Firman Hidup
Berlangganan gratis

Ester dan Kuasa Allah yang Melepaskan (PDF) Versi PDF



Ester dan Kuasa Allah yang Melepaskan



Ada banyak bagian dalam Alkitab yang merujuk pada kuasa Allah yang melepaskan. Kitab Ester adalah salah satunya. Oleh karena itu, di dalam artikel ini, saya ingin menelaah kitab ini secara mendalam serta melihat apa yang dapat kita pelajari darinya.

Ester 1,2: Latar Belakang

Peristiwa-peristiwa yang digambarkan dalam kitab Ester terjadi ketika orang Israel berada dalam pembuangan di Babel. Tempat kejadian peristiwa adalah di Susan, sebuah kota di mana Raja Persia dan Media yang bernama Ahasyweros1, tinggal. Raja ini, setelah memecat Ratu Wasti2, isteri pertamanya, kemudian mencari isteri yang baru untuk dijadikan ratu. Demi menemukan isteri yang baru bagi raja, sebuah sayembara diadakan, di mana para wanita dari seluruh wilayah kerajaan datang ke Susan untuk berlomba menjadi orang yang akan menduduki tempat yang kosong sebagai ratu (Ester 2:1-4). Di antara wanita-wanita itu terdapat Ester, seorang gadis Ibrani yang dibesarkan oleh Mordekhai, salah seorang buangan yang diangkut dari Yerusalem oleh Nebukadnezar (Ester 2:5-7). Akhirnya, setelah pertama-tama memenangkan hati "Hegai, sida-sida, penjaga para perempuan” (Ester 2:9), dan kedua memenangkan hati “semua orang yang melihat dia” (Ester 2:15) hingga akhirnya dan yang terpenting memenangkan hati raja sendiri (Ester 2:17), gadis ini pun memenangkan sayembara tersebut. Maka, Ester pun menjadi ratu yang baru. Namun, karena dilarang oleh Mordekhai, ia tidak memberitahukan kepada siapa pun bahwa ia adalah orang Yahudi. Jadi tak seorang pun, bahkan juga raja, yang tahu kebangsaan Ester.

Ester 3: masalah mulai terjadi

Meskipun sejauh ini semuanya tampak baik-baik saja, Ester 3:1 memperkenalkan kepada kita seseorang yang kedatangannya membawa masalah besar. Ester 3:1-6 menceritakan tentang orang ini dan masalah yang ia timbulkan:

Ester 3:1-2, 5-6
“Sesudah peristiwa-peristiwa ini maka Haman bin Hamedata, orang Agag, dikaruniailah kebesaran oleh raja Ahasyweros, dan pangkatnya dinaikkan serta kedudukannya ditetapkan di atas semua pembesar yang ada di hadapan baginda. Dan semua pegawai raja yang di pintu gerbang istana raja berlutut dan sujud kepada Haman, sebab demikianlah diperintahkan raja tentang dia, tetapi Mordekhai tidak berlutut dan tidak sujud. Ketika Haman melihat, bahwa Mordekhai tidak berlutut dan sujud kepadanya, maka sangat panaslah hati Haman, tetapi ia menganggap dirinya terlalu hina untuk membunuh hanya Mordekhai saja, karena orang telah memberitahukan kepadanya kebangsaan Mordekhai itu. Jadi Haman mencari ikhtiar memunahkan semua orang Yahudi, yakni bangsa Mordekhai itu, di seluruh kerajaan Ahasyweros.

