Firman Hidup
Berlangganan gratis

Efektivitas Doa (PDF) Versi PDF



Efektivitas Doa



Salah satu yang paling sering Allah bicarakan di dalam Alkitab adalah tentang doa. Dalam 1 Tesalonika 5:17 kita membaca:

I Tesalonika 5:17
“Tetaplah berdoa.”

Selain itu, Kolose 4:2 menasihatkan agar kita:
“Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur.”

Juga I Petrus 4:7 berkata:
“kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.”

Dan diulangi dalam Roma 12:12:
“bertekunlah dalam doa!”

Selain ayat-ayat di atas – dan masih banyak ayat-ayat lain1 – yang menasihatkan kepada kita untuk berdoa, bahkan untuk berdoa dengan tekun dan tiada henti-hentinya, ada juga ayat-ayat yang menunjukkan tentang efektivitas doa melalui berbagai contoh dari orang-orang yang berdoa dan bagian Firman Tuhan inilah yang akan kita selidiki dalam artikel ini, dimulai dari Kisah Para Rasul 12.

1. Kisah Para Rasul 12:1-16

Dimulai dari Kisah Para Rasul 12:1-5a kita membaca:

Kisah Para Rasul 12:1-5a
“Kira-kira pada waktu itu raja Herodes mulai bertindak dengan keras terhadap beberapa orang dari jemaat. Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang. Ketika ia melihat, bahwa hal itu menyenangkan hati orang Yahudi, ia melanjutkan perbuatannya itu dan menyuruh menahan Petrus. Waktu itu hari raya Roti Tidak Beragi. Setelah Petrus ditangkap, Herodes menyuruh memenjarakannya di bawah penjagaan empat regu, masing-masing terdiri dari empat prajurit. Maksudnya ialah, supaya sehabis Paskah ia menghadapkannya ke depan orang banyak.

Mengenai Herodes yang diceritakan dalam bagian ini, ia adalah cucu dari Herodes yang berencana membunuh Yesus yang ketika itu masih bayi (Matius 2) dan yang “menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah” (Matius 2:16). Ia juga adalah keponakan Herodes “Raja Wilayah” yang memenggal kepada Yohanes Pembaptis dan yang “menista dan mengolok-olokkan Dia [Yesus], ia mengenakan jubah kebesaran kepada-Nya [dengan maksud semakin mengolok-olok Dia]” (Lukas 23:11) sebelum penyaliban-Nya. Tampaknya, ia mewarisi semua sifat jahat kakek dan pamannya karena setelah membunuh Yakobus, salah seorang dari kedua belas murid dan dilihatnya bahwa hal itu menyenangkan hati orang Yahudi, ia pun menangkap Petrus, dengan maksud menghadapkannya ke depan orang banyak, dan tentu saja, kemudian membunuhnya juga. Namun, apa yang terjadi benar-benar di luar perkiraannya, karena ayat ke-5 mengatakan kepada kita:

Kisah Para Rasul 12:5
“Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. TETAPI jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.”

Raja menyuruh banyak prajurit untuk menjaga Petrus. Ia berpikir dengan penjagaan seketat itu mustahil bagi Petrus untuk melarikan diri. Namun, Herodes tidak memperhitungkan bahwa meski Petrus berada di dalam penjara, jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah. Herodes tidak dapat menghentikan ini, yang berarti pula ia tidak mampu menghentikan Allah dari mengabulkan doa mereka. Lihatlah apa yang kemudian terjadi:

Kisah Para Rasul 12:6
“Pada malam sebelum Herodes hendak menghadapkannya kepada orang banyak, Petrus tidur di antara dua orang prajurit, terbelenggu dengan dua rantai. Selain itu prajurit-prajurit pengawal sedang berkawal di muka pintu. Tiba-tiba, berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu.”

Agar Petrus tidak melarikan diri, Herodes melakukan pengawalan yang sangat ketat terhadapnya. Dua pengawal masing-masing berada di sebelah kanan dan di sebelah kirinya dan Petrus berada di antara mereka dengan rantai yang diikatkan antara dia dengan kedua pengawal itu. Jadi, ke mana pun Petrus bergerak, kedua pengawal itu juga harus ikut bergerak bersamanya! Seakan itu belum cukup, dua pengawal lain berjaga-jaga di depan pintu! Namun, kekuatan militer Herodes yang demikian kuat tidak ada artinya dibandingkan dengan Allah dan kuasa-NYA. Karena lihatlah apa yang Allah lakukan:

