang, karena Allah telah menyatakan dengan jelas bahwa ia tidak boleh pergi bersama mereka. Sayangnya Bileam tidak melakukannya kali ini. Ia justru mengatakan bahwa ia akan bertanya lagi kepada Allah. Meskipun hal ini masih lumrah daripada ia pergi bersama mereka tanpa sama sekali bertanya kepada Allah, namun ini jelas menunjukkan adanya sebuah celah, sebuah ketidakstabilan, sebuah niatan untuk tidak mengecewakan para utusan Balak. Kita seringkali memohon sekali lagi kepada Allah untuk sesuatu yang sebenarnya masih kita inginkan, yang mengenainya kita belum merasa puas atau belum dapat menerima apa yang Allah telah nyatakan untuk pertama kalinya. Dan inilah yang terjadi di sini. Bileam sebenarnya ingin pergi dengan mereka; upah yang mereka tawarkan begitu banyak dan kemuliaan yang mereka janjikan terlalu menarik untuk ditolak. Di lain pihak, Bileam juga tidak ingin melanggar kehendak Allah! Ia akan senang sekali untuk pergi dan mengutuki orang Israel, lalu menerima upahnya, dan Allah pun tidak merasa keberatan – sebuah keadaan yang seringkali juga kita inginkan: “saya ingin melakukan kehendak saya, jadi kumohon ubahlah kehendak-Mu, Tuhan, biarkanlah saya melakukan kehendak saya dan hubungan kita tetap baik-baik saja!” Allah yang melihat Bileam berada pada tahapan ini menyuruhnya agar pergi, tetapi hanya apabila orang-orang ini kembali menyuruhnya untuk ikut dengan mereka. Namun, pada pagi harinya, kita melihat bagaimana ia sudah berada di atas keledainya dan telah siap sedia untuk melakukan perjalanan yang jauh! Ia tidak mau kehilangan waktu sedetik pun dan tidak mau menunggu seseorang mengajaknya lagi! Akibatnya, bangkitlah murka Allah dan Ia pun mengutus malaikat untuk melawannya. Keledai Bileam menyelamatkan nyawa Bileam karena ketika ia melihat malaikat, ia terus mencoba menghindarinya. Malaikat memperingatkan Bileam agar ia pergi tetapi HANYA perkataan Allahlah yang harus ia katakan. Mengapa Allah sampai perlu mengatakan “HANYALAH perkataan yang akan Kukatakan kepadamu harus kaukatakan” (Bilangan 22:35)? Ini adalah sebuah peringatan kepada Bileam untuk tidak menyimpang dari Firman-Nya. Karena seperti yang akan kita lihat, Bileam tidak sepenuhnya memperhatikan Firman Allah. Kemudian, Bileam pergi dan menemui Balak. Sekalipun Balak membawanya ke beberapa tempat di mana akan lebih mudah bagi Bileam untuk mengutuki orang Israel, Bileam tetap bertahan untuk hanya mengatakan apa yang Allah katakan padanya yang isinya adalah berkat bagi orang Israel. Balak menjadi sangat marah! Inilah yang dikatakannya kepada Bileam setelah untuk ketiga kalinya ia memberkati orang Israel: ““Untuk menyerapah musuhku aku memanggil engkau, tetapi sebaliknya sampai tiga kali engkau memberkati mereka. Oleh sebab itu, enyahlah engkau ke tempat kediamanmu; aku telah berkata kepadamu aku telah bermaksud memberi banyak upah kepadamu, tetapi TUHAN telah mencegah engkau memperolehnya.” (Bilangan 24:10-11).