Dimulai dari bagian akhir ayat-ayat di atas, kita dapat melihat awal sebuah masalah yang sangat besar. Haman, orang yang kepadanya raja telah mengaruniai kedudukan “di atas semua pembesar yang ada di hadapan baginda” atau yang telah dijadikan pemegang kekuasaan kedua setelah raja, sangat marah kepada Mordekhai, karena ia menolak untuk berlutut dan sujud kepadanya. Oleh karena itu, Haman ingin memusnahkan semua bangsa Mordekhai, yakni semua orang Yahudi. Meskipun rencana Haman benar-benar tidak masuk akal karena ingin menghancurkan seluruh bangsa hanya karena seseorang yang menolak untuk sujud kepadanya, sesungguhnya ada aspek spiritual di balik tindakannya itu daripada bila kita hanya memperhatikannya secara sekilas. Karena kerajaan yang besar ini, di mana Haman adalah pemegang kekuasaan kedua setelah raja, membentang mulai dari India sampai ke Etiopia, kita dapat mengerti bahwa apabila Haman merealisasikan maksudnya, maka tidak ada seorang Yahudi pun yang akan bertahan hidup. Dan kalau ini terjadi, pertanyaannya adalah bagaimana dengan kelahiran Kristus? Allah telah mengadakan perjanjian dengan Abraham (Kejadian 17:7 dan Galatia 3:16) dan kemudian dengan Daud (Mazmur 132:11-12 dan Kisah Para Rasul 2:30) bahwa dari keturunan mereka Ia akan membangkitkan Kristus. Namun, bila maksud Haman terealisasi maka janji tentang Yesus Kristus tidak akan terpenuhi dan rencana menyeluruh Allah mengenai keselamatan manusia akan gagal. Oleh karena itu, maksud jahat Haman bukan hanya bersifat paranoid, tetapi sepenuhnya merupakan rencana Iblis. Iblislah yang bertindak di balik Haman, mencoba membatalkan kedatangan Kristus dengan menghancurkan seluruh bangsa pilihan-Nya, sama seperti yang dilakukannya beberapa abad kemudian ketika ia mencoba membunuh Yesus melalui Herodes sebelum Ia melaksanakan misi-Nya. Sebagai ringkasan, hal yang utama di sini menyangkut janji Allah tentang Yesus Kristus. Di sini ada seseorang yang bermaksud mengagalkan janji itu dengan membunuh semua orang Yahudi. Pertanyaannya adalah: Akankah Allah sanggup menepati janji-Nya? Atau dengan kata lain: apakah janji-janji Allah dapat digagalkan atau dapatkah janji-janji itu dihancurkan oleh kehendak manusia, siapa pun dia, bahkan seorang pemegang kekuasaan kedua atas kerajaan terbesar pada zamannya?

Di atas kita telah menyoroti masalah yang terjadi, namun kita belum menyelidiki penyebab dari masalah itu. Sebagian dari kita mungkin bertanya-tanya mengapa Mordekhai tidak mau berlutut dan menunjukkan rasa hormatnya kepada Haman. Bagaimanapun Haman adalah pemegang kekuasaan kedua setelah raja. Jadi, mengapa Mordekhai tidak mau sujud kepadanya seperti yang telah diperintahkan oleh raja (Ester 3:21)? Apakah karena ia sombong? Jawabannya bukan. Alasan Mordekhai menolak untuk sujud akan dapat kita pahami apabila kita memperhatikan apa yang dikatakan dalam teks, yakni bahwa Haman adalah orang AGAG. Berarti kemungkinan besar dia adalah keturunan Agag, seorang raja Amalek3, yang berarti pula, apabila penilaian kita benar, ia sendiri adalah orang Amalek. Perlu diperhatikan pula di sini bahwa Josephus, yang kemungkinan merupakan sejarahwan Yahudi kuno yang paling terkenal, juga mengatakan bahwa Haman adalah orang Amalek. Jadi apa yang salahnya kalau ia orang Amalek? Masalahnya adalah ketika orang Amalek berperang melawan orang Israel yang kala itu berada dalam perjalanan menuju ke tanah perjanjian (Keluaran 17), mereka dinyatakan oleh Allah sebagai MUSUH-NYA. Keluaran 17:14-16 mengatakan dengan jelas kepada kita:

Keluaran 17:14-16
“Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Tuliskanlah semuanya ini dalam sebuah kitab sebagai tanda peringatan, dan ingatkanlah ke telinga Yosua, bahwa Aku akan menghapuskan sama sekali ingatan kepada Amalek dari kolong langit." Lalu Musa mendirikan sebuah mezbah dan menamainya: "Tuhanlah panji-panjiku!" Ia berkata: "Tangan di atas panji-panji TUHAN! TUHAN berperang melawan Amalek turun-temurun.”