Kisah Para Rasul 12:7-11
“Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam ruang itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya: "Bangunlah segera!" Maka gugurlah rantai itu dari tangan Petrus. Lalu kata malaikat itu kepadanya: "Ikatlah pinggangmu dan kenakanlah sepatumu!" Iapun berbuat demikian. Lalu malaikat itu berkata kepadanya: "Kenakanlah jubahmu dan ikutlah aku!" Lalu ia mengikuti malaikat itu ke luar dan ia tidak tahu, bahwa apa yang dilakukan malaikat itu sungguh-sungguh terjadi, sangkanya ia melihat suatu penglihatan. Setelah mereka melalui tempat kawal pertama dan tempat kawal kedua, sampailah mereka ke pintu gerbang besi yang menuju ke kota. Pintu itu terbuka dengan sendirinya bagi mereka. Sesudah tiba di luar, mereka berjalan sampai ke ujung jalan, dan tiba-tiba malaikat itu meninggalkan dia. Dan setelah sadar akan dirinya, Petrus berkata: "Sekarang tahulah aku benar-benar bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes dan dari segala sesuatu yang diharapkan orang Yahudi."

Banyak orang berpikir bahwa ketika semua ini terjadi, pastilah para pengawal itu tertidur. Tetapi, apakah ada ayat Alkitab yang mengatakan demikian? Tidak ada! Sebaliknya, Alkitab mengatakan bahwa Petruslah yang tertidur – di antara kedua pengawal – dan pengawal-pengawal lain “sedang berkawal di depan pintu”. Tentang pengawal yang berkawal di depan pintu itu, menurut Anda apakah Alkitab akan mengatakan mereka ‘sedang berkawal’, apabila mereka sebenarnya sedang tertidur? Saya rasa tidak, karena pengawalan seperti apa kalau mereka sampai tertidur. Saya tidak tahu bagaimana Allah melakukannya, tetapi yang saya tahu pasti: Allah melakukannya dan Ia membebaskan Petrus “dari tangan Herodes dan dari segala sesuatu yang diharapkan orang Yahudi”. Namun, jangan kita lupa apa yang menyebabkan hal ini terjadi dan ini diberikan dalam ayat ke-5:

Kisah Para Rasul 12:5
“Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. TETAPI jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.

Perhatikan kata “tetapi” di sana. Kata tersebut mengatakan kepada kita senjata apa yang dipakai jemaat untuk menghadapi kenyataan bahwa Petrus sedang ditahan dalam penjara. Senjata mereka adalah doa. Jemaat dengan tekun berdoa dan Allah menjawab doa mereka dengan melakukan apa yang mustahil, yaitu mengalahkan Herodes dan kuasanya, serta membebaskan Petrus dari penderitaannya.

2. 2 Raja-Raja 6:11-22

Contoh di atas bukan satu-satunya contoh di mana kita melihat Allah secara luar biasa membebaskan umat-Nya sebagai respons-Nya terhadap doa mereka. Contoh lain yang senada terdapat dalam 2 Raja-raja 6. Di sana kita membaca tentang Elisa, seorang abdi Allah yang melaluinya Allah mengungkapkan rencana-rencana raja Aram kepada raja Israel. Karena hal ini, raja Aram merasa sangat marah dan ia pun mengadakan pertemuan untuk membicarakannya. Ayat 11-12 mengatakan:

2 Raja-raja 6:11-12
“Lalu mengamuklah hati raja Aram tentang hal itu, maka dipanggilnyalah pegawai-pegawainya, katanya kepada mereka: "Tidakkah dapat kamu memberitahukan kepadaku siapa dari kita memihak kepada raja Israel?" Tetapi berkatalah salah seorang pegawainya: "Tidak tuanku raja, melainkan Elisa, nabi yang di Israel, dialah yang memberitahukan kepada raja Israel tentang perkataan yang diucapkan oleh tuanku di kamar tidurmu.”

Apa pun yang dikatakan dan direncanakan oleh raja Aram diberitahukan Allah kepada Elisa. Kemudian Elisa memberitahukannya kepada raja Israel. Selanjutnya, ayat ke-13-15 menceritakan:

2 Raja-raja 6:13-14
“Berkatalah raja: "Pergilah melihat, di mana dia, supaya aku menyuruh orang menangkap dia." Lalu diberitahukanlah kepadanya: "Dia ada di Dotan." Maka dikirimnyalah ke sana kuda serta kereta dan tentara yang besar. Sampailah mereka pada waktu malam, lalu mengepung kota itu.”