Bileam: Sebuah contoh yang tidak patut diteladani

Bileam tampaknya berdiri teguh untuk Allah. Ia hanya mengatakan Firman-Nya dan sekalipun ia akhirnya mau pergi bersama dengan para pemuka utusan Balak, ia hanya mengatakan apa yang Allah ingin ia katakan. Ia tidak menyimpang dari Firman-Nya. Orang mungkin jadi bertanya-tanya mengapa 2 Petrus 2:15 dan beberapa bagian Alkitab lain yang akan kita lihat nanti, mengetengahkan Bileam sebagai contoh yang tidak boleh kita tiru. Memang ia ingin pergi kepada Balak dan mungkin matanya pun telah melihat upah besar yang dijanjikan kepadanya. Namun, tampaknya ia tidak menyimpang dari apa yang Allah katakan kepadanya bahkan pada akhirnya pun ia meninggalkan tempat itu dengan tangan kosong. Ia menaati Allah sekalipun itu berarti ia kehilangan upah yang telah dijanjikan kepadanya. Atau, apakah tidak demikian?

Bileam disebutkan sebagai sebuah contoh yang tidak patut diteladani di dalam kitab 2 Petrus, Yudas dan Wahyu. Berdasarkan catatan yang telah kita lihat sejauh ini, hal ini terasa tidak adil, tetapi apabila melanjutkan pembahasan ini, kita akan mengetahui apa penyebabnya:

Bilangan 25:1-5, 9
“Sementara Israel tinggal di Sitim, mulailah bangsa itu berzinah dengan perempuan-perempuan Moab. Perempuan-perempuan [Moab] ini mengajak bangsa itu ke korban sembelihan bagi allah mereka, lalu bangsa itu turut makan dari korban itu dan menyembah allah orang-orang itu. Ketika Israel berpasangan dengan Baal-Peor, bangkitlah murka TUHAN terhadap Israel; lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Tangkaplah semua orang yang mengepalai bangsa itu dan gantunglah mereka di hadapan TUHAN di tempat terang, supaya murka TUHAN yang bernyala-nyala itu surut dari pada Israel." Lalu berkatalah Musa kepada hakim-hakim Israel: "Baiklah masing-masing kamu membunuh orang-orangnya yang telah berpasangan dengan Baal-Peor." Orang yang mati karena tulah itu ada dua puluh empat ribu orang banyaknya.

Bagaimana perempuan-perempuan Moab itu tahu cara memikat hati orang Israel? Bagaimana mereka bisa datang, dan membuat orang-orang Israel berzinah dengan mereka, mengundang mereka ke korban sembelihan untuk allah mereka, dan membuat mereka tunduk menyembah allah mereka? Allah sangat marah, murka-Nya bangkit dan 24.000 orang Israel kehilangan nyawanya karena tulah yang ditimpakan-Nya. Siapa sesungguhnya yang merancangkan rencana-rencana jahat ini sehingga mengakibatkan bencana sedemikian besar di antara orang Israel? Bilangan 31:15-16 dan Wahyu 2:14 memberi kita jawabannya:

Bilangan 31:15-16
“dan Musa berkata kepada mereka: "Kamu biarkankah semua perempuan hidup? Bukankah perempuan-perempuan ini, atas nasihat Bileam, menjadi sebabnya orang Israel berubah setia terhadap TUHAN dalam hal Peor, sehingga tulah turun ke antara umat TUHAN.”

dan Wahyu 2:14 (Tuhan Yesus berbicara kepada malaikat jemaat di Pergamus)
“Tetapi Aku mempunyai beberapa keberatan terhadap engkau: di antaramu ada beberapa orang yang menganut ajaran Bileam, yang memberi nasihat kepada Balak untuk menyesatkan orang Israel, supaya mereka makan persembahan berhala dan berbuat zinah.”

Guru yang mengajar orang Moab untuk menyesatkan orang Israel adalah Bileam. Kita telah melihat bahwa betapa condongnya hati Bileam kepada upah. 2 Petrus 2:15-16 mengatakan bahwa ia SUKA menerima upah:

2 Petrus 2:15
“Oleh karena mereka telah meninggalkan jalan yang benar, maka tersesatlah mereka, lalu mengikuti jalan Bileam, anak Beor, yang suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat. Tetapi Bileam beroleh peringatan keras untuk kejahatannya, sebab keledai beban yang bisu berbicara dengan suara manusia dan mencegah kebebalan nabi itu.”