Oleh karena itu sebagai seorang Amalek, Haman adalah salah seorang yang terhadapnya Tuhan berperang. Jadi, Mordekhai punya dua pilihan: i) menghormati Haman, yang adalah musuh Allah dan dengan demikian menghina Firman Allah atau ii) menghormati Firman Allah dan menolak sujud kepada Haman. Sesungguhnya, tak seorang pun dapat mengatakan bahwa Mordekhai siap berdiri bagi Tuhan begitu ia diperhadapkan dengan kejadian pertama di mana ia dituntut untuk berkompromi dengan Firman Allah. Satu-satunya cara untuk mengenal Allah adalah melalui Firman-Nya dan satu-satunya cara untuk dapat berdiri bagi Allah adalah dengan berdiri di atas apa yang Firman-Nya katakan. Mordekhai bertekad untuk tidak berkompromi dengan Firman Allah dengan berlutut dan sujud kepada musuh Allah. Dengan kata lain, ia memutuskan untuk berdiri bagi Allah, tidak peduli apa pun! Apa yang terjadi selanjutnya? Apa yang Allah lakukan dalam situasi tersebut? Mari kita baca, untuk mengetahuinya.

Ester dan Mordekhai

Setelah mengambil keputusan untuk memunahkan semua orang Yahudi, Haman memerlukan sebuah tanggal untuk melakukannya juga izin dari raja. Ester 3 mengatakan kepada kita bahwa ia menetapkan tanggal tiga belas bulan yang kedua belas (Ester 3:13), setelah berdalih bahwa orang-orang Yahudi itu tidak melakukan hukum raja (mereka memiliki hukum Allah) dan setelah ia menawarkan menawarkan sejumlah besar uang (10.000 talenta perak) ia pun akhirnya memperoleh persetujuan atas rencananya (Ester 3:8-10). Perintah untuk memunahkan orang Yahudi yang ditulis menurut rencana Haman sendiri, dan dikirimkan ke setiap daerah dan wilayah kekuasaan raja, menimbulkan duka cita yang besar di antara orang Yahudi (Ester 3:12-15, 4:3). Mordekhai sendiri sangat sedih sehingga “ia mengoyakkan pakaiannya, lalu memakai kain kabung dan abu, kemudian keluar berjalan di tengah-tengah kota”, dan ia menangis “sambil melolong-lolong dengan nyaring dan pedih” (Ester 4:1). Ester yang tidak tahu menahu tentang hukum tersebut, merasa sangat sedih ketika diberitahukan bahwa Mordekhai, ayah angkatnya, sedang berduka dan ia mengirim salah seorang pelayan kepadanya untuk mengetahui apa penyebab kesedihannya itu (Ester 4:4-6). Melalui pelayan ini, Mordekhai menceritakan semua yang terjadi, dan meminta kepada Ester untuk menghadap raja dan membela bangsanya di hadapan raja (Ester 4:7-9). Seperti yang mungkin kita ingat, sebagai ratu, kedudukan Ester dalam kerajaan itu tidak kecil. Namun pada awalnya, Ester enggan untuk melakukan apa yang Mordekhai minta, karena tidak diizinkan seseorang menghadap raja tanpa diundang (Ester 4:10-12). Umumnya orang mungkin berpikir bahwa karena Ester, yang adalah seorang ratu, enggan untuk membantu, maka tidak ada lagi kemungkinan bagi Mordekhai dan orang-orang Yahudi yang tersisa untuk selamat dari murka Haman. Namun, tidak demikian yang terjadi. Karena, sekalipun Ester enggan, janji Allah yang di atasnya Mordekhai berdiri, tidak bergantung kepada Ester tetapi bergantung kepada ALLAH. Dialah yang bertanggung jawab mencari jalan keluarnya. Tentu saja, Ester adalah kemungkinan yang sangat baik, dan karena itulah Mordekhai memintanya. Namun, permintaannya kepada Ester agar ia menolong bukan berarti bahwa kepercayaannya terletak pada Ester dan bukan kepada Allah. Perhatikan jawabannya terhadap keengganan Ester:

Ester 4:13-14
“Jangan kira, karena engkau di dalam istana raja, hanya engkau yang akan terluput dari antara semua orang Yahudi. Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.”