Perhatikan pola berpikir yang sama antara raja ini dengan raja Herodes: keduanya mencoba menangkap dan melukai abdi Allah dengan menggunakan kekuatan militer. Raja Aram mengirimkan “kuda serta kereta dan tentara yang besar” untuk menangkap Elisa, sementara Herodes mengerahkan enam belas orang untuk mengawal Petrus. Baik Herodes maupun raja Aram berpikir bahwa mereka telah mengerahkan segala cara yang akan memastikan keberhasilan rencana mereka. Namun, keduanya tidak memperhitungkan Allah serta cara-Nya sehingga rencana mereka pun gagal total. Kita telah melihat di bagian sebelumnya apa yang terjadi dengan rencana Herodes dan kita akan melihat hal yang sama terjadi dengan rencana raja Aram. Ayat 15-16 berkata:

2 Raja-raja 6:15-16
“Ketika pelayan abdi Allah bangun pagi-pagi dan pergi ke luar, maka tampaklah suatu tentara dengan kuda dan kereta ada di sekeliling kota itu. Lalu berkatalah bujangnya itu kepadanya: "Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?" Jawabnya: "Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka."

Tanggapan Elisa atas perkataan bujangnya menunjukkan entah bujang itu punya masalah dengan penglihatannya sehingga ia tidak dapat melihat siapa yang menyertai mereka atau Elisa yang salah melihat. Kita akan melihat bahwa masalahnya ada pada penglihatan si bujang. Bukan karena ia punya masalah dengan penglihatan jasmaninya, tetapi karena ia hanya menggunakan penglihatan jasmaninya. Padahal, itu bukan satu-satunya penglihatan yang dapat dimiliki seseorang. Selain gambaran situasi secara jasmaniah, ada gambaran spiritual yang apabila diabaikan dapat menghasilkan kesimpulan yang tidak dapat diandalkan. Tampaknya, bujang itu telah mengabaikan dimensi spiritual ini sehingga penglihatan spiritualnya perlu dibukakan. Ayat ke-17 menceritakan bagaimana hal ini dapat terjadi:

2 Raja-raja 6:17
“Lalu berdoalah Elisa: "Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat." Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa.”

Elisa berdoa dan Tuhan menjawab doanya, dengan melakukan apa yang dimintanya dan membukakan mata bujang itu sehingga ia pun bisa memiliki pandangan spiritual atas situasi di sekeliling mereka. Tetapi, masih ada hal lain yang harus dilakukan dalam menangani orang-orang Aram itu. Kita perhatikan di bagian lebih awal dari pasal ini bahwa kepada raja Aram telah diberitahukan tentang perbuatan Elisa dan di mana tepatnya keberadaan Elisa saat itu. Oleh karenanya, tentara Aram tentu tahu dengan pasti siapa yang mereka cari. Lalu, bagaimanakah cara Elisa menghadapi ini? Ayat 18-20 memberitahukannya kepada kita:

2 Raja-raja 6:18-20
“Ketika orang-orang Aram itu turun mendatangi dia, berdoalah Elisa kepada TUHAN: "Butakanlah kiranya mata orang-orang ini." Maka dibutakan-Nyalah mata mereka, sesuai dengan doa Elisa. Kemudian berkatalah Elisa kepada mereka: "Bukan ini jalannya dan bukan ini kotanya. Ikutlah aku, maka aku akan mengantarkan kamu kepada orang yang kamu cari." Lalu diantarkannya mereka ke Samaria. Segera sesudah mereka sampai ke Samaria berkatalah Elisa: "Ya TUHAN, bukalah mata orang-orang ini, supaya mereka melihat." Lalu TUHAN membuka mata mereka, sehingga mereka melihat, dan heran, mereka ada di tengah-tengah Samaria.”

Karena dikatakan bahwa Allah bukan hanya membuka mata mereka untuk melihat apa yang tidak dilihat oleh mata rohani dan mata jasmani mereka, berarti Dia pun menutup mata mereka sehingga mereka tidak bisa melihat apa yang seharusnya bisa dilihat mata jasmani mereka! Orang-orang Aram itu tahu dengan pasti siapa yang mereka cari. Elisa ada di depan mata mereka, tetapi mereka tidak bisa melihatnya!! Bukan hanya itu, mereka bahkan diantar oleh Elisa ke Samaria, ibu kota musuh mereka! Bagaimana hal seperti ini dapat terjadi? Karena Elisa berdoa dan Allah membutakan mata mereka. Mata mereka kemudian dibukakan kembali setelah mereka sampai di Samaria dan itu terjadi hanya setelah Elisa mendoakannya! Ayat 21-23 menceritakan apa yang terjadi setelah mereka jatuh ke tangan raja Israel.