Hingga Bilangan 24, Bileam adalah seorang nabi Allah, seorang juru bicara Allah. Ia berjalan di jalan yang benar, NAMUN, ia tidak melakukannya sampai akhir hidupnya. Ia pada akhirnya mengabaikan Firman Allah dan menyimpang karena ia “suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat.” Ia memulai dengan baik tetapi mengakhiri dengan buruk. Tidak hanya penting untuk memulai di jalan yang benar. Terlebih penting lagi untuk bertahan di jalan yang benar itu sampai pada akhirnya. Bileam memulai dengan benar, tetapi ia tidak terus melakukannya. Akhirnya, ia dibunuh oleh orang Israel ketika mereka menduduki Midian1. Dalam catatan mengenai kematiannya (Yosua 13:22) Bileam tidak lagi disebut “nabi” tetapi “juru tenung.” Ia memulai sebagai nabi, seorang juru bicara Allah, tetapi berakhir sebagai juru tenung, seorang musuh Allah.

Bileam dalam kitab 2 Petrus dan Yudas

Bileam berubah dari yang tadinya seorang juru bicara Allah menjadi seorang guru palsu, yang menyesatkan umat Allah (Wahyu 2:14). Dia yang tadinya berada di jalan yang benar tetapi akhirnya meninggalkan jalan itu dan menyimpang darinya. Mungkin inilah sebabnya ia disebutkan tiga kali oleh penulis yang berbeda dalam Perjanjian Baru sebagai sebuah contoh yang tidak patut untuk diteladani. Kita telah melihat catatan yang relevan dari Wahyu dan inilah kedua catatan lainnya dari 2 Petrus dan Wahyu:

2 Petrus 2:15-16
“Oleh karena MEREKA telah meninggalkan jalan yang benar, maka tersesatlah mereka, lalu mengikuti jalan Bileam, anak Beor, yang suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat. Tetapi Bileam beroleh peringatan keras untuk kejahatannya, sebab keledai beban yang bisu berbicara dengan suara manusia dan mencegah kebebalan nabi itu.”

dan Yudas 11
“Celakalah mereka, karena MEREKA mengikuti jalan yang ditempuh Kain dan karena mereka, oleh sebab upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam, dan mereka binasa karena kedurhakaan seperti Korah.

Baik 2 Petrus maupun Yudas, keduanya merujuk pada orang-orang yang mengikuti jalan Bileam. Siapakah orang-orang ini? Apa yang telah mereka lakukan? Apakah ada kesamaan antara mereka dengan Bileam, jika ya, apakah itu? Bagaimanakah kaitan figur dari Perjanjian Lama ini dengan zaman anugerah pada masa sekarang ini? Kita akan menemukan jawabannya dalam Alkitab. Dimulai dari 2 Petrus, kata “mereka” dijelaskan dalam ayat pertama:

2 Petrus 2:1-3
“Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka. Banyak orang akan mengikuti cara hidup mereka yang dikuasai hawa nafsu, dan karena mereka Jalan Kebenaran akan dihujat. Dan karena serakahnya guru-guru palsu itu akan berusaha mencari untung dari kamu dengan ceritera-ceritera isapan jempol mereka. Tetapi untuk perbuatan mereka itu hukuman telah lama tersedia dan kebinasaan tidak akan tertunda.

Kita akan lanjutkan dengan lebih banyak informasi tentang guru-guru palsu itu. Namun pertama-tama, mari kita melihat asal usul mereka. Ini terlihat jelas dari ayat 1,15 dan 20-21. Di sana kita membaca:

2 Petrus 2:1
“Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka.”

2 Petrus 2:15
Oleh karena mereka telah meninggalkan jalan yang benar, maka tersesatlah mereka

Dan 2 Petrus 2:20-21:
“Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula. Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka.”