Mordekhai percaya kepada Allah. Pertanyaan retorik di bagian kedua dari jawabannya kepada Ester menunjukkan bahwa ia menyadari bahwa mungkin saja Allahlah yang telah membawa Ester ke dalam kerajaan untuk masa yang sulit seperti ini. Sehingga karena itu, ia pun meminta Ester untuk menolong. Namun, ketika melihat keengganan Ester, ia pun berkata bahwa bahkan tanpa pertolongannya pun, Allah sanggup melepaskan orang Yahudi melalui “pihak lain.” Sungguh mengagumkan betapa dalamnya Mordekhai mengandalkan Allah.

Belajar dari teladannya, kita pun harus mengandalkan Allah dan bukan manusia. Yeremia 17:5-8 menyatakan apa yang akan terjadi apabila kita mengandalkan manusia dan apa yang akan terjadi apabila kita mengandalkan Allah.

Yeremia 17:5-8
“Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. Diberkatilah [berbahagialah] orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah”

Pada satu sisi, ada orang yang mengandalkan manusia dan hatinya menjauh dari Tuhan dan di sisi lain ada orang yang mengandalkan Tuhan. Yang satu akan menjadi seperti semak bulus di padang belantara dan yang lain akan menjadi seperti pohon yang ditanam di tepi air. Yang satu tinggal di padang gurun yang lain di tepi sungai, yakni di tempat yang dipenuhi kehidupan.

Kembali ke Mordekhai, jawabannya mengubah pikiran Ester:

Ester 4:15-17
“Maka Ester menyuruh menyampaikan jawab ini kepada Mordekhai: "Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku; janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang; kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati." Maka pergilah Mordekhai dan diperbuatnyalah tepat seperti yang dipesankan Ester kepadanya.”

Pada hari yang ketiga, Ester akhirnya menghadap raja. Menurut Ester 4:11, ia bisa saja dihukum mati karena menghadap raja tanpa diundang, kecuali bila raja mengulurkan tongkat emas kepadanya. Ayat ke-2 menceritakan apa yang akhirnya terjadi:

Ester 5:2
“Ketika raja melihat Ester, sang ratu, berdiri di pelataran, berkenanlah raja kepadanya, sehingga raja mengulurkan tongkat emas yang di tangannya ke arah Ester, lalu mendekatlah Ester dan menyentuh ujung tongkat itu.”

Selama sayembara, Allah telah membuat Ester memenangkan hati raja serta kedudukan ratu (Ester 2:17) karena tujuan-Nya untuk masa yang sulit ini (“justru untuk saat yang seperti ini” (Ester 4:14)). Sekarang ketika tiba waktunya bagi Ester untuk memainkan perannya, sekali lagi Allah membuatnya memenangkan hati orang yang sama sehingga Ester tidak dihukum mati karena menghadap raja tanpa diundang. Selama kunjungan ini, Ester mengundang raja dan Haman untuk menghadiri sebuah perjamuan yang ia siapkan bagi mereka siang hari itu. Dalam perjamuan itu, Ester kembali mengundang mereka ke perjamuan lain yang akan diadakan besok harinya (Ester 5:3-8). Seperti yang akan kita lihat, waktu antara satu perjamuan ke perjamuan lainnya sangatlah penting.

Ester 5-8: Kelepasan

Undangan ratu ke perjamuan pada besok harinya membuat hati Haman sangat senang (Ester 5:9) karena tentu saja merupakan kehormatan besar bisa menghadiri perjamuan bersama raja dan ratu. Namun, kegembiraannya itu berubah menjadi kemarahan ketika di pintu gerbang istana, ia melihat Mordekhai dan ia “tidak bangkit dan tidak bergerak menghormati dia” (Ester 5:9). Jelas di sini bahwa dalam keadaan segenting itu pun, Mordekhai tidak mau menyerah dan sujud kepada Haman. Ia tetap percaya kepada Allah dan Firman-Nya. Ia tetap percaya bahwa Allah sanggup membebaskannya dan bangsanya. Namun kemarahan Haman mendorongnya berbuat lebih jauh lagi. Ketika ia pulang ke rumahnya, selain kegembiraan yang ia rasakan karena undangan ratu, ia pun menceritakan kemarahannya terhadap Mordekhai kepada isteri dan sahabat-sahabatnya. Lalu, mereka mengusulkan:

Ester 5:14
“Lalu kata Zeresh, isterinya, dan semua sahabatnya kepadanya: "Suruhlah orang membuat tiang yang tingginya lima puluh hasta, dan persembahkanlah besok pagi kepada raja, supaya Mordekhai disulakan orang pada tiang itu; kemudian dapatlah engkau dengan bersukacita pergi bersama-sama dengan raja ke perjamuan itu." Hal itu dipandang baik oleh Haman, lalu ia menyuruh membuat tiang itu.”

Situasi seakan makin buruk saja bagi Mordekhai. Haman tidak mau menunggu sampai hari yang ditentukan untuk memunahkan orang Yahudi tiba. Ia ingin Mordekhai mati lebih cepat, bahkan mati besok harinya! Tampaknya, bila Allah mau melepaskan Mordekhai, Ia harus melakukannya malam hari itu juga! Dan inilah yang Dia lakukan:

Ester 6:1-3
“Pada malam itu juga raja tidak dapat tidur. Maka bertitahlah baginda membawa kitab pencatatan sejarah, lalu dibacakan di hadapan raja. Dan di situ didapati suatu catatan tentang Mordekhai, yang pernah memberitahukan bahwa Bigtan dan Teresh, dua orang sida-sida raja yang termasuk golongan penjaga pintu, telah berikhtiar membunuh raja Ahasyweros. Maka bertanyalah raja: "Kehormatan dan kebesaran apakah yang dianugerahkan kepada Mordekhai oleh sebab perkara itu?" Jawab para biduanda raja yang bertugas pada baginda: "Kepadanya tidak dianugerahkan suatu apapun.”

Beberapa waktu setelah Ester menjadi ratu, dan sebelum Haman dinaikkan jabatannya menjadi pemegang kekuasaan kedua setelah raja, Mordekhai pernah melindungi raja dari sebuah konspirasi yang direncanakan oleh dua orang penjaga pintu yang bernama Bigtan dan Teresh (Ester 2:21-23). Meskipun kejadian ini dicatat dalam kitab pencatatan sejarah, yang merupakan buku harian resmi kerajaan, tidak ada penghargaan apa pun yang diberikan kepada Mordekhai. Namun, ini bukan terjadi secara kebetulan karena melalui tidak diberikannya penghargaan, Allah justru akan memberi kelepasan kepada Mordekhai, tepat pada saat yang paling ia butuhkan. Jadi, pada malam hari yang seharusnya menjadi malam terakhir Mordekhai, “raja tidak dapat tidur”. Meskipun tidak dikatakan secara eksplisit, namun apa yang terjadi sesudahnya menunjukkan bahwa ini adalah sesuatu yang telah dirancangkan secara ilahi sehingga raja bisa tetap terjaga dan melakukan hal-hal yang selanjutnya ia lakukan4. Yang pertama raja lakukan adalah meminta buku pencatatan sejarah. Seperti yang kita tahu, buku ini berisi juga catatan tentang tindakan Mordekhai. Namun, tentu bukan hanya itu yang tercatat dalam buku ini. Sebaliknya, buku harian seperti ini pastilah memuat ratusan catatan. Namun, pada malam hari itu hanya ada satu catatan yang perlu dibaca raja dan memang itulah yang dibacakan kepadanya. Catatan itu menuliskan tentang Mordekhai dan hal baik yang ia lakukan bagi raja, yang untuknya ia belum diberi penghargaan sama sekali!! Setelah raja mendengarkan catatan ini dibacakan dan mengetahui bahwa Mordekhai belum diberi penghargaan, tebaklah apa yang terjadi? Raja memutuskan untuk memberi penghargaan kepada Mordekhai esok harinya!! Jadi pagi harinya ketika Haman tiba dan bermaksud meminta raja menggantung Mordekhai, sebuah kejutan tidak menyenangkan telah menantinya:

Esther 6:4-9
“Maka bertanyalah raja: "Siapakah itu yang ada di pelataran?" Pada waktu itu Haman baru datang di pelataran luar istana raja untuk memberitahukan kepada baginda, bahwa ia hendak menyulakan Mordekhai pada tiang yang sudah didirikannya untuk dia. Lalu jawab para biduanda raja kepada baginda: "Itulah Haman, ia berdiri di pelataran." Maka titah raja: "Suruhlah dia masuk." Setelah Haman masuk, bertanyalah raja kepadanya: "Apakah yang harus dilakukan kepada orang yang raja berkenan menghormatinya?" Kata Haman dalam hatinya: "Kepada siapa lagi raja berkenan menganugerahkan kehormatan lebih dari kepadaku?" Oleh karena itu jawab Haman kepada raja: "Mengenai orang yang raja berkenan menghormatinya, hendaklah diambil pakaian kerajaan yang biasa dipakai oleh raja sendiri, dan lagi kuda yang biasa dikendarai oleh raja sendiri dan yang diberi mahkota kerajaan di kepalanya, dan hendaklah diserahkan pakaian dan kuda itu ke tangan seorang dari antara para pembesar raja, orang-orang bangsawan, lalu hendaklah pakaian itu dikenakan kepada orang yang raja berkenan menghormatinya, kemudian hendaklah ia diarak dengan mengendarai kuda itu melalui lapangan kota sedang orang berseru-seru di depannya: Beginilah dilakukan kepada orang yang raja berkenan menghormatinya!”

Haman mengatakan semua ini, dengan pemikiran bahwa kepada dialah raja ingin memberikan penghormatan itu. TETAPI....................

Ester 6:10-12
“Maka titah raja kepada Haman: "Segera ambillah pakaian dan kuda itu, seperti yang kaukatakan itu, dan lakukanlah demikian kepada Mordekhai, orang Yahudi, yang duduk di pintu gerbang istana. Sepatah katapun janganlah kaulalaikan dari pada segala yang kaukatakan itu." Lalu Haman mengambil pakaian dan kuda itu, dan dikenakannya pakaian itu kepada Mordekhai, kemudian diaraknya Mordekhai melalui lapangan kota itu, sedang ia menyerukan di depannya: "Beginilah dilakukan kepada orang yang raja berkenan menghormatinya." Kemudian kembalilah Mordekhai ke pintu gerbang istana raja, tetapi Haman bergesa-gesa pulang ke rumahnya dengan sedih hatinya dan berselubung kepalanya.”

Ingatkah Anda bagaimana mulainya kejadian itu? Kejadiannya dimulai dengan Mordekhai berdiri di pintu gerbang istana dan BERDUKA karena rencana jahat yang Haman rencanakan melawan dia dan bangsanya. Namun, lihatlah bagaimana kejadiannya berakhir: Mordekhai, seorang yang mengandalkan Tuhan, mengendarai kuda raja serta mengenakan jubah raja, sedangkan Haman, seorang yang sampai saat itu masih pemegang kekuasaan kedua setelah raja, berseru-seru di depannya dan pulang ke rumah dengan perasaan “berduka”!! Namun, ini bukan akhir dari kisah ini. Masih ada yang terjadi selama perjamuan yang diadakan ratu. Selama perjamuan, Ester mengungkapkan kepada raja kebangsaannya juga rencana Haman untuk menghancurkan seluruh bangsanya. Ketika raja mendengar hal ini, ia menjadi sangat marah (Ester 7:7-8), dan kalau raja-raja pada zaman itu marah kepada seseorang, kecuali apabila ia memiliki Allah dalam pandangannya, kemungkinan yang akan terjadi kepada orang tersebut sungguh mengerikan! Ini pula yang terjadi pada Haman, yang akhirnya digantungkan di tiang yang dibangunnya sendiri!

Ester 7:9-10
“Sembah Harbona, salah seorang sida-sida yang di hadapan raja: "Lagipula tiang yang dibuat Haman untuk Mordekhai, orang yang menyelamatkan raja dengan pemberitahuannya itu, telah berdiri di dekat rumah Haman, lima puluh hasta tingginya." Lalu titah raja: "Sulakan dia [Haman] pada tiang itu." Kemudian Haman disulakan pada tiang yang didirikannya untuk Mordekhai. Maka surutlah panas hati raja.”

Seperti yang jelas tercatat, kejadian yang menimpa Mordekhai dan Haman pun berbalik. Haman, pemegang kekuasaan kedua setelah raja dan orang yang berencana menghancurkan seluruh bangsa Yahudi dan menggantung Mordekai, akhirnya digantung di tiang yang sama yang ia persiapkan untuk menggantung Mordekhai!! Bukan hanya itu, ayat terakhir kitab Ester (Ester 10:3) mengatakan bahwa Mordekhai, orang yang mengandalkan Tuhan, kemudian diangkat menjadi orang kedua setelah raja Ahasyweros atau menjadi pemegang kekuasaan kedua setelah raja, menggantikan tempat Haman!! Akhirnya, meskipun tanggal tiga belas bulan ke-dua belas telah ditentukan sebagai hari pemunahan orang-orang Yahudi, raja bukan saja membatalkan perintah itu, ia pun MEMBALIKKANNYA, di bawah perintah yang baru, yang isinya:

Ester 8:11-12
“raja mengizinkan orang Yahudi di tiap-tiap kota untuk berkumpul dan mempertahankan nyawanya serta memunahkan, membunuh atau membinasakan segala tentara, bahkan anak-anak dan perempuan-perempuan, dari bangsa dan daerah yang hendak menyerang mereka, dan untuk merampas harta miliknya, pada hari yang sama di segala daerah raja Ahasyweros, pada tanggal tiga belas bulan yang kedua belas, yakni bulan Adar.”

Sungguh, kita mempunyai Allah luar biasa yang sanggup melepaskan kita! Mordekhai, seorang yang mengandalkan Tuhan, memulai dalam duka cita dan terancam digantung oleh Haman namun ia mengakhirinya dengan dimuliakan oleh musuhnya, dan mengambil kedudukannya sebagai pemegang kekuasaan kedua. Senada dengan itu, orang-orang Yahudi memulai dengan “ratap tangis” (Ester 4:3) dan mengakhirinya dengan perjamuan (Ester 8:17) dan dengan dihancurkannya musuh-musuh mereka (Ester 9:1).

Sebaliknya, Haman, seorang yang mengandalkan kekuatannya sendiri, memulai dengan menjadi pemegang kekuasaan kedua, penuh kegembiraan dan siap sedia menggantung Mordekhai, tetapi mengakhirinya dengan berduka dan akhirnya digantung di tiang yang sama yang ia persiapkan untuk Mordekhai!

Kesimpulan

Sebagai akhir pembahasan singkat Kitab Ester ini, dapat kita katakan bahwa kitab ini mengajarkan pelajaran yang sama yang diajarkan di banyak bagian lain dari Firman Allah, yaitu bahwa Firman Allah adalah teguh, Firman yang tidak mungkin dapat digagalkan, sekalipun manusia dan kuasa setan berniat melakukan yang sebaliknya. Memang benar, orang-orang, seperti Mordekhai, yang mengandalkan Tuhan “tidak akan dipermalukan” (Yesaya 49:23) tetapi mereka akan seperti “pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” Jadi kesimpulannya:

Mazmur 37:3-7, 9, 11
“Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia, dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang. Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia; …….. orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri…….. orang-orang yang rendah hati akan mewarisi negeri dan bergembira karena kesejahteraan yang berlimpah-limpah.”

Anastasios Kioulachoglou

 



Catatan kaki

1. Nama ini lebih merupakan gelar (seperti Firaun, Char, dll) daripada nama seseorang, dan gelar ini artinya adalah “raja yang terhormat”. Menurut Sir Henry Rawlinson, Professor Sayce, The Encyclopaedia Britannica, dan The Century Encyclopaedia of Names (lihat: The Companion Bible, Kregel Publications, hal. 618) hal yang sama juga berlaku untuk kata “Artahsasta” (yang artinya “raja yang besar”) dan “Darius” (yang artinya “pengelola”) yang muncul beberapa kali di beberapa bagian Alkitab yang merujuk pada pembuangan ke Babel.

2. Lihat Ester 1 untuk keterangan yang lebih terperinci

3. Lebih banyak tentang Agag lihat I Samuel 15.

4. Tentu saja ini bukan berarti setiap kali saya tidak bisa tidur maka pastilah ada alasan spiritual di baliknya!