2 Raja-raja 6:21-24
“Lalu bertanyalah raja Israel kepada Elisa, tatkala melihat mereka: "Kubunuhkah mereka, bapak?" Tetapi jawabnya: "Jangan! Biasakah kaubunuh yang kautawan dengan pedangmu dan dengan panahmu? Tetapi hidangkanlah makanan dan minuman di depan mereka, supaya mereka makan dan minum, lalu pulang kepada tuan mereka." Disediakannyalah bagi mereka jamuan yang besar, maka makan dan minumlah mereka. Sesudah itu dibiarkannyalah mereka pulang kepada tuan mereka. Sejak itu tidak ada lagi gerombolan-gerombolan Aram memasuki negeri Israel.”

Jadi ringkasnya: sepasukan besar tentara datang untuk menangkap Elisa. Respons Elisa setelah menilai keadaan yang terjadi secara spiritual: ia pun berdoa dan Allah membutakan mata mereka. Kemudian, setelah Elisa memimpin mereka ke Samaria, ibu kota Israel, kembali ia berdoa dan Tuhan membukakan mata mereka sehingga mereka dapat melihat ada di mana mereka. Siapakah yang melakukan hal-hal besar ini? Allah. Bagaimanakah sehingga Allah melakukan hal-hal ini? Karena doa Elisa. Itulah sebabnya Firman Allah mengatakan: “Elisa BERDOA dan ALLAH….” bertindak dengan mengabulkan doanya.

3. Lebih Banyak contoh tentang doa-doa yang dijawab

Kasus-kasus di atas bukan satu-satunya yang menggambarkan tentang doa yang efektif.

3.1 Samuel dan Yohanes Pembaptis

Samuel, seorang abdi Allah yang besar adalah jawaban dari doa ibunya. Sebagaimana 1 Samuel 1:10-11 katakan kepada kita:

I Samuel 1:10-11
“Dan dengan hati pedih ia [Hana, ibu Samuel] berdoa kepada TUHAN sambil menangis tersedu-sedu. Kemudian bernazarlah ia, katanya: "TUHAN semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada TUHAN untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya.”

Hana sangat menderita. Apa yang ia lakukan? Ia berdoa, sama seperti yang dinasihatkan kepada kita dalam Yakobus 5:13 manakala kita mengalami hal yang sama. Dalam ayat itu kita membaca:

Yakobus 5:13
“Kalau ada seorang di antara kamu yang menderita, baiklah ia berdoa!”

Hati Hana sangat pedih, ia berdoa dan di ayat ke-20 pasal yang sama kita dapat melihat hasil dari doanya:

I Samuel 1:20
“Maka setahun kemudian mengandunglah Hana dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamai anak itu Samuel2, sebab katanya: "Aku telah memintanya dari pada TUHAN."

Samuel diminta dari Tuhan. Namanya sendiri menyatakan bahwa ia adalah sebuah jawaban doa.

Namun, ia bukan satu-satunya anak yang merupakan jawaban sebuah doa. Hal yang sama terjadi dengan Yohanes Pembaptis. Ketika, malaikat Tuhan menampakkan diri kepada Zakharia, ayah dari Yohanes, ia berkata kepadanya:

Lukas 1:13
“Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes.”

Kelahiran Yohanes Pembaptis adalah jawaban dari doa Zakharia, ayah Yohanes – dan tentu saja pemenuhan dari nubuatan tentang kedatangannya sebagai pendahulu kedatangan Tuhan Yesus Kristus (Maleakhi 4:5-6, Lukas 1:15-17) – sama seperti kelahiran Samuel, yang merupakan jawaban dari doa ibunya.

3.2 Kasus Kornelius

Lebih jauh lagi, kita semua mungkin mengenal Kornelius, seorang perwira non-Yahudi, yang di rumahnya untuk pertama kalinya dikonfirmasikan bahwa, “kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup” (Kisah Para Rasul 11:18). Namun, tahukah Anda bagaimana hal ini dapat terjadi dan bagaimana Petrus bisa datang ke rumahnya untuk mengabarkan Firman Allah kepadanya? Kisah Para Rasul 10:3-6 mengatakannya kepada kita:

Kisah Para Rasul 10:3-6
“Dalam suatu penglihatan, kira-kira jam tiga petang, jelas tampak kepadanya [Kornelius] seorang malaikat Allah masuk ke rumahnya dan berkata kepadanya: "Kornelius!” Ia menatap malaikat itu dan dengan takut ia berkata: "Ada apa, Tuhan?" Jawab malaikat itu: "Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat engkau. Dan sekarang, suruhlah beberapa orang ke Yope untuk menjemput seorang yang bernama Simon dan yang disebut Petrus…….”