Berdasarkan ayat-ayat di atas:

• - Mereka adalah orang-orang yang telah Allah tebus.

• - Mereka adalah orang-orang yang telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia melalui pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus2 .

• - Mereka telah mengenal Jalan Kebenaran dan perintah kudus yang disampaikan kepada mereka3.

• - Mereka adalah orang-orang yang telah meninggalkan jalan yang benar, yang artinya mereka pernah berada di jalan yang benar itu.

Jadi, guru-guru palsu yang Firman Allah bicarakan di sini bukan orang-orang tidak percaya, melainkan orang-orang percaya atau lebih tepatnya orang-orang yang memulai sebagai orang percaya. Karena siapa lagi orang yang telah ditebus oleh Allah, siapa lagi orang-orang yang telah mengenal Jalan Kebenaran dan kepada siapa perintah kudus yang disampaikan? Seperti Bileam, mereka memulai di jalan yang benar tetapi mereka meninggalkan jalan yang benar itu dan menjadi guru-guru palsu, yang memasukkan pengajaran sesat dan menyesatkan umat Allah! Bila kita berpikir bahwa masalah guru-guru palsu ini tidaklah seharusnya diberi perhatian terlalu besar, sebab biar bagaimana pun kita tidak bertemu terlalu banyak orang yang secara terbuka “menyangkal Allah yang telah menebus mereka,” maka kita salah. Allah mencurahkan banyak bagian dari 2 Petrus bahkan hampir seluruh isi surat yang ditulis oleh Yudas untuk berbicara tentang para penyesat ini. Sesuatu pastilah sangat penting apabila tentangnya Firman Allah berkata, “PERHATIKAN!!” 2 Timotius 2:15 mengatakan kepada kita:

II Timotius 2:15
“Hendaklah engkau berusaha sungguh-sungguh supaya diakui oleh Allah sebagai orang yang layak bekerja bagi-Nya. Berusahalah supaya engkau tidak malu mengenai pekerjaanmu, melainkan mengajarkan dengan tepat ajaran-ajaran benar dari Allah.” (IBIS)

Tugas kita adalah mengajarkan dengan tepat ajaran-ajaran yang benar dari Allah, dan tanpa dasar yang kuat dalam ajaran itu, tidaklah mungkin bagi kita untuk terlindung dari guru-guru palsu di sekeliling kita. Kembali ke 2 Petrus, ayat 10-22 melanjutkan tentang kesesatan ini:

2 Petrus 2:10-22
“terutama mereka yang menuruti hawa nafsunya karena ingin mencemarkan diri dan yang menghina pemerintahan Allah. Mereka begitu berani dan angkuh, sehingga tidak segan-segan menghujat kemuliaan, padahal malaikat-malaikat sendiri, yang sekalipun lebih kuat dan lebih berkuasa dari pada mereka, tidak memakai kata-kata hujat, kalau malaikat-malaikat menuntut hukuman atas mereka di hadapan Allah. Tetapi mereka itu sama dengan hewan yang tidak berakal, sama dengan binatang yang hanya dilahirkan untuk ditangkap dan dimusnahkan. Mereka menghujat apa yang tidak mereka ketahui, sehingga oleh perbuatan mereka yang jahat mereka sendiri akan binasa seperti binatang liar, dan akan mengalami nasib yang buruk sebagai upah kejahatan mereka. Berfoya-foya pada siang hari, mereka anggap kenikmatan. Mereka adalah kotoran dan noda, yang mabuk dalam hawa nafsu mereka kalau mereka duduk makan minum bersama-sama dengan kamu. Mata mereka penuh nafsu zinah dan mereka tidak pernah jemu berbuat dosa. Mereka memikat orang-orang yang lemah. Hati mereka telah terlatih dalam keserakahan. Mereka adalah orang-orang yang terkutuk! Oleh karena mereka telah meninggalkan jalan yang benar, maka tersesatlah mereka, lalu mengikuti jalan Bileam, anak Beor, yang suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat. Tetapi Bileam beroleh peringatan keras untuk kejahatannya, sebab keledai beban yang bisu berbicara dengan suara manusia dan mencegah kebebalan nabi itu. Guru-guru palsu itu adalah seperti mata air yang kering, seperti kabut yang dihalaukan taufan; bagi mereka telah tersedia tempat dalam kegelapan yang paling dahsyat. Sebab mereka mengucapkan kata-kata yang congkak dan hampa dan mempergunakan hawa nafsu cabul untuk memikat orang-orang yang baru saja melepaskan diri dari mereka yang hidup dalam kesesatan. Mereka menjanjikan kemerdekaan kepada orang lain, padahal mereka sendiri adalah hamba-hamba kebinasaan, karena siapa yang dikalahkan orang, ia adalah hamba orang itu. Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula. Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka. Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: "Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya."

Allah mencurahkan sebagian besar dari 2 Petrus untuk menggambarkan tentang guru-guru palsu ini. Banyak dari mereka hidup pada zaman ini dan dari abad ke abad para guru palsu ini menggunakan nama Allah dan nama Kristus untuk tujuan mereka sendiri demi memperoleh kekuasaan, uang, dan kehormatan. Mereka bukan mengikuti teladan Kristus, mereka mengikuti teladan Bileam. 2 Petrus tidak meragukan apa yang akan menjadi akibat dari perbuatan mereka, seperti yang telah kita baca di atas:

• Mereka mendatangkan kebinasaan atas diri mereka (2 Petrus 2:1).

• Untuk perbuatan mereka itu, hukuman telah lama tersedia dan kebinasaan tidak akan tertunda bagi mereka (2 Petrus 2:3).

• “Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula. Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka. Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: "Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.” (2 Petrus 2:20-22).

• Bagi mereka telah tersedia kegelapan yang paling dahsyat (2 Petrus 2:17).

Bukan keselamatan yang tersedia bagi orang-orang ini melainkan “kegelapan yang paling dahsyat”. Mungkin ada orang yang bertanya, tetapi “bukankah keselamatan diberikan sebagai anugerah?” Tentu saja. Keselamatan adalah anugerah yang diberikan melalui iman (Efesus 2:8), tetapi seperti yang dijelaskan di atas, beberapa orang menyangkal Allah – yang berarti imannya – kemudian menjadi musuh Allah dengan cara menyesatkan umat-Nya dan memasukkan ajaran-ajaran yang sesat. Mereka memang serupa dengan Bileam. Ia pun pada awalnya berjalan di jalan yang benar tetapi ia menyimpang dan berubah dari seorang nabi yang benar menjadi seorang guru palsu yang mengajarkan kepada musuh-musuh Allah bagaimana cara menyesatkan umat-Nya. Bagi orang-orang seperti ini “telah tersedia kegelapan yang paling dahsyat” untuk selamanya. Menurut 2 Petrus “adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka” (2 Petrus 2:21).

Yudas

Bileam juga disebutkan dalam kitab Yudas, hampir dengan cara dan konteks yang sama dengan 2 Petrus. Yudas memulai suratnya dengan berkata:

Yudas 3
“Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus.”

Melalui suratnya, Yudas ingin menasihati orang-orang percaya untuk tetap berjuang mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus. Jelaslah bahwa iman kita BERADA di bawah serangan musuh, dan selama musuh ada, ia tidak akan pernah berhenti untuk menyerangnya. Kita harus berjuang untuk mempertahankan iman ini dan Yudas memberikan alasan mengapa kita harus berjuang di dalam surat yang panjangnya satu pasal ini:

Yudas 4-19
“Sebab ternyata ada orang tertentu yang telah masuk menyelusup di tengah-tengah kamu, yaitu orang-orang yang telah lama ditentukan untuk dihukum. Mereka adalah orang-orang yang fasik, yang menyalahgunakan kasih karunia Allah kita untuk melampiaskan hawa nafsu mereka, dan yang menyangkal satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita, Yesus Kristus. Tetapi, sekalipun kamu telah mengetahui semuanya itu dan tidak meragukannya lagi, aku ingin mengingatkan kamu bahwa memang Tuhan menyelamatkan umat-Nya dari tanah Mesir, namun sekali lagi membinasakan mereka yang tidak percaya. Dan bahwa Ia menahan malaikat-malaikat yang tidak taat pada batas-batas kekuasaan mereka, tetapi yang meninggalkan tempat kediaman mereka, dengan belenggu abadi di dalam dunia kekelaman sampai penghakiman pada hari besar, sama seperti Sodom dan Gomora dan kota-kota sekitarnya, yang dengan cara yang sama melakukan percabulan dan mengejar kepuasan-kepuasan yang tak wajar, telah menanggung siksaan api kekal sebagai peringatan kepada semua orang. Namun demikian orang-orang yang bermimpi-mimpian ini juga mencemarkan tubuh mereka dan menghina kekuasaan Allah serta menghujat semua yang mulia di sorga. Tetapi penghulu malaikat, Mikhael, ketika dalam suatu perselisihan bertengkar dengan Iblis mengenai mayat Musa, tidak berani menghakimi Iblis itu dengan kata-kata hujatan, tetapi berkata: "Kiranya Tuhan menghardik engkau!" Akan tetapi mereka menghujat segala sesuatu yang tidak mereka ketahui dan justru apa yang mereka ketahui dengan nalurinya seperti binatang yang tidak berakal, itulah yang mengakibatkan kebinasaan mereka. Celakalah mereka, karena mereka mengikuti jalan yang ditempuh Kain dan karena mereka, oleh sebab upah, menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam, dan mereka binasa karena kedurhakaan seperti Korah. Mereka inilah noda dalam perjamuan kasihmu, di mana mereka tidak malu-malu melahap dan hanya mementingkan dirinya sendiri; mereka bagaikan awan yang tak berair, yang berlalu ditiup angin; mereka bagaikan pohon-pohon yang dalam musim gugur tidak menghasilkan buah, pohon-pohon yang terbantun dengan akar-akarnya dan yang mati sama sekali. Mereka bagaikan ombak laut yang ganas, yang membuihkan keaiban mereka sendiri; mereka bagaikan bintang-bintang yang baginya telah tersedia tempat di dunia kekelaman untuk selama-lamanya. Juga tentang mereka Henokh, keturunan ketujuh dari Adam, telah bernubuat, katanya: "Sesungguhnya Tuhan datang dengan beribu-ribu orang kudus-Nya, hendak menghakimi semua orang dan menjatuhkan hukuman atas orang-orang fasik karena semua perbuatan fasik, yang mereka lakukan dan karena semua kata-kata nista, yang diucapkan orang-orang berdosa yang fasik itu terhadap Tuhan." Mereka itu orang-orang yang menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya, hidup menuruti hawa nafsunya, tetapi mulut mereka mengeluarkan perkataan-perkataan yang bukan-bukan dan mereka menjilat orang untuk mendapat keuntungan. Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, ingatlah akan apa yang dahulu telah dikatakan kepada kamu oleh rasul-rasul Tuhan kita, Yesus Kristus. Sebab mereka telah mengatakan kepada kamu: "Menjelang akhir zaman akan tampil pengejek-pengejek yang akan hidup menuruti hawa nafsu kefasikan mereka." Mereka adalah pemecah belah yang dikuasai hanya oleh keinginan-keinginan dunia ini dan yang hidup tanpa Roh Kudus.”

Tampaknya orang-orang ini adalah orang-orang yang sama jenisnya dengan yang kita lihat dalam 2 Petrus, setidaknya bila melihat buahnya. Mereka adalah para penipu yang bahkan berani menyebut diri mereka Kristen. Oleh karena guru-guru palsu ini – dan banyak guru-guru palsu seperti mereka yang masih aktif pada zaman ini – Yudas merasakan sebuah kebutuhan yang mendesak untuk menulis kepada orang-orang percaya dan menasihati mereka agar berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus. Kita harus berjuang untuk mempertahankan iman! Itulah yang dikatakan Firman Allah – bukan doktrin, bukan peraturan dan tradisi manusia, siapa pun mereka – melainkan dasar dari iman kita. Kolose 2:8 memperingatkan kepada kita:

Kolose 2:8
Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus.”

juga II Yohanes 7-8
“Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus. Waspadalah, supaya kamu jangan kehilangan apa yang telah kami kerjakan itu, tetapi supaya kamu mendapat upahmu sepenuhnya.”

Yudas dan Petrus pun mengingatkan kepada kita:

Yudas 20-21
“Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus. Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal.

2 Petrus 3:17-18
“Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, kamu telah mengetahui hal ini sebelumnya. Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh. Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya

“Waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tidak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh.” Kita semua berpotensi untuk “terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tidak mengenal hukum.” Tidak ada seorang pun yang dikecualikan dari peringatan ini. Bileam memulai di jalan yang benar, tetapi pada akhirnya ia meninggalkannya. “Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus,” lanjut Petrus. “Waspada” adalah satu bagian dari tindakan, bertumbuh dalam kasih karunia dan pengetahuan akan Tuhan Yesus Kristus adalah bagian lainnya.

Ada banyak penipu di luar sana, bahkan di antara anggota tubuh Kristus – itulah sebabnya Petrus dan Yudas menujukan nasihat mereka kepada orang-orang percaya – dan satu-satunya cara agar terlindung dari pengajaran yang menyesatkan ini adalah dengan berpegang teguh pada air susu yang murni dari Firman Allah. Satu-satunya cara untuk membangun rumah kita agar tidak dapat dihancurkan oleh apa pun yang melanda, adalah dengan membangunnya di atas batu. Tuhan Yesus Kristus menjelaskan bahwa yang dimaksudkan-Nya adalah kita harus mendengarkan Firman Allah dan melakukannya (Matius 7:24-25). Bileam mengenal Firman Allah; ia mengikuti Firman Allah itu sampai pada titik tertentu tetapi tidak setelah Firman itu bertentangan dengan hawa nafsunya terhadap kekayaan dan hormat. Begitu hal ini terjadi, ia pun menyimpang. Sebaliknya dari Bileam, kita harus menjalani jalan yang benar, yaitu jalan pengenalan akan Firman Allah serta dengan segenap jiwa dan kekuatan kita melakukannya. Mulai, berlari dan selesaikan pertandingan, lalu secara lengkap and utuh menuai upah yang telah disediakan Allah bagi kita.

Ibrani 12:1b-2
marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.”

Anastasios Kioulachoglou

 



Catatan kaki

1. Pada saat itu ia telah pindah dari tempat tinggalnya di Mesopotamia, dan tinggal di tanah Midian, bersama dengan musuh-musuh Israel.

2. Kata “pengenalan” di sini berasal dari kata bahasa Yunani “επίγνωσις” (epignosis) yang berarti “pengetahuan yang penuh atau tepat”, “pengetahuan yang tepat dan lanjut, pengenalan menyeluruh; pengetahuan yang benar” (merupakan lawan dari kata “gnosis” yang hanya berarti “pengetahuan”). Lihatlah Vines Expository Dictionary of New Testament Words, MacDonald Publishing Company, hal. 641 dan The Companion Bible, Kregel Publications, Appendix 132. Kata kerja “mengenal” yang dipergunakan di sini adalah kata kerja“επιγινώσκω” (epiginosko) yang berarti “mengenal dengan sangat baik”, “mengenal secara menyeluruh dan akurat”

3. Kata kerja “mengenal” yang dipergunakan di sini adalah kata kerja“επιγινώσκω” (epiginosko) yang berarti “mengenal dengan sangat baik”, “mengenal secara menyeluruh dan akurat”