Petrus tidak pergi begitu saja. Sebelumnya, ia telah mendapat penglihatan tentang hal itu (Kisah Para Rasul 10:9-20), sehingga ia pun menanggapi undangan perwira tersebut secara positif. Namun, perhatikanlah apa yang malaikat katakan kepada Kornelius ketika ia menampakkan diri kepadanya: “Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat engkau.” Doa Kornelius didengar oleh Allah. Sebagai hasilnya ia disuruh untuk menjemput Petrus, yang akan—sesuai dengan yang malaikat katakan kepadanya—“menyampaikan suatu berita kepada kamu, yang akan mendatangkan keselamatan bagimu dan bagi seluruh isi rumahmu” (Kisah Para Rasul 11:4). Dan, sungguh luar biasa, tatkala Petrus berbicara kepada “banyak orang (yang) sedang berkumpul” (Kisah Para Rasul 10:27) di rumah Kornelius, “turunlah Roh Kudus ke atas semua orang yang mendengarkan pemberitaan itu, ……. sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah” (Kisah Para Rasul 10:44, 46). Kornelius berdoa, Allah menjawab, banyak orang diselamatkan, dan Roh Kudus dimanifestasikan pada saat itu melalui bahasa roh.

3.3 Kisah Para Rasul 4:24-31

Masih dalam Kisah Para Rasul, contoh lain tentang kuasa doa terdapat dalam Pasal 4 ayat ke-24-31. Petrus dan Yohanes baru saja dilepaskan dari penjara, karena mereka mengajarkan kepada orang banyak tentang kebangkitan (Kisah Para Rasul 4:2), dan melakukan mukjizat dalam nama Yesus (Kisah Para Rasul 3:1-7). Setelah dibebaskan mereka menemui orang-orang percaya dan menceritakan kepada mereka semua yang terjadi. Apa yang kemudian dilakukan para murid? Mereka berdoa. Sungguh, demikianlah dikatakan dalam ayat 24, 29-30:

Kisah Para Rasul 4:24, 29-30
“Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu, berserulah mereka bersama-sama kepada Allah, katanya: "Ya Tuhan, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya……Dan sekarang, ya Tuhan, lihatlah bagaimana mereka mengancam kami dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian untuk memberitakan firman-Mu. Ulurkanlah tangan-Mu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda-tanda dan mujizat-mujizat oleh nama Yesus, Hamba-Mu yang kudus.”

Mereka berdoa agar diberi keberanian untuk melakukan apa yang justru meresahkan para penguasa (Kisah Para Rasul 4:18), yaitu untuk memberitakan firman-Nya dengan berani dan mengadakan tanda-tanda serta mukjizat dalam nama Yesus. Apa jawaban atas doa mereka? Ayat ke-31 menceritakannya kepada kita:

Kisah Para Rasul 4:31
“Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani.”

Mereka berdoa agar diberi keberanian untuk memberitakan firman Allah. Dan, apa yang terjadi? Mereka pun memberitakan Firman Allah dengan berani!

4. Kesimpulan

Jadi kesimpulannya: dalam artikel ini kita menyelidiki tentang efektivitas doa seperti yang ditunjukkan melalui berbagai catatan di dalam Firman Tuhan. Dalam semua kasus di atas kita melihat betapa luar biasanya Allah digerakkan, dengan menjawab doa-doa umat-Nya dan memenuhi kebutuhan mereka. Tentu saja, ini bukan sesuatu yang hanya terjadi pada zaman dahulu. Di zaman sekarang pun Allah digerakkan dengan cara yang sama, Ia dengan berkelimpahan dan penuh kebijaksanaan mengabulkan segala sesuatu yang kita minta kepada-Nya dalam doa, yang sesuai dengan kehendak-Nya. Sebagaimana 1 Yohanes 5:14 katakan kepada kita:

I Yohanes 5:14
“Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.”

Allah mengabulkan doa kita jikalau kita meminta kepada-Nya. Sebagaimana Amsal 15:8 katakan kepada kita, bahwa doa kita “dikenan-Nya”. Dia menantikan doa kita, berkenan atas doa kita, dan mengabulkan doa kita, tentu saja, jikalau doa itu sesuai dengan kehendak-Nya. Bila syarat ini dipenuhi, maka tak ada yang dapat menghentikan-Nya untuk mengabulkan doa kita, apa pun yang terjadi.

Anastasios Kioulachoglou

 



Catatan kaki

1. Kata “doa” atau “berdoa”, muncul ratusan kali di dalam Alkitab.

2. Arti nama Samuel adalah “Didengar oleh Tuhan